
Berhasil menuntut balik Pramana belum serta merta membuat Firman merasa tenang. Dia khawatir kalau sewaktu waktu Rizal bisa saja berbuat hal licik lain yang tak bisa ditebaknya, terlebih setelah terang terangan Firman berani menerima tantangannya.
Firman menemui Andra di kantornya saat Andra baru saja kembali dari meetingnya.
"Andra kamu sudah mau pulang ya?" Sapanya kepada menantunya itu.
"Sebentar lagi Pa, masih ada beberapa laporan yang belum aku cek" jawab Andra sambil mulai membuka layar laptopnya.
Firman lalu menghampirinya dan ikut duduk di kursi di hadapan Andra.
"Papa masih kepikiran kejadian kemarin Ndra..., papa khawatir Pramana dan Rizal masih akan terus mencari cara untuk menjatuhkan kita" wajah Firman nampak serius.
"Setidaknya kita sudah memberi efek jera pada Pramana pa, meskipun hukuman untuknya tidak terlalu berat, paling tidak mereka akan berpikir dua kali untuk berbuat curang lagi!" Andra berusaha meyakinkan Firman.
"Kamu salah Ndra, Rizal itu bukan orang yang mudah menyerah, dia bisa menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan yang diinginkannya dan dia sangat tidak suka bila ada orang lain melebihi dirinya." Sanggah Firman.
Andra mengusap wajahnya pelan.
"Maafkan Andra pa! Gara gara aku papa kehilangan tender itu!" Andra menundukkan kepalanya karena merasa sudah mengecewakan mertuanya itu.
__ADS_1
"Sudahlah Ndra... papa tidak terlalu mempermasalahkan tender itu, ini juga bukan salahmu! Lagipula papa masih punya banyak proyek besar lain yang sedang papa garap saat ini" seperti biasa Firman berbicara tenang dan bijaksana yang membuat Andra selalu merasa teduh bersamanya.
"Sekarang bukan itu permasalahannya Ndra, Papa sudah lama mengenal Rizal kita harus menyiapkan amunisi lebih banyak dan bersiap untuk segala macam kemungkinan serangan balik dari mereka." Firman menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mengerutkan keningnya.
Andra terdiam sesaat, ia bisa melihat rona kebencian di wajah Firman setiap kali ia menyebut nama Rizal.
"Sekali lagi maaf kalau aku lancang bertanya Pa! Sebenarnya ada permasalahan apa sebelumnya antara papa dan Rizal? Aku perhatikan papa sepertinya begitu membencinya?!" Andra akhirnya menanyakan juga hal yang terasa mengganjal di benaknya itu.
Firman menghela nafas panjang, wajahnya berkerut, Andra adalah menantu yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri, Andra berhak tahu, lalu Firman meyakinkan dirinya untuk tidak menyimpan kisah lamanya sendiri dan mulai bercerita.
"Dulu papa pernah bekerja di PJA, papa sudah sangat mengenal cara kerjanya Rizal. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang diinginkannya termasuk melakukan hal hal yang di luar batas kewajaran dan melanggar kode etik dalam berbisnis. Papa adalah orang yang paling tegas menentang semua perbuatan buruknya itu, tapi justru itu yang membuat Rizal mencari cara untuk menjatuhkan papa. Bahkan, setelah Rizal berhasil menendang papa dari perusahaannya, dia juga menyebarkan rekomendasi buruk tentang papa sehingga tidak ada satupun perusahaan lain yang mau menerima papa bekerja lagi."
Firman kembali menghela nafas dalam, pengalaman pahit dalam karirnya itu muncul lagi dalam ingatannya.
Firman terdiam, ada kegetiran terlukis di wajahnya dan sebingkai kaca melintas di matanya.
Andra juga hanya membisu tak bisa berkomentar apapun hanya menatap wajah Firman yang nampak sendu.
"Tapi untungnya papa punya sahabat baik yang selalu mendukung dan membantu papa waktu itu Ndra..!" Firman tersenyum samar.
__ADS_1
"Ayahmu....! Almarhum Joddy yang selalu menyemangati papa. Dia yang mendukung papa membangun Prima Go, Ayahmu juga yang memberi papa modal usaha sehingga Prima Go bisa berkembang seperti sekarang." Senyum Firman kini terlihat jelas.
Andra ikut tersenyum ia menyadari bahwa persahabatan Almarhum Ayahnya dan Firman memang begitu dekat.
"Pa.., kemungkinan apapun yang nanti terjadi papa tidak usah khawatirkan itu! Sekarang ada Andra bersama papa dan Amel, kita adalah satu keluarga semua akan kita hadapi bersama sama." Andra berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati Firman.
"Bagi papa, kamu bukan hanya menantu papa, tapi kamu sudah seperti anak kandung papa sendiri Andra" Firman memeluk Andra penuh rasa haru.
Beberapa menit mereka masih berbincang lalu Firman mengakhiri obrolan mereka dan melangkah keluar menuju untuk kembali ke ruangannya.
Andra pun ikut berkemas, dengan cepat dia menyambar tas laptopnya karena sudah ingin segera pulang. Tak disadarinya tasnya menyenggol sebuah buku yang ada di atas mejanya sehingga buku itu terjatuh. Buru buru Andra mengambilnya.
"Ini kan agenda papa...?! rupanya tertinggal disini!" Pikirnya.
Tak jauh dari agenda itu Andra melihat selembar foto yang juga terjatuh dari dalam buku agenda Firman, Andra lalu mengambilnya dan menatap foto itu dengan penuh tanda tanya. Terlihat seperti sebuah foto lama namun wajah yang ada di foto itu masih terlihat jelas.
"Foto siapa ini, kenapa ada di agenda papa?" Andra memperhatikan wajah seorang wanita di dalam foto itu. "Wanita ini memiliki senyum yang sangat mirip dengan Amel, siapa dia?" Pikirnya lagi.
"Besok saja akan ku kembalikan agenda papa" Andra hanya sekilas memandang foto itu dan tidak terlalu ambil pusing, kemudian memasukkan kembali foto itu ke dalam agenda Firman dan meletakkannya di atas mejanya.
__ADS_1
Andra merasakan ponselnya bergetar karena Amel terus meneleponnya.
"Iya ini aku sudah mau jalan pulang sayang, sabar ya!" Andra mempercepat langkahnya karena Amel sudah terus merengek memintanya segera pulang.