
Di area food court itu mereka bertiga sudah memesan makanan yang berbeda beda dan duduk di meja yang agak ke pinggir di area terbuka. Memang tempat itu adalah pilihan Yogi, karena ia akan selalu mencari smoking area.
Candaan ringan terdengar beberapa kali di antara mereka, Vilda yang paling banyak berbicara dan bercerita karena dia memang seperti itu adanya, selalu ramai ketika berbicara ditambah lagi kekonyolan Yogi yang suka iseng menimpali membuat suasana tidak pernah sepi diantara mereka. Hanya Nadya yang lebih banyak diam, maklum ia usianya yang paling matang disana, obrolan kekinian Vilda dan Yogi sering membuat ia kurang memahami pembicaraan antara Vilda dan Yogi.
Vilda seketika terdiam saat menoleh ke sebuah restoran franchise pizza dan pasta Amerika yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Andra, Amel dan Firman terlihat sudah duduk disana.
Vilda masih belum menghabiskan makan siangnya, Yogi dan Nadya juga tengah asyik makan dengan lahap sehingga mereka tak banyak berbicara lagi.
Vilda tidak dapat melepaskan pandangannya melihat ke arah tiga orang yang tengah bercengkrama dan makan bersama itu. Amel terlihat terus saja menempel dari Andra bahkan keduanya saling menyuapi saat mereka makan. Rasa cemburu itu semakin nyata di hati Vilda.
"Siapapun wanita yang ada di posisi Amel saat ini pastilah sangat bahagia, punya suami seperti Andra, pria yang baik dan tampan, selain itu dia juga sangat bertanggung jawab dan perhatian dan pastinya kaya raya!" pikiran itu selalu saja memenuhi kepalanya. Namun sejatinya ia sendiri tidak memahami apa yang ia tengah rasakan, apakah ia tengah memendam rasa cinta pada Andra atau hanya sebatas kekagumannya saja.
"Woy... bengong aja Lo Vil, makannya nggak dihabisin!" Celetukan Yogi membuyarkan lamunannya.
"Kalau lo nggak mau makan biar gue yang habisin!" Yogi mengambil kentang goreng dari piring Vilda dan memindahkannya ke piringnya. Vilda pun hanya diam saja tidak protes ketika Yogi menghabiskan semua makanannya.
Melihat kemesraan Andra dan Amel sontak saja membuat selera makannya hilang.
*****
"Itu kan Vilda, kenapa dia berdiri disana?"
Andra baru saja keluar dari kantornya dan hendak pulang, namun ia segera memperlambat laju mobilnya saat melihat Vilda berdiri di pinggir jalan.
"Vilda...., lo ngapain disitu?" Andra membuka kaca mobilnya dan memanggil Vilda yang terlihat kaget saat ia memanggilnya.
"Andra?!...., gue kira siapa?" Vilda tidak menyangka kalau Andra yang datang menghampirinya karena hari itu Andra memakai mobil lamanya.
__ADS_1
"Gue mau pulang Ndra, tapi tadi mampir belanja dulu!" Sahut Vilda, ia memang tengah memegang beberapa kantong belanja di tangannya saat itu.
"Ayo bareng gue!" Andra menekan unlock pintu mobilnya dan menawarkan mengantarkannya pulang.
Vilda segera menganggukkan kepalanya dan tidak pikir panjang lagi, ia langsung masuk ke mobil Andra.
"Lo pakai SUV yang berbeda hari ini Ndra?, SUV lo yang biasanya mana?" Vilda bertanya sekedar basa basi. Dia sangat tahu kalau seorang sultan seperti Andra berganti ganti mobil setiap hari pun pasti adalah hal yang sangat biasa.
"Iya.., ini mobil lama gue, lebih sering nya juga gue pakai ini, yang kemarin itu mobil hadiah ulang tahun pernikahan gue sama Amel dari mertua gue. Gue pakai sesekali aja untuk menghargai pemberian Papa Firman!" jawab Andra sambil melajukan mobilnya lebih cepat.
"Ohya Vil, tolong maafin sikap Amel tadi siang ya!, Amel memang seperti itu, dia nggak mudah akrab sama orang dan dia juga gampang emosi!" Andra mengingat kejadian siang itu ketika Amel terlihat sangat marah pada Vilda.
"Nggak apa apa Ndra, lagian emang gue yang salah masuk ruangan lo tanpa permisi!" Vilda menanggapi dengan santai.
"Kalian berdua memang pasangan yang serasi, Amel sangat cantik dan lo juga sangat perhatian sama dia, ditambah lagi lo punya mertua yang kaya dan murah hati! Jujur gue iri sama kemesraan kalian!" Vilda mengungkapkan kekagumannya.
"Ah lo terlalu berlebihan Vil!" Andra merendah.
"Lo lebih ngerasa nyaman kan tinggal disini sekarang?" Andra menghentikan mobilnya di drop zone apartemen itu.
"Iya Ndra, makasih banyak ya udah nyariin gue tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman seperti ini, gue janji bakalan kerja lebih baik dan lebih keras di perusahaan lo supaya kedepannya gue bisa bayar sewa tempat ini sendiri tanpa bantuan lo lagi!" Vilda tersenyum senang mengingat ketulusan Andra yang sudah membantu biaya sewa apartemen itu untuknya.
"Iya sama sama Vil" Andra pun hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Lo nggak mampir dulu Ndra?" Vilda bertanya lagi sambil melepaskan seat beltnya.
"Kapan kapan aja Vil, gue mau cepat pulang, Amel pasti sudah menunggu di rumah!"
__ADS_1
Vilda lalu turun dari mobil Andra, keduanya saling melambaikan tangan saat mobil Andra bergerak meninggalkan apartemen itu.
Vilda masih berdiri di tempat semula sampai mobil Andra sudah tidak terlihat lagi, kemudian ia masuk ke lobby apartemennya dan menuju lift.
Sampai di apartemennya, Vilda meletakkan semua kantong belanjaan yang dibawanya di meja makan lalu ia langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya terus saja tertuju pada Andra dan ia selalu tersenyum mengingat semua kebaikan Andra kepadanya.
"Andra memang sangat perhatian, Amel sangat beruntung mendapatkan Andra sebagai suaminya. Ahh.. seandainya saja aku jadi Amel....?!" Vilda merasa semakin cemburu dengan keberuntungan Amel. Vilda menarik nafas dalam dalam mencoba memahami apa yang tengah bergejolak dalam hatinya, apa arti kecemburuannya kepada Amel saat itu? sungguh dia sendiri tidak dapat mengerti dengan apa yang dirasakannya.
"Apa aku mulai mencintai Andra? Oh tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu, Andra sudah bahagia dengan istrinya aku tidak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan mereka!"
"Dan pastinya ini bukan cinta, aku hanya menyesali diriku yang masih sendiri di usiaku sekarang. Aku berkali kali mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dengan laki laki, mungkin itu sebabnya aku merasa cemburu!" Pertentangan itu selalu saja menghujani pikirannya.
Meski selalu tersenyum dan bersikap ceria di hadapan semua orang, dalam hatinya Vilda menyimpan kepedihan yang teramat. Sakit, rapuh dan kecewa. Seseorang yang pernah sangat dicintainya meninggalkannya begitu saja setelah ia menyerahkan segalanya.
"Sebenarnya tujuanku kembali ke Jakarta adalah untuk melupakan laki laki playboy itu, walau sejujurnya aku masih mencintainya!" Kenangan dengan mantannya tiba tiba muncul kembali dalam ingatannya.
"Tapi kenapa justru disini aku bertemu Andra? Dia adalah akar dari semua ini!, Dia yang telah mengambil kesucianku!" Sejenak Vilda merasa sangat marah dan menyesal.
"Tapi apa ini yang aku tengah sesalkan sekarang?" Tidak... tidak! Aku tidak pernah menyesali semua itu, aku melakukannya dengan Andra atas dasar suka sama suka, dan aku juga yang pergi meninggalkannya waktu itu. Aku terlambat mengetahui kalau sebenarnya Andra adalah orang kaya, saat itu aku hanya tahu dia seorang yang sangat sederhana, aku hanya mengagumi ketampanan Andra." Vilda semakin tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri, dilema itu seakan menyerangnya bertubi tubi.
Kesepian! Iya pastinya ia sangat kesepian hidup sendiri saat yang lain sudah punya pasangan namun ia masih jomblo sendiri.
Vilda beranjak dari ranjangnya, dilepaskannya semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Dari balik bayangan cermin ia memandangi bentuk tubuh indahnya yang kini sudah tanpa sehelai benangpun menempel disana.
"Vilda Veronica....! kamu itu sangat cantik dan seksi!" Vilda meraba bagian dadanya yang bulat dan kencang dengan kedua tangannya lalu meremasnya perlahan.
"Tapi mengapa kau begitu rapuh hanya karena laki laki? Ada seribu pria tampan dan kaya raya yang menginginkanmu di luar sana!" Vilda bergumam sendiri lalu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Vilda melangkah ke kamar mandi dan mengambil kotak lulurnya lalu mengusapkannya ke seluruh permukaan kulitnya.
**Ada yang sudah berpikir aneh aneh gara gara Vilda buka baju? Hahaha... ternyata cuma mau luluran!**