Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Hari itu Andra sangat sibuk, dering telepon dan email masuk seakan tiada habisnya untuk dikerjakan olehnya.


"Andra kau sudah makan siang?" Firman masuk ke ruangan Andra.


"Belum Pa...sebentar lagi!" jawab Andra sambil terus fokus di depan di layar laptopnya.


"Andra... belakangan ini papa lihat kamu sangat sibuk dan papa rasa kamu butuh seseorang yang bisa membantu pekerjaanmu."


"Pa, Andra sudah beberapa kali interview orang tapi belum ada yang pas yang bisa bantu Andra pa...!" Andra menutup layar laptopnya.


"Kali ini papa mau promosikan seorang staff papa, pindahan dari kantor cabang di Bekasi. Papa sudah lihat CV nya dia juga lulusan yang sama denganmu. Dia sendiri yang minta dipindahkan ke kantor pusat karena keluarganya ada disini. Kamu coba ketemu dulu sama orangnya ya!"


"Permisi Pak Firman, Pak Yogi dari kantor cabang sudah datang Pak". Nadya mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan itu.


"Oh ya, suruh masuk aja Nadya!" Firman mempersilahkan.


"Siang Pak Firman.." Seorang pria dengan kemeja abu abu dan dasi merah masuk ke ruangan itu. Andra sedang menerima panggilan di ponselnya ketika Yogi masuk ke ruangannya.


"Yogi.. ini Andra, direktur utama FH Property, dia juga CEO HW Logistic sekaligus menantu saya. Duduklah kita ngobrol santai saja!" Firman juga ikut duduk di samping Yogi.


"Andra menutup teleponnya dan menoleh ke arah pria yang baru saja duduk di hadapannya.


"Yogi......!"


Andra membulatkan matanya dan menghampiri Yogi dengan senyum lebar di bibirnya.


"Andra...!"


Yogi Pun terlihat kaget melihat pria yang akan menjadi atasannya itu ternyata bukanlah orang asing baginya.


Yogi bangun dari tempat duduknya dan Andra langsung memeluknya.


"Ahhh..... kalian sudah saling kenal ya?" Firman tersenyum melihat hal yang terjadi di hadapannya.


"Yogi ini teman baik Andra sewaktu kuliah Pa." Andra menjelaskan.


"Yogi....gue gak nyangka bisa ketemu lo disini, entah sudah berapa lama kita nggak ketemu?" Andra masih menjabat tangan Yogi begitu erat. Yogi nampak canggung, meskipun Andra adalah sahabat akrabnya sewaktu kuliah tapi posisinya kini berbeda, Andra adalah calon atasannya dan dia harus menghormatinya.


"Maafkan saya Pak Andra, ini saya nggak salah orang kan? Ini beneran Andra teman kuliah saya dulu?" Yogi masih tidak percaya dengan orang yang ada di hadapannya itu.


"Hahahaha... apa ada yang aneh Yogi.. apa gue begitu berubah sampai lo lupa sama sahabat lo sendiri?"

__ADS_1


Yogi menggelengkan kepalanya. "Andra yang saya kenal dulu itu adalah orang yang sangat sederhana... dia teman yang biasa saya ajak panas panasan ke kampus naik angkot dan busway. Saya gak pernah tahu kalau ternyata dia adalah pewaris Hadiwiguna pengusaha kenamaan itu" Yogi menundukkan kepalanya.


"Ya sudah kalian ngobrol saja dulu.. Papa akan ke ruangan Papa.." Firman menyela pembicaraan Yogi dan Andra lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


Andra dan Yogi lalu melanjutkan pembicaraan.


"Selama ini saya ditugaskan di Kantor Cabang di Bekasi sebagai Kepala bagian pengadaan Pak Andra, tapi adik adik saya harus kuliah di Jakarta, jadi saya mengajukan pindah ke kantor pusat." Yogi bercerita masih dengan nada canggung kepada Andra.


"Yogi... jangan sok formal gitu deh... kita itu Bro.!!.. gue nggak suka caramu ngomong seperti itu." Andra menepuk pundak Yogi agar tidak terlalu canggung kepadanya.


Andra lalu mengangkat gagang telepon dan terlihat menelepon seseorang.


"Pak Adi tolong ke ruangan saya!" Andra menelepon Pak Adi kepala bagian personalia.


"Pak Andra memanggil saya?" Adi masuk ke ruangan itu.


"Pak Adi.. ini Pak Yogi, dia saya angkat jadi asisten saya di FH Property. Tolong tunjukkan ruangannya dan ajak dia orientasi dulu." Perintahnya kemudian.


"Saya diterima disini Pak?!" Yogi bertanya pada Andra dengan raut muka yang masih nampak tak percaya. Andra kembali menepuk pundak sahabatnya itu sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum.


"Sekarang lo perkenalan dulu...nanti sore selepas jam kantor kita ngobrol lagi sambil ngopi di cafe di bawah" Andra berbisik kepadanya. Yogi mengangguk pelan.


"Pak Yogi.. mari ikut saya!" Pak Adi mengajak Yogi keluar dari ruangan Andra.


"Gue bener bener nggak percaya kalau Andra yang gue kenal dulu ternyata adalah pewaris keluarga Hadiwiguna yang kaya raya itu." Yogi masih belum bisa percaya mengetahui kebenaran tentang sahabatnya itu.


"Eh.. biasa aja kali Gi!" Andra hanya tersenyum.


Yang selama ini Yogi ketahui bahwa Andra itu adalah sahabatnya yang sangat konyol, mereka biasa berantem dan tertawa bareng, makan di pinggir jalan, dan berangkat ke kampus naik busway, bahkan Andra sama sekali tidak pernah menunjukkan kalau dia adalah putra dari seorang pengusaha kaya.


"Kemana aja lo selama ini Gi?" Andra memulai obrolannya.


"Lepas kuliah gue sempet pulang ke kampung gue di Trenggalek Ndra, Gue sudah 3 tahun bekerja di kantor cabang Prima Go di Bekasi, Awalnya gue cuma staff gudang, kemudian dipromosikan jadi kepala bagian pengadaan oleh Pak Benny.


Orang tua gue di kampung sudah nggak mampu bekerja lagi jadi adik adik gue jadi tanggungan gue sekarang, mereka tinggal di Jakarta dan kuliah disini jadi gue nggak bisa bolak balik Jakarta Bekasi tiap hari." Yogi mulai bercerita tentang kehidupannya selama hampir 4 tahun setelah lulus dari kampus yang sama dengan Andra kuliah selama di Jakarta dan meraih gelar S1 nya.


"Lo udah nikah Gi?" Andra melirik jari Yogi yang masih kosong tanpa ada cincin pernikahan.


"Belum Ndra... gue jomblo!" Yogi terkekeh mengingat dirinya yang masih sendiri.


"Lalu pacarmu itu Si....Natalie...??" Andra bertanya lagi.

__ADS_1


"Gue udah lama putus sama dia Ndra... orang tuanya nggak setuju hubungan kami, karena beda keyakinan."


"Tapi lo juga kan yang ngambil keperawannya Si Natalie?"


"Ha..ha...ha...." Dua orang itu pun tertawa lepas bersamaan.


"Justru itu yang membuat gue sampai sekarang belum bisa ngelupain Natalie Ndra..., hubungan kami sudah terlalu jauh, sudah layaknya suami istri. Tapi apa daya Bro... jodoh di tangan Tuhan." Yogi menghela nafas sambil menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.


"Lalu lo sendiri gimana Ndra? Pasti lo bahagia banget kan bisa menikahi putri Pak Firman yang cantik itu?"


Andra menggelengkan kepalanya "Amel itu gadis yang angkuh dan manja Gi. Gue nikah sama Amel karena perjodohan, almarhum Ayah dan Pak Firman yang menginginkan itu, walau sampai sekarang gue belum ada rasa apa apa sama Amel...",


"Emangnya lo pernah ketemu sama Amel?" Andra balik bertanya.


"Waktu itu nggak sengaja kami ketemu saat Amel nolongin Ayahmu pingsan di lobby Prima Go. Dia memang sangat cantik kan?" Yogi tersenyum menunjukkan kekagumannya.


"Ehm... begitulah..." Andra menghela nafas panjang lalu kembali menceritakan perjalanan hidupnya dari mulai dia pindah ke Jogja sampai ke pernikahannya dengan Amel.


"Gue turut berbela sungkawa atas berpulangnya Pak Joddy Hadiwiguna Ndra..!" ucap Yogi setelah mendengar cerita Andra sambil menyodorkan sebungkus rokok kepada Andra.


Andra langsung menunjukkan telapak tangannya sambil menggelengkan kepala tanda dia menolak. Semenjak pindah ke Jogja dia juga sudah berhenti merokok.


"Wow... keren lo Ndra..., selain udah jadi orang hebat udah mulai hidup sehat juga lo sekarang." Yogi menyalakan sebatang rokok dan pelan pelan menghirupnya lalu menghembuskan asapnya melalui mulutnya.


"Tapi gue ngerokok lo nggak apa apa kan Bro?" Yogi bertanya.


"Ha..ha..ha.. santai aja kali Bro" Andra tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang kini sudah mulai tidak canggung lagi kepadanya.


"Sekarang lo udah nikah berarti lo udah nggak suka cinta satu malam lagi dong seperti sama gadis gadis yang suka ngejar ngejar lo dulu itu?"


"ha..ha..ha..."


Kembali tawa garing terdengar dari mulut keduanya.


"Heh... gue mana pernah bilang cinta sama cewek, mereka aja tuh yang suka ngejar ngejar gue." Andra masih tertawa kecil mengenang masa masa nakalnya semasa di bangku kuliah.


"Ndra... entah berapa cewek yang udah lo ambil perawannya terus lo tinggalin gitu aja..." Yogi kembali terkekeh menggoda sahabatnya itu.


"Gue kan nggak pernah minta mereka nyerahin keperawanannya ke gue?, mereka aja yang mau... mana ada kucing nolak dikasih ikan, betul nggak??" Andra tak mau kalah menimpali lalu sama sama tertawa lagi.


Obrolan mereka pun semakin ngelantur membicarakan hal yang cukup pribadi layaknya cerita dua pria dewasa yang mengenang kegilaan mereka di masa kuliah.

__ADS_1


Sudah lama semenjak Ayahnya meninggal Andra tidak pernah tertawa lepas seperti sekarang. Kehadiran sahabatnya membuatnya merasa terhibur.


Tak terasa obrolan panjang mereka sudah membuat mereka duduk disana sampai malam menjelang. Keduanya lalu pulang dengan perasaan senang karena sudah sama sama bisa curhat tentang kehidupannya masing masing.


__ADS_2