Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Mrs Mueller


__ADS_3

Suasana gerah dan panas terasa di dalam ruang Ballroom hotel dimana acara yang diselenggarakan oleh sebuah NGO (Yayasan peduli kanker) akan diadakan.


Beberapa kali Amel menyeka keringat yang menetes di keningnya sambil mengibas ngibaskan telapak tangannya ke wajahnya. Mayra juga terlihat sangat sibuk melatih koreo untuk beberapa orang anak perwakilan dari yayasan itu yang nanti akan ikut tampil dalam acara.


Amel mengambil sebotol air mineral dan langsung meminumnya tanpa sisa karena kerongkongannya sudah terasa begitu kering setelah check sound serta mengecek semua persiapan acara lainnya.


"Mas.... acaranya sebentar lagi dimulai, AC nya tolong dinyalakan saja sekarang!" Teriaknya kepada seorang crew yang juga bertugas di sana. Amel masih terus mengibas ngibaskan tangannya ke wajahnya karena masih merasa gerah.


"May gue haus pengen minum yang seger, gue mau minum jus di cafe depan, lo mau ikut nggak?" Amel berseru pada Mayra yang masih berada di atas panggung bersama penari dan anak anak yang berlatih koreo.


"Lo duluan aja Mel, entar gue nyusul!" Seru Mayra juga tanpa menoleh ke Amel karena masih serius dengan tariannya.


Amel lalu melangkah keluar ruangan itu dan menuju ke sebuah cafe yang juga masih bagian dari ballroom tersebut. Cafe itu tidak terlalu ramai sehingga dengan mudah ia menemukan tempat duduk yang paling dirasa nyaman. Seorang waitress langsung menyapanya dan menyodorkan menu.


"Drink list saja Mbak..., saya cuma mau minum jus"  Amel meraih menu minuman dari tangan pelayan itu lalu ia memesan jus semangka.


Sambil menunggu pesanannya, Amel memainkan ponselnya dan membaca beberapa pesan yang belum sempat dibacanya karena sedari tadi sibuk mempersiapkan eventnya.


Ia tersenyum sendiri membaca pesan yang selalu diterimanya di jam yang sama setiap hari dan isinya selalu hanya untuk mengingatkannya makan siang.


("Iya bawel... kamu juga jangan lupa makan biar nggak mati!" emoticon senyum, tertawa, big hug dan cinta) balasnya bercanda.


Andra memang selalu mengirim pesan untuknya sekedar mengingatkan makan siang sebagai tanda perhatiannya.


Ting...!


("Kalau cuma nggak makan aku nggak akan mati sayang, tapi tanpa cintamu aku pasti mati" emoticon menangis) hanya beberapa detik balasan dari Andra langsung masuk lagi di ponselnya.


Amel terkekeh ("LEBAY!" emoticon tertawa) sent! Amel mengakhiri pesannya.


"Ini kopinya Mbak!" suara itu mengagetkannya, karena asyik berbalas pesan Amel tidak menyadari pelayan cafe sudah datang membawakan minumannya. Ia terhenyak dan seketika membulatkan matanya menatap pelayan cafe itu.


"Saya pesan jus Mbak bukan kopi!" Serunya pada pelayan itu sambil menunjuk cangkir kopi dihadapannya.


"Tapi di kertas order Mbak pesannya kopi bukan jus!" Pelayan itu ngotot berusaha membela diri.


"Jus semangka! bukan kopi! gimana sih? Coba dicek yang bener Mbak orderannya!" Sungut Amel dengan menunjukkan wajah kesalnya.


Pelayan itu nampak gugup lalu membaca ulang lagi kertas ordernya.


Seorang wanita yang sebelumnya duduk di meja disebelah Amel langsung berdiri dan mendekatinya sambil memegang segelas jus semangka.

__ADS_1


"Aaa.... Mbak maybe pesanannya tertukar, that is my coffee dan ini jusnya, masih utuh kok belum saya minum!" Ucapnya dengan bahasa campur aduk sambil tersenyum ramah.


"Oh iya..maaf pesanannya tertukar Mbak" Pelayan itu langsung mencakupkan kedua tangannya di dadanya sambil membungkuk.


"That is not a big deal, just forget it!" jawab wanita itu enteng lalu menyuruh pelayan itu meninggalkannya dan Amel disana.


Amel menatap kagum wanita yang masih tersenyum ramah di hadapannya, wanita itu terlihat sudah berumur namun masih terlihat sangat cantik.


"Can I sit here?" wanita itu bertanya lagi sambil menunjuk kursi di sebelah Amel.


"Oh yes sure!" Jawab Amel juga sambil membalas senyum ramah wanita itu.


Wanita itu kini sudah duduk di sebelah Amel "My name is Mrs Mueller... Julia Mueller and you can call me Mrs Mueller'' ia memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya kepada Amel. Sekilas Amel memandangi wajah wanita itu, rambutnya di cat warna pirang dan bola matanya mengenakan softlens berwarna coklat. Bahasa Inggrisnya pun terdengar sangat fasih namun forum wajahnya tetap menunjukkan kalau wanita itu seorang pribumi.


"My name is Amelia Paramita, just call me Amel!" Jawab Amel sambil menjabat tangan wanita yang bernama Mrs Mueller itu.


Mrs Mueller tiba tiba terdiam mendengar Amel menyebut namanya, ia makin melekatkan tatapannya ke Amel, Matanya membulat seperti ada sebuah tanda tanya besar di dalam matanya itu.


Amel mengeluarkan kartu nama dari dalam tasnya. "Are you the participant of the event?" Tanya Amel pada Mrs Mueller.


"This is my business card, actually I am the organizer for this Cancer Care Foundation Event" jelasnya lagi sambil menyerahkan kartu namanya.


"Saatnya promosi nih!" Pikir Amel dalam hatinya.


"Amelia Paramita Firmanto?!" terdengar Mrs Mueller menyebut nama panjangnya padahal yang tertulis di kartu nama hanya Amelia Paramita saja, dan seketika membuat Amel merasa terheran heran.


"Nyonya tahu nama papa saya?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"I...iya... everybody know him!" Jawab Mrs Mueller gugup sambil menghela nafas dan tetap menatap wajah Amel makin dalam. "Dia pengusaha yang hebat dan sukses, saya sangat beruntung bertemu putrinya disini!" lanjutnya lagi. Senyum lebar kini makin mengembang di bibirnya.


Mrs Mueller menyentuh wajah Amel dengan kedua tangannya. "Kamu sudah sebesar ini Amel dan kamu sangat cantik!" Ucapnya.


Amel merasa risih wajahnya disentuh oleh orang yang baru saja dikenalnya itu lalu buru buru menjauhkan wajahnya melepaskan sentuhan tangan Mrs Mueller.


"Apa Nyonya pernah mengenal saya? Kenapa tadi bicaranya seperti itu?" Amel sangat penasaran dengan sikap Mrs Mueller terhadapnya.


"Ah tidak tidak... maafkan saya, wajahmu mengingatkan saya pada seseorang yang saya kenal dan sangat mirip denganmu!" Mrs Mueller mencari alasan agar Amel tidak bertanya lagi kepadanya.


"Nyonya orang Indonesia kan?" Amel bertanya lagi mencoba akrab dengan Mrs Mueller sambil menyedot jusnya yang hanya nganggur di atas meja belum sempat diminumnya.


"Mmmm..." Mrs. Mueller mengangguk. "Suami saya orang Jerman dan saya sudah pindah kewarganegaraan mengikuti suami saya." jawabnya lagi. Saya bekerja di NGO di Jerman dan kebetulan juga diundang jadi pembicara di acara ini" Mrs Mueller juga menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Oh ya, kamu organizer acara ini, dan saya lihat semua persiapannya sangat perfect. Amel, you are amazing!" Pujinya terhadap Amel.


"Baru persiapannya saja Nyonya, semoga acaranya nanti sukses!" Amel merendah.


"Jangan panggil Nyonya, panggil aku Mommy saja ya supaya lebih akrab, lagian kamu pantasnya jadi putriku!" Mrs Mueller menaikan dua jarinya sambil tersenyum pada Amel.


Amel mengangguk " Ok Mom!" jawabnya singkat, ia sadar selama event pasti ia akan selalu in touch dengan Mrs Mueller terlebih dia adalah salah satu pembicara di acara tersebut, Amel pun ingin lebih akrab dengan clientnya itu.


Beberapa menit mereka berbincang disana dan tampak makin akrab. Mrs Mueller menceritakan kehidupannya di Jerman dan membuat Amel sangat antusias mendengarkan ceritanya.


"Mom kita masuk yuk sebentar lagi acaranya akan dimulai!" Amel melirik jam tangannya lalu mengajak Mrs Mueller masuk ke Ballroom karena acara itu sudah akan dimulai.


Acaranya pun kini sudah mulai. Amel dan Mayra duduk tak jauh dari panggung untuk mengawasi jalannya acara dan memastikan semua tahapannya berjalan sesuai list yang sudah dirancangnya dari awal. Setiap tahapan acara sukses sampai akhirnya giliran Mrs Mueller yang akan tampil ke panggung sebagai pembicara.


Pada sesi itu Mrs Mueller juga berkesempatan menceritakan pengalaman hidupnya kenapa ia sampai aktif di NGO peduli kanker di Jerman.


Mrs Mueller bercerita menggunakan bahasa Inggris dan di akhir ceritanya ia tak dapat menahan tangisnya mengenang kisah pahitnya pernah mengidap kanker rahim yang menyebabkan kedua rahimnya diangkat dan di vonis tidak bisa punya anak lagi. Karena itu suaminya sebelumnya meninggalkannya bahkan ketika ia masih belum sembuh dari kanker yang bersarang di tubuhnya. Penderitaan itulah yang mempertemukannya dengan sebuah yayasan yang sangat peduli dengan para penderita kanker dan membawanya terjun ke NGO. Aktif di NGO juga mempertemukannya dengan Mr Rafe Mueller seorang pria berkewarganegaraan Jerman yang kini menjadi suaminya.


Amel sangat terharu mendengar cerita Mrs Mueller. Ketika acara sudah selesai ia menemui Mrs Mueller lagi.


"Mom aku sangat terharu mendengar cerita Mommy tadi, ternyata Mommy orang yang kuat, aku salut sama Mommy!" Amel memeluk Mrs Mueller penuh rasa haru.


"Kamu juga seorang anak yang sangat hebat Amel, Mommy juga bangga padamu!" Mrs Mueller mengusap rambut Amel dengan lembut dan menatap wajah Amel penuh arti.


"I will be in Indonesia for another 3 months, banyak yang aku harus selesaikan disini. Kamu mau kan jadi teman Mommy selama Mommy disini?" tanyanya pada Amel.


"Of course Mom, telepon saja aku kalau butuh apa apa!" Amel menjentikkan jarinya dan tersenyum pada Mrs Mueller.


Mrs Mueller lalu pergi meninggalkan ballroom itu karena sudah ada acara lain yang harus diikutinya lagi.


Mayra heran melihat Amel yang tampak begitu akrab dengan Mrs Mueller meski mereka baru kenal.


"Kok lo bisa seakrab itu sama Mrs Mueller Mel?.. pakai panggil Mommy segala!" Mayra merangkul pundaknya dan bertanya.


"Entah May, gue juga nggak tahu, gue merasa nyaman aja sama dia. Gue seperti menemukan sosok seorang mama dalam diri Mrs Mueller." Amel hanya tersenyum.


Di tempat parkir terlihat Andra dan Yogi sudah berdiri di sana menunggu sambil melambaikan tangan melihat mereka.


Amel dan Mayra langsung berlari kecil menghampiri pangerannya masing masing.


"Bagaimana tadi acaranya sayang?" Tanya Andra pada Amel sambil memeluknya dan membukakan pintu mobilnya.

__ADS_1


"Sukses dong... Amel gitu loh..!" Serunya saat iya sudah duduk di dalam mobil. Andra hanya tersenyum lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


__ADS_2