Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Pilar Jaya Anugerah


__ADS_3

Di ruangan kantor Presiden Direktur PJA Contractor.


Pramana berdiri dengan kepala tertunduk tak berani menatap wajah murka seorang pria dihadapannya.


Cletakk.....!


Rizal melemparkan sebuah flash disk ke lantai ruangan itu. Perlahan sepatunya menginjak kasar flash disk yang sebelumnya diserahkan oleh Pramana itu sehingga hancur berkeping keping. Wajahnya tampak begitu gusar. Kemarahan terlihat jelas di sorot matanya. Flash disk itu berisikan presentasi untuk tender proyek pemerintahan yang sebelumnya dibawakan oleh Pramana pada saat tender.


"Pram.....kau itu memang sangat payah, beraninya kau kembali sebagai seorang pecundang!!" Kita sudah bertahun tahun bekerjasama dengan kementerian, tapi kali ini aku sangat kecewa padamu!" Rizal mengarahkan telunjuknya ke wajah Pramana yang juga terlihat sangat kesal.


"Maafkan aku Pa..., tapi kita belum tentu kalah... kita masih punya waktu satu bulan sebelum penetapan pemenang tender itu!" Pram berusaha membela dirinya dari kemarahan Rizal.


"Satu bulan katamu?!" Rizal yang semakin marah lalu mencengkram pundak Pram sambil menatapnya dengan matanya yang mulai memerah tak bisa lagi menahan kemarahannya.


"Baru permulaan kau sudah kalah Pram....! Sebulan ini tidak akan ada artinya, kita sudah tidak bisa melakukan apa apa lagi!" Rizal yang marah lalu mendorong Pram hingga tersungkur ke lantai.


Pram berusaha bangun dan kembali mencoba berbicara kepada Rizal.


"Pa..aku mohon kali ini percayakan semuanya padaku, kasih aku kesempatan sekali lagi, aku pasti bisa mengembalikan kemenangan kita. Andra itu bukan siapa siapa.... dia hanya pemilik perusahaan ekspedisi, dia belum dan bukan ahli di bidang konstruksi gedung! Percayalah, aku akan sangat mudah mengatasinya!" Pram kembali mencoba meyakinkan Rizal.


"Kau bilang apa? Perusahaan ekspedisi hah...? Dasar bodoh!!"


Plak... !!


Rizal menampar wajah Pram dengan sangat keras. Pram meringis menyentuh pipinya yang seketika panas perih setelah tamparan Rizal.


"Kau jangan hanya menilai perusahaan yang dia miliki! Pakai otakmu Pram.....! apa kau tidak lihat perusahaan apa yang membuat dia berada di tender itu?" Rizal menghembuskan nafas kasar.


"Dengar Pram.....!!. Prima Go Constructions dan nama besar Firmanto yang membawa Andra berada disana! Kau jangan anggap remeh. Andra itu menantunya Firmanto dan sudah pasti dia calon pemilik Prima Go nantinya!"

__ADS_1


Rizal lagi lagi menudingkan telunjuknya ke wajah Pram.


"Sedangkan kau.....?!, aku harus berpikir seribu kali untuk menyerahkan perusahaan ini padamu Pram.....!!"


"Apa pa?! Menantu? Jadi itu artinya Andra itu suaminya Amelia?" Ekspresi wajah Pram seketika berubah teringat tentang seseorang di masa lalunya.


"Aku kenal Amelia pa... bahkan sangat mengenalnya!!, ini bisa menjadi senjata untuk aku bisa menjatuhkan Andra!" senyum licik tersimpul di bibirnya.


"Omong kosong apalagi Pram??! Aku tak mau mendengar apapun lagi darimu! Kau hanya bisa membuatku malu saja!" Rizal memukul meja dihadapannya dengan tangannya lalu melangkah keluar dari ruangannya meninggalkan Pram dan berusaha meredam kemarahannya.


Pram berdiri terdiam dan menyentuh wajahnya yang masih terasa perih karena tamparan Rizal.


"Jovandra Hadiwiguna..... saat ini kau sedang berhadapan dengan seorang Pramana, kau belum tahu siapa aku?!!!"


Kebenciannya terhadap Andra semakin memuncak.


Perlahan Pram mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia membuka sosial media dan mulai stalking semua hal tentang Andra dan Amel. Sejenak Pram terdiam, lalu tersenyum senang karena mendapatkan informasi yang memang dicarinya.


 


*****


Di kediaman Firmanto. Firman, Andra dan Amel sedang menikmati makan malam bersama.


"Papa senang kalian bisa sering sering mengunjungi papa disini!" Firman memulai percakapannya.


"Kami juga senang pa...!" Amel menuangkan air putih ke gelas Firman dan juga Andra.


"Papa bangga sama kamu Ndra...presentasimu luar biasa, sampai sampai semua orang memberi ucapan selamat pada Papa, tinggal selangkah lagi kita akan dapatkan proyek itu!" Firman tersenyum kepada Andra yang masih asyik menikmati makanan penutupnya.

__ADS_1


"Amin..pa...Aku juga senang bisa dapat pengalaman tender dengan pemerintahan seperti kemarin!" Andra meneguk air putih dari gelas yang disodorkan Amel.


"Tapi lawan kita nggak sembarangan Ndra.... PJA itu bukan perusahaan baru kemaren sore, mereka sudah punya nama, dan dalam jeda waktu sebulan ini kita harus siap dengan kemungkinan kemungkinan yang bisa terjadi! Benny sudah menyelidiki semua tentang PJA dan kita juga harus berhati hati!" Wajah Firman terlihat sangat serius ketika mengucapkan kata katanya.


"Tapi apa yang bisa mereka lakukan pa? Semua keputusan kan akan ada di tangan para pejabat itu!" Andra sedikit tidak percaya dengan dugaan Firman.


"Mereka itu sangat licik Ndra...mereka bisa menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan proyek baru, itu karena mereka sedang membutuhkan banyak dana untuk menutupi masalah keuangan di perusahaan mereka!"


Andra mengangguk, sedikit demi sedikit dia memahami maksud mertuanya itu.


"Papa jangan kasih kerjaan terus sama Andra Pa... nanti dia hanya sibuk di kantor dan lupa pulang, dia kan juga harus membagi waktunya buat Amel!"


Amel yang juga sudah menyelesaikan makanan penutupnya ikut menimpali.


"Ha..ha.. kamu itu memang sukanya diperhatikan terus ya..!" Firman tersenyum lebar melihat tingkah manja putrinya itu.


"Ngomong ngomong.... papa merasa kesepian di rumah ini sendiri, kalian selalu sibuk dengan pekerjaan kalian, terlebih kamu Amel... kau baru memulai EO mu dan papa lihat progress nya sangat bagus... ! Lalu kapan kalian akan memberikan papa seorang cucu yang bisa papa ajak bermain di rumah ini? Papa nggak mau kalian menunda nunda untuk punya anak, papa sudah sangat ingin menimang cucu!"


"Kami tidak akan menunda Pa... tergantung yang di Atas kapan akan memberikan kepercayaan itu pada kami!" Amel hanya tersenyum.


"Usahamu juga harus maksimal Ndra..., gas terus dan jangan kasih kendor!" Firman tertawa kecil melirik ke Andra. "Ha..haha..." lalu suara tawa terdengar bersamaan dari mulut ketiganya.


"Papa sudah kenyang! sekarang papa mau istirahat dulu! Dan kalian juga harus istirahat!" Firman beranjak dari tempat duduknya.


"Ohya...papa lupa, kenapa papa nyuruh kalian istirahat?" Firman yang sudah berjalan beberapa langkah lalu kembali membalikkan badannya menoleh ke Andra dan Amel yang juga sudah berdiri dari tempat duduknya sambil menunjukkan senyum lebar di bibirnya.


"Kalian kan harus lembur untuk membuatkan papa seorang cucu!" Firman kembali tertawa seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Andra dan Amel menuju ke kamarnya.


"Uh...papa... senang sekali menggodaku!" Amel menggerutu.

__ADS_1


"Sayang...., papa itu tidak sedang menggoda kita! Kata katanya itu adalah perintah! Jadi aku harus melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab!" Andra ikut tersenyum genit sambil menatap wajah Amel yang tersipu malu.


"Sekarang ayo.....!" Andra merangkul pundak Amel dan menggiringnya ke kamar.


__ADS_2