Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Akhirnya Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Siang nan cerah, matahari bersinar sangat terik. Sesekali Andra menyeka keringat di keningnya sambil menaburkan bunga di atas makam Ayahnya. Amel berdiri dengan tongkatnya di sebelah Andra.


"Sudah satu tahun Ayah meninggalkanku... sudah selama itu aku masih belum bisa mewujudkan semua harapan ayah terhadapku." Andra tak bisa menahan bulir air matanya yang menetes saat mengingat kenangan akan ayahnya.


"Ayahmu pasti selalu mendukungmu dari sana Ndra...., kau sudah melakukan semua hal terbaik selama ini. Om Joddy ..emm.... maksudku Ayah...pasti bangga sama kamu...!" Amel mengusap punggung Andra yang nampak sedih mengenang almarhum Ayahnya.


"Sudah setahun Ayah meninggal, artinya pernikahan kita juga sudah hampir satu tahun Mel...."


Andra berdiri dan memegang pundak Amel. Pandangan mereka beradu tapi hanya ada senyum penuh arti di bibir keduanya.


Andra memapah Amel berjalan meninggalkan area pemakaman dan menuju mobil.


"Habis ini kita kemana?" Andra memberi kode kalau ia ingin mengajak Amel sekedar berjalan jalan menghabiskan sisa waktu hari itu.


"Aku lapar Mel.. kita belum makan siang, bagaimana kalau kita cari makanan dulu?"


"Boleh...!" Amel tersenyum senang. Semenjak kecelakaan itu Andra memang tidak pernah membawanya jalan jalan, hanya keluar bersama saat harus check up ke dokter dan pergi untuk physiotherapy.


"Aku pengen makan dimsum Ndra... sudah lama aku tidak makan itu!"


"Tapi aku nggak tahu dimsum yang enak dan halal disini dimana ya?" Andra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jalan aja dulu.. tak jauh dari sini ada restoran masakan China, disana ada banyak jenis dimsum dan semuanya enak"


Andra menjalankan mobilnya menuju jalan utama dan berhenti di sebuah Chinese Food Restaurant yang terletak bersebelahan dengan sebuah lapangan sepak bola.


Mereka lalu mengambil tempat duduk yang menghadap ke pusat kota dari sana mereka bisa melihat Gedung Prima Go yang berdiri megah di antara banyak gedung gedung lainnya.


Amel mulai memesan beberapa jenis dimsum, Andra hanya memperhatikannya dan tidak ikut memesan.


"Kamu mau yang mana Ndra?" Amel menyodorkan daftar menu.


"Aku ngikut kamu aja Mel"


Tak lama menunggu, pelayan restoran sudah menghidangkan dimsum dalam keranjang kukus sesuai yang dipesan Amel. Andra yang kelaparan segera melahap hidangannya.


"Gimana Ndra,.. enak tidak?" Amel mengunyah makanannya perlahan sambil memperhatikan Andra yang makan dengan lahap. Andra hanya mengangguk sambil menyeruput teh hijau panas dari cangkir kecil di hadapannya.


"Kamu coba yang ini. Ini enak banget." Amel mengarahkan sumpitnya yang berisi lumpia ke bibir Andra dan menyuapinya.


Tak menolak, Andra pun langsung melahapnya dengan cepat sambil menuangkan kembali teh hijau dari pot teh ke cangkirnya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Andra membawa Amel ke sebuah cafe dan makan es krim disana. Tidak ada obrolan yang terlalu serius diantara mereka, hanya mengisi waktu dan hendak pulang ketika hari menjelang sore.


Dalam perjalanan pulang Andra nampak gelisah, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, kepalanya terasa pening dan pandangannya berkunang.


Amel yang menyadari itu seketika panik dan beberapa kali menyeka keringat di wajah Andra menggunakan tisu.


"Andra kamu kenapa?"


"Nggak tahu Mel... tiba tiba kepalaku pusing."


"Kamu yakin masih bisa nyetir Ndra?, atau kita ke rumah sakit aja, aku takut kamu kenapa napa!"


"Nggak apa apa Mel, rumah kita sudah dekat, sedikit lagi aku masih bisa tahan". Andra meringis merasakan kepalanya yang semakin pusing.


"Ya ampun Ndra.... itu kenapa kulitmu jadi ada bercak bercak merah gitu?" Amel semakin cemas melihat di tangan Andra muncul banyak bentol merah.

__ADS_1


Begitu sampai, Andra memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil itu tanpa mempedulikan Amel dan langsung berlari menuju kamarnya.


"Uueeekkkk........!" Andra masuk ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Den Andra kenapa Non?" Nur yang melihat hal itu juga nampak khawatir.


"Nggak tahu Bi.. tiba tiba dia pusing dan sekarang kulitnya ada merah merah gitu."


"Den Andra sama Non Amel makan apa tadi?, Den Andra dari kecil alergi sama kepiting Non, dulu dia pernah sampai di rawat di rumah sakit gara gara salah makan kepiting"


"Hah... Andra alergi kepiting Bi?... Aduh tadi kami makan dimsum, pasti itu ada kepitingnya."


Amel menepuk jidatnya sendiri menyesali apa yang sudah dimakan bersama Andra tadi.


"Bi Nur tolong bawakan air hangat ke kamar buat kompres, aku akan telepon dokter!" Dengan tertatih Amel melangkah ke kamarnya sambil menelepon dokter.


Sampai di kamar Amel mendapati Andra terduduk lemas di sofa dan wajahnya yang pucat pasi.


"Andra maafkan aku...aku nggak tahu kalau kamu alergi sama kepiting" Amel ikut duduk di sebelah Andra sambil mengusap keringat dingin yang terus membasahi wajah Andra.


"Aku sudah panggil dokter, sebentar lagi sampai"


"Ini air panasnya Non!" Nur masuk ke kamarnya dan meletakkan wadah berisi air panas dan handuk kecil di atas meja.


"Bibi keluar sebentar ya Non mau beli kelapa hijau buat Den Andra. Kata orang minum air kelapa bisa meredakan gejala alergi."


Amel menempelkan handuk hangat di kening Andra yang makin terlihat pucat.


Andra kembali bangun dari tempat duduknya menuju kamar mandi dan terdengar lagi dia memuntahkan sisa isi perutnya. Kali ini Andra terdiam cukup lama di dalam kamar mandi karena sudah merasa lemas, Amel menunggunya di pintu kamar mandi penuh kecemasan.


Andra keluar dari kamar mandi dengan langkah terhuyung, Amel lalu memapahnya dan membawa Andra ke tempat tidur, Andra sudah tidak mampu menahan pusing di kepalanya lalu ia ambruk di atas tempat tidur.


"Dokter sudah datang Non..!" Terdengar suara Nur masuk bersama seorang dokter.


Dokter lalu memeriksa tekanan darah Andra yang sudah terbaring lemah di atas kasur. "Tekanan darahnya masih normal hanya saja demamnya cukup tinggi. Saya akan kasih suntikan antihistamin untuk meredakan alerginya." Dokter memberi suntikan dan mempersiapkan obat obatan.


"Saya sudah siapkan salep untuk meredakan gatal dan kemerahan di kulit Pak Andra, ini paracetamol untuk menurunkan demam, diminum setiap 4 jam sekali dan kalau suhu tubuhnya sudah normal, obat yang ini di stop saja, ini ondansetron obat penghilang mual dan muntah diminum 3 kali sehari." Dokter menyerahkan beberapa strip obat.


"Untuk sementara obat obat ini akan membantu mengurangi gejala alergi nya, kalau ada gejala lebih serius, sebaiknya Pak Andra segera dibawa ke rumah sakit!,"


"Mbak Amel silahkan hubungi saya lagi kalau dibutuhkan!"


"Terimakasih ya Dok..!" Amel menjgantarkan dokter itu sampai di pintu kamarnya.


"Andra aku akan oleskan salep di kulitmu, pasti ini gatal sekali ya? Cepat buka bajumu Ndra....!" Andra perlahan melepaskan kemeja yang dikenakannya dan bertelanjang dada, lalu Amel mulai mengoleskan salep di sekujur tubuh Andra yang mulai memerah.


Belum selesai ia mengoleskan salep, Andra sudah tertidur karena pengaruh antihistamin yang masuk ke tubuhnya.


Amel menyentuh dada bidang serta lengan kekar Andra, dia bisa merasakan demamnya sudah mulai turun.


"Andra kamu gagah sekali..." Amel bergumam, ia sangat kagum memandang sosok di hadapannya, hatinya berdebar tidak teratur.


"Cepat sembuh ya Ndra.... Aku mencintaimu Andra...!" Amel berbisik lirih lalu membenamkan kepalanya di dada Andra yang masih tertidur pulas. Amel menikmati setiap irama nafas dan detak jantung Andra seraya melayangkan sejuta khayalan.


"Amel..." Andra membuka matanya lalu mengusap lembut kepala Amel yang menindih dadanya.


"Kau sudah bangun Ndra...?" Amel terperanjat sentuhan Andra membuyarkan khayalannya. Buru buru ia mengangkat kepalanya dari dada Andra.

__ADS_1


"Aaa...Aku....aku....mengkhawatirkanmu Andra...tadi kau demam tinggi dan aku takut sekali....maafkan kalau aku membuat dadamu sesak!" Amel berusaha mencari alasan menyembunyikan rasa gugupnya.


"Apa sekarang sudah enakan Ndra?" Amel meletakkan tangannya di kening Andra memastikan lagi kalau suhu badannya sudah turun.


"Hanya sedikit pusing".  Andra memegang kepalanya.


"Sudah malam, kau juga harus tidur kan Mel.?!...aku akan tidur di sofa". Andra berusaha bangun dari ranjang dan menuju sofa.


"Kalau masih pusing kamu jangan tidur di sofa Ndra, pasti tidak akan nyaman disana". Amel menarik tangan Andra membujuknya agar tidur di ranjang.


"Lalu kalau aku tidur disini kau tidur dimana Mel, kakimu juga masih sakit?" Andra menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Disini juga sama kamu Ndra!". Amel tersenyum terkekeh.


"Memangnya boleh?" Andra menatap Amel tak percaya.


"Kalau kamu mau kenapa tidak?"


"Baiklah kalau kamu memaksa, dan percayalah aku tidak akan berbuat macam macam kok Mel..." Andra kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan Amel juga ikut berbaring di sebelahnya.


Tak sepatah katapun terucap lagi dari bibir mereka hingga akhirnya keduanya sama sama terlelap.


Andra membuka matanya dan melirik ke arah jam dinding. "Rupanya sudah jam 8.. dan Amel tidak membangunkanku.!...".


Andra bergegas bangun dari tempat tidurnya namun merasakan pusing di kepalanya belum reda juga. Andra meringis dan kembali duduk bersandar di tepi tempat tidur.


"Jangan bangun dulu kalau masih pusing Ndra..!" Amel masuk diiringi suara tongkatnya yang bersentuhan dengan lantai.


Nur juga masuk membawakan sarapan untuk mereka berdua lalu meletakkan nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu di atas meja.


"Aku harus ke kantor Mel.. hari ini ada rapat dengan para investor. Tapi sudah jam segini aku pasti terlambat". Andra meraih ponselnya dari meja nakas. Andra mengucek matanya dan terkejut ketika melihat aplikasi pengingat di ponselnya. "Semua meeting hari ini ditunda?!... Ahh...untuk apa Yogi melakukan semua ini??"


"Andra maafkan aku.. tadi aku yang menelepon Yogi dan minta dia membatalkan semua meeting mu hari ini, kalau kau masih sakit bagaimana mau ke kantor?" Amel duduk di sebelah Andra sambil membawa piring nasi gorengnya. "Sarapan dulu Ndra...setelah itu kau harus minum obat!" Amel mulai menyendok nasi goreng dan menyuapi Andra.


"Makasih banyak Mel...kau sangat peduli denganku!" Andra tersenyum sambil perlahan mengunyah makanan di mulutnya.


"Sudah dari lama aku peduli sama kamu Ndra.. kamu aja yang nggak peka!" Amel tersenyum lalu kembali menyuapi Andra.


"Masa iya aku nggak peka Mel?". Andra menggenggam tangan Amel dan didekapnya jari jari Amel di dadanya. Hati Amel berdebar sangat hebat, tatapan Andra membuat jantungnya berdetak sangat cepat.


"Mel.... coba kau rasakan debaran jantungku!" Andra mendekatkan wajahnya ke Amel sambil terus menggengam tangan Amel di dadanya.


"Mel... aku mau bicara jujur sama kamu..... aku.... aku... jatuh cinta kepadamu Mel" Andra mencium punggung tangan Amel dengan lembut dan menepelkannya di pipinya. Dia sudah tidak mampu menahan semua perasaannya, egonya seketika hancur saat menatap mata Amel.


Amel menundukkan kepalanya menghindari tatapan Andra, keangkuhan hatinya luruh oleh perlakuan lembut Andra. Matanya mulai berkaca tak kuasa menahan haru. Perasaanya terbalas begitu manis mendengar ungkapan cinta dari Andra.


"Aku juga mencintaimu Andra..!" Air mata kebahagiaan menetes di pipi Amel.


Andra mengangkat dagu Amel dengan dua jarinya lalu mengusap air mata Amel dan memberi kecupan lembut di kening Amel.


Sesaat mereka sama sama hanyut dalam perasaannya. Senyum kebahagiaan tersirat jelas di bibir mereka, setelah hampir setahun hidup bersama baru sekarang rasa mereka berpadu.


"Andra habiskan dulu sarapanmu!" Amel terkekeh saat menyadari piring nasi goreng masih di tangannya, lalu Amel kembali menyuapi Andra.


"Kamu juga harus makan sayang... aku akan menyuapimu juga" Andra merebut sendok dari tangan Amel dan giliran dia yang menyuapi Amel.


Hati Amel semakin berdebar saat mendengar Andra memangilnya dengan sebutan sayang.

__ADS_1


__ADS_2