
Setelah Andra berlalu dari hadapannya, Julia segera masuk dan memilih mengikuti saran Andra agar men-double lock pintu apartemennya.
Ia berjalan ke dapur mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah kejadian yang menimpanya.
Pikirannya masih tidak tenang, ia sangat khawatir karena Rizal pasti akan selalu mengulangi usahanya untuk mencelakakannya.
"Rizal sudah benar benar keterlaluan! Aku harus lebih berhati hati menghadapinya!, dia lebih nekat dari yang aku bayangkan, dasar manusia licik..!"
Julia menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil menarik nafas panjang.
"Huhhh.... untung saja Andra menyelamatkanku hari ini." Julia tersenyum sendiri mengingat Andra yang sudah menolongnya.
"Andra memang pria yang baik dan sangat bertanggung jawab, selain itu dia juga sangat gagah dan tampan, pantas saja Amel begitu mencintainya." Julia terus saja tersenyum mengingat semua tentang Andra dan Amel, ada perasaan bahagia mengisi hatinya.
Julia masih duduk di sofanya, ia mengusap wajahnya pelan, ada sesuatu yang baru saja diingatnya.
"Rizal....!" Julia mengerutkan keningnya.
"Secara tidak sengaja aku mendengar percakapan Rizal dengan anak muda itu sewaktu di kantornya, mengapa dia menyebut nyebut nama Andra saat itu?" Julia menggelengkan kepalanya.
"Pasti mereka merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap Andra!" Julia mendengus, tatapannya kosong, sepertinya ia sedang memikirkan suatu hal yang sangat serius.
"Lalu siapa anak muda itu? Mengapa dia memanggil Rizal dengan sebutan papa?, Rizal tidak pernah bisa punya anak!" Julia menyentuh keningnya, begitu banyak pertanyaan yang tiba tiba muncul di benaknya.
"Aku harus cari tahu!" Julia menjentikkan jarinya.
Ia memang sempat mendengar pembicaraan antara Rizal dan Pramana sewaktu ia pergi ke kantor PJA untuk menemui Rizal ketika itu, tapi yang di dengarnya hanya sepenggal saja dari keseluruhan isi percakapan itu, ia belum bisa menyimpulkan apapun dari yang sudah didengarnya.
Julia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Tangannya begitu lincah bergerak diatas layar ponselnya mencari cari informasi tentang Rizal dan pemuda yang bersamanya waktu itu. Bukan hal yang sulit baginya menemukan informasi yang dicarinya. Dia sudah sangat mengenal Rizal dan juga PJA, hanya dengan melihat sosial media ia sudah menemukan informasi yang dicarinya.
"Pramana adalah putra sambungnya Rizal!?" Julia melebarkan matanya. Ia masih terus mencari cari informasi yang lain tentang Pramana dari ponselnya itu.
"Kasus pencemaran nama baik...!?" Julia membaca sebuah berita lama yang dimuat di sebuah situs berita online.
"Ini rupanya permasalahannya! Ini yang membuat Rizal dan Pramana menyebut nyebut nama Andra saat itu. Pramana pernah masuk penjara gara gara tuntutan Andra dan Pramana menyimpan dendam terhadap Andra gara gara hal ini....!"
"Hmmm.....!"
__ADS_1
Julia kembali menarik nafas panjang. Wajahnya berkerut seperti tengah memikirkan hal yang sangat rumit.
"Lalu mengapa Rizal menyuruh Pramana pergi dari kota ini dan melarikan diri dari polisi? Apakah dia melakukan kejahatan lagi?" Berbagai pertanyaan kembali menghujani pikirannya, dan permasalahan itu semakin sulit untuk di cernanya.
Julia kembali berpikir keras dengan sorot misterius di matanya.
"Tidak akan aku biarkan Rizal ataupun Pramana mengusik kehidupan Amel dan Andra....!, aku harus berbuat sesuatu!" Pikirannya meyakinkan.
Kemudian Julia semakin mempertajam penglihatannya pada layar ponselnya dan berusaha mengumpulkan lebih banyak informasi tentang Rizal dan Pramana.
****
Andra tiba di rumahnya dan disambut wajah cemberut Amel yang kesal karena suaminya itu pulang terlambat.
"Betah banget di kantor? Kenapa nggak sekalian nginep aja disana?" Seringai Amel acuh, namun tetap mencium tangan Andra dan mengambil alih tas laptopnya.
Andra hanya tersenyum geli melihat kelakuan istrinya yang memang akan selalu memasang muka masam ketika ia terlambat pulang.
Andra lalu melingkari pinggang Amel dengan tangannya sambil mengecup keningnya. "Maaf sayang aku memang lagi banyak pekerjaan hari ini!" Andra mengusap wajah Amel dengan mesra.
"Memangnya pekerjaanmu jauh lebih penting ya daripada aku?" Amel masih cemberut.
Perlakuan Andra yang seperti itu lah yang akan selalu membuat Amel luruh, ia tidak akan sanggup berlama lama menunjukkan kemarahannya terhadap suaminya itu.
Andra menggiring Amel ke ruang tengah lalu mereka duduk di sofa ruangan itu.
"Selain itu ada sedikit masalah tadi di jalan sayang." Andra sudah tidak sabar ingin menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada Amel.
"Masalah apa sayang?" Amel membulatkan matanya karena kaget mendengar kata masalah yang di ucapkan oleh Andra.
"Mrs Mueller sayang..., tadi aku bertemu dengannya!" Jawab Andra sambil melepaskan jasnya.
"Hah Mommy? Kau bertemu dengannya dimana sayang?" Amel semakin terkejut saat Andra menyebut nama itu. Amel memang sudah banyak bercerita tentang Julia Mueller kepada Andra tapi Amel belum pernah mengenalkan Julia kepada Andra secara langsung.
Andra kemudian menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Julia hingga ia harus mengantarkan Julia sampai di apartemennya. Amel mendengarkan cerita Andra dengan wajah yang nampak khawatir.
"Itulah sebabnya aku terlambat sampai di rumah sayang, aku harus pastikan dia selamat sampai di apartemennya dulu!" Andra mencari pembenaran.
"Hah.. syukurlah Mommy selamat!" Amel mengusap dadanya dengan kedua tangannya dan menghembuskan nafas panjang dari mulutnya.
__ADS_1
Ting...!
Notifikasi pesan singkat terdengar di ponsel Amel dan Amel langsung membukanya. Julia mengirimkan pesan kepadanya mengucapkan terimakasih untuk Andra karena sudah menolongnya.
"Ini pesan dari Mommy sayang" Ucap Amel sambil tersenyum malu karena sudah salah berprasangka buruk pada suaminya.
"Aku lihat kamu makin hari makin dekat saja dengan Mommy Mueller sayang? tanya Andra.
"Iya sayang, dia wanita yang baik aku sangat mengagumi sosoknya." jawab Amel sambil tersenyum.
"Sekilas aku lihat wajahmu sangat mirip dengan Mommy Mueller sayang, mungkin itu sebabnya kalian jadi cepat akrab!" Andra hanya menerka nerka saja.
"Masa iya sayang?" Amel tidak percaya, "Tapi Mayra juga pernah bilang hal yang sama!" Amel tiba tiba ingat Mayra mengatakan kalau wajahnya sangat mirip dengan Julia Mueller.
Tapi Amel tidak terlalu peduli dengan perkataan Mayra kala itu.
"Ohya sayang tadi papa telepon!" Ujar Amel mengalihkan pembicaraannya mereka.
"Papa minta besok kita nginep di rumah papa lagi!" lanjutnya.
"Iya nggak apa apa kan sayang, lagian sudah hampir sebulan kita nggak pernah nginep disana!" Jawaban Andra terdengar menyetujui.
"Tapi aku lagi males nginep di rumah papa sayang!" Amel menunjukkan wajah tidak senang.
"Memangnya kenapa?" Andra merasa heran karena tidak biasanya Amel menolak diajak menginap di rumah papanya.
"Papa pasti akan selalu tanya; Amel... apa kamu sudah hamil, kapan kamu akan memberi papa seorang cucu?" Amel berkata menirukan ucapan papanya yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali mereka bertemu.
Andra hanya tersenyum dan terkekeh lalu kembali menyelipkan tangannya di pinggang Amel sambil mengecup pipinya.
"Kalau gitu aku harus lembur lagi malam ini agar bisa segera memenuhi keinginan papa!" Andra berbisik menggoda Amel lalu mengecup lagi bibirnya lebih dalam.
"Ayo kita ke kamar sayang, aku juga punya keinginan yang sama seperti papa, aku ingin memiliki seorang bayi yang cantik seperti kamu!" Goda Andra lagi sambil menyentuh perut Amel.
Amel tersenyum tersipu lalu Andra menggendongnya ke kamar.
Amel terlelap dalam pelukan Andra, seperti biasa ia akan selalu kelelahan dan tertidur pulas setelah menerima serangan cinta Andra.
Berbeda dengan Andra, malam itu ia merasa sangat sulit memejamkan matanya. Bayangan wajah Vilda selalu melintas dalam ingatannya. Penyesalan akan semua yang pernah terjadi diantara mereka selalu membayanginya.
__ADS_1