Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Menginap di Rumah Papa


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam ketika Andra tiba di rumah. Seperti biasa Nur lah yang selalu menyambut kedatangannya.


"Amel belum pulang ya Bi?" tanyanya kepada pelayannya itu.


"Belum Den." Nur menjawab singkat sambil kembali ke dapur hendak menyiapkan makan malam untuk tuannya itu.


Andra lantas masuk ke kamarnya.


Ting... Tung...! Bel rumah itu berbunyi dan Nur bergegas membuka pintu. Amel menerobos masuk dengan tangannya yang dipenuhi banyak tas belanja. Tiba di ruang tengah Amel meletakkan semua barang barangnya di meja dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Ah....hari ini melelahkan sekali." sejenak ia menarik nafas panjang.


"Bi....Bibi...cepat sini!" Teriaknya memanggil Nur. Nur pun segera menghampirinya.


"Pijitin kakiku Bi...aku lelah sekali seharian ini jalan di mall" Amel menaikkan kakinya ke sofa dan Nur pun duduk di lantai memijat kaki Amel sesuai perintahnya.


"Aw...." Amel meringis ketika pijatan Nur tidak sesuai yang dia mau.


"Bisa mijit nggak sih...ng gak enak banget" Amel membentak Nur dengan matanya yang membulat.


"Amel... tolong jaga sikapmu!" Andra yang sedari tadi memperhatikan hal itu langsung menghampiri.


"Bi Nur.. kembali ke dapur, bukan tugas Bibi mijitin dia"  Andra memerintahkan Nur untuk meninggalkan Amel. "Heh...Andra apa apaan ini? Apa hakmu menyuruhnya pergi?!" Amel menatap Andra dengan muka kesal. "Amel...jangan pernah lagi kau berlaku tidak sopan kepada Bi Nur, jaga perilakumu, dia itu lebih tua darimu jadi tolong hormati dia!" Andra menyilangkan kedua tangannya di dada dan berbicara dengan nada meninggi.


"Dia itu kan cuma pelayan, memangnya salah aku minta dia pijitin kakiku" sambil berkacak pinggang Amel memandang Andra dan terlihat begitu geram.


"Amel.. asal kau tahu ya... Bi Nur sudah bersama Keluarga Hadiwiguna selama puluhan tahun, jauh sebelum kau disini. Jadi sekali lagi aku minta jaga sikapmu. Bi Nur sudah aku anggap seperti keluarga di rumah ini!!" Andra yang begitu kesal membentak Amel lagi.


"Cih...dasar laki laki nyebelin!" Amel membalas tatapan Andra dengan matanya yang semakin membulat lalu beranjak pergi meninggalkan Andra menuju kamarnya.


"Jangan marah sama Non Amel Den... Bibi nggak apa apa kok...!" Nur menghampiri Andra yang masih terlihat marah.


"Bi aku minta maaf atas nama Amel, gadis sombong seperti dia harus diajari sopan santun Bi!" Andra menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas kasar.


*****


Matahari sudah cukup terik ketika Andra hendak berangkat bekerja. Hari itu ia tidak ke kantor melainkan akan ke gudang HW Logistic untuk memastikan semua pengiriman ekspedisi sudah berjalan lancar.


"Bi Nur...Amel belum bangun ya?" Andra bertanya ke Nur saat iya di meja makan untuk sarapan.


"Belum Den, Non Amel belum ada turun dari tadi" Nur menyuguhkan secangkir kopi dan kembali ke dapur.


"Dasar wanita pemalas!" Umpat Andra sambil menyeruput kopinya.


"Bi aku berangkat dulu!" Walau Nur hanya pelayannya, Andra memang tak pernah lupa berpamitan padanya bila hendak pergi.


Amel turun dari kamarnya dan dengan wajah malasnya ia menuju meja makan.


"Bi Nur... aku lapar sekali tolong siapkan makanan!" perintahnya kepada Nur.


"Non Amel mau Bibi buatin apa untuk makan siang?" Nur menuju kulkas besar yang terletak di dekat dapur dan hendak memasak untuk Amel.


"Hah... makan siang? Sarapan aja belum Bi!" Amel mengerutkan dahinya.


"Lihat itu Non!" Nur menunjuk jam dinding yang terpasang di ruangan itu.


Amel melirik ke arah jam dinding "Ah... sudah jam 1 siang rupanya, kupikir masih pagi!" ucapnya tersipu.


Setelah makan dan berganti pakaian, Amel pergi ke Gedung Prima Go dan hendak menemui papanya. Semenjak menikah, Amel memang jarang mengunjungi papanya di kantor karena sudah pasti kalau dia kesana Firman akan menyuruhnya menemui Andra terlebih dahulu di ruangannya atau menyuruhnya ngajak Andra makan siang bersama.

__ADS_1


"Papa.....Amel kangen papa!" ucapnya saat sudah di ruangan Firman seraya memeluk papanya itu. "Putri papa ini.... pasti ada maunya ya tumben kesini lagi." Firman mengecup kening putrinya.


"Kamu sudah menemui Andra?" seperti dugaan Amel pertanyaan itulah yang pasti didengarnya dari papanya.


"Andra gak ke kantor hari ini pa, dia ke gudang!" Amel duduk di sofa tamu di ruangan itu.


"Pa... Amel mau minta uang tambahan pa!" ucap Amel dengan suara manjanya.


"Hah....minta uang?" Firman membulatkan matanya.


"Iya pa... Andra cuma menjatahi 10 juta sebulan buat Amel, kebutuhan Amel kan banyak, beli skin care, ke salon, baju baru... uang segitu mana cukup Pa!"


"Sayang... kau sudah berumah tangga sekarang, kau harus bisa mengatur keuanganmu sendiri. Kau harus bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Jadi kalau suamimu memberimu segitu, pasti Andra sudah mempertimbangkannya sesuai kebutuhanmu." Firman mengusap rambut putrinya itu. "Dan mulai sekarang, papa tidak akan lagi menafkahimu, suamimu yang berhak menjalankan semua tanggung jawab itu, kalau butuh apa apa kau minta sama dia."


Namun Amel terus merengek agar keinginannya dipenuhi papanya, dan Firman juga tetap kekeh dengan kata katanya.


Beberapa saat kemudian Andra tiba tiba muncul dan masuk ke ruangan itu. Amel menatap kaget sekaligus risih dengan kehadiran Andra disitu.


"Andra kau di kantor?, Tadi Amel bilang kau ke gudang." Firman langsung bertanya ketika Andra sudah di dekatnya.


"Iya Pa... tadi aku memang ke gudang, tapi ada penawaran penting yang harus aku tandatangani, jadi sebelum pulang aku kesini dulu". Andra ikut duduk di sofa di sebelah Amel.


"Nah kebetulan, kalian bisa pulang bareng nanti" Firman tersenyum kepada putri dan menantunya itu.


Wajah Amel langsung terlihat kesal mendengar tawaran papanya.


"Kau pasti sengaja kan kesini membuntutiku kan?" Amel berbisik kepada Andra dan Andra hanya diam tak menanggapi tuduhan Amel kepadanya.


"Ohya.. weekend besok kalian nginap di rumah papa ya... semenjak kalian menikah papa kesepian di rumah sendiri, sesekali kalian harus nemenin papa!" Lanjut Firman lagi.


"Beneran pa? Amel boleh nginep di rumah papa?" Amel nampak antusias.


"Tentu saja sayang... sudah kewajiban kalian meluangkan waktu mengunjungi papa kan?" Firman tersenyum senang.


Untuk menghormati papanya, Amel pun tidak menolak ajakan Andra.


"Kami pamit pa..!" ucap mereka hampir bersamaan sambil mencium tangan Firman secara bergantian.


*******


Jumat sore Amel sudah bersiap akan menginap di rumah papanya. Pulang dari kantor Andra langsung membawa istrinya itu ke kediaman Firmanto. Mereka makan malam bersama disana kemudian Andra menyempatkan ngobrol dengan mertuanya di ruang kerja Firman.


"Sudah malam Ndra..papa ngantuk, sebaiknya kita tidur sekarang, Amel pasti sudah menunggu mu di kamar." Beberapa kali Firman menguap dan menutup obrolannya malam itu lalu melangkah menuju kamarnya. "Andra lalu mengikutinya dan menuju kamar Amel.


"Kau belum tidur?" Andra melihat Amel masih bermain dengan ponselnya sambil rebahan di tempat tidur.


"Ngapain kamu kesini?" Tidur di luar sana!" Amel melemparkan sebuah bantal ke Andra.


"Mel.. kalau aku tidur di luar pasti papa tidak akan mengijinkan, kamu mau papa memarahimu?." Andra membela diri.


"Alah... bilang aja kau memang sengaja cari kesempatan bisa tidur sekamar denganku kan?" Amel berkata ketus lalu bangun dari ranjang itu dan melangkah keluar.


"Kau mau kemana Mel?" Andra heran dengan kelakuan Amel.


"Kalau kau tidak mau tidur di luar, biar aku yang tidur di kamar papa!" Amel beranjak pergi menuju kamar papanya.


Lampu kamar Firman masih menyala ketika itu


"Papa..." Amel masuk ke kamar papanya dan melihat Firman masih belum tidur.

__ADS_1


"Hei...kamu ngapain kesini sayang.. sudah malam, kamu tidur gih" Firman kaget karena putrinya tiba tiba masuk ke kamarnya.


"Amel masih kangen sama papa.. malam ini Amel tidur sama papa disini ya?!" Amel ikut duduk di ranjang papanya.


"Dasar anak papa ini... kau lupa ya kau sudah punya suami. Tidur saja di kamarmu temani suamimu. Tidak baik meninggalkan dia sendiri di kamar, kan ini pertama kali kalian menginap disini setelah menikah" Firman menarik selimutnya dan membalikkan badannya.


"Pa.. please pa.. Amel tidur disini aja sama papa ya, sekali ini saja!" tungkasnya lagi.


"Nggak sayang.... tidur saja di kamarmu!" ucap Firman lagi sambil menguap dan mulai menutup matanya.


Amel keluar dari kamar papanya dan kembali ke kamarnya dengan rasa kecewa.


"Hah....Kau kesini lagi?" Andra yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang kembali terheran heran melihat kelakuan kekanakan istrinya itu.


"Papa melarangku tidur di kamarnya" ucap Amel dengan wajah kesal. Andra hanya tersenyum.


"Kau tidur saja di sofa, ini ranjangku, aku yang berhak tidur disini" Amel merebahkan tubuhnya di sebelah Andra lalu mendorong tubuh Andra agar menyingkir dari ranjang itu. Andra hanya menggeleng lalu mengambil bantal dan tidur di sofa.


Keesokan harinya Andra terbangun, diliriknya jam weker di meja nakas dan sudah pukul 6 pagi. Amel sudah tidak ada di tempat tidurnya, Andra mengintip ke arah kamar mandi namun Amel tidak ada disana. Andra melangkah keluar kamar dan menuju ruang tengah.


"Pagi Tuan, Mau saya buatkan kopi?" Seorang pelayan menyapanya.


"Ahh... iya tolong buatkan kopi hitam tanpa gula ya!" Andra lalu duduk di sofa ruang tengah.


"Ina, Pak Firman belum bangun ya?" Andra bertanya kepada pelayan yang bernama Ina itu saat ia membawakannya kopi yang diminta tadi.


"Tuan Firman sudah keluar jogging di area komplek Tuan." Jawab Ina.


"Amel mana?" Tanya Andra lagi.


"Nona Amelia sedang di kolam renang Tuan."


Andra lalu membawa cangkir kopinya menuju kolam renang yang tak jauh dari ruangan itu. Andra terdiam sejenak dan membulatkan matanya saat menyaksikan pemandangan tak biasa di hadapan matanya.


Amel duduk di tepi kolam renang dengan menggunakan bikini yang hanya menutupi bagian paling sensitif di tubuhnya. Amel lalu masuk menceburkan tubuhnya ke dalam air kolam dan muncul kembali setelah beberapa menit.


Andra duduk di sunbed di tepi kolam renang dan menyeruput kopinya.


"Ahhh...Amel... dia seksi sekali dengan bikininya, apalagi rambutnya basah seperti itu... aaahhh..... sangat menggairahkan!." sejenak pikiran mesum terlintas di kepalanya.


Cipratan air kolam di wajahnya menyadarkan Andra dari lamunannya.


"Hei Andra.. ngapain kamu disitu?" Amel sengaja mencipratkan air ke arahnya sambil membenamkan tubuhnya di air kolam.


"Ngopi!" Andra menyahut sambil meninggikan cangkir kopinya ditunjukkan ke Amel.


"Jangan coba coba ngintip ya!" Teriak Amel lagi. "Hahaha... buat apa ngintip.. kan pemandangan indah ini ada begitu saja di depan mataku, emangnya salah kalo aku melihatnya?" Andra terkekeh dan tersenyum genit sambil terus memandangi tubuh Amel yang meliuk liuk di dalam air layaknya putri duyung.


Amel tidak terlalu peduli dan meneruskan renang nya sampai ia merasa lelah.


Amel keluar dari air kolam dan mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah.


Tiba tiba Amel berteriak "aaawww....!" Tepi kolam yang licin membuat Amel terpeleset dan hampir jatuh ke lantai tapi Andra dengan sigap menangkap tubuh Amel.


Sejenak tatapan mata mereka bertemu ketika Amel ada di dekapan Andra. Jantung Andra berdegup kencang merasakan kulit Amel yang masih basah menempel di tubuhnya.


"Kamu nggak apa apa kan Mel?" Andra melepaskan dekapannya.


"Nggak apa apa, makasih ya kau sudah menyelamatkanku" balas Amel sambil tersenyum.

__ADS_1


Tidak berbeda dengan Andra, Amel Pun merasakan getaran tak biasa ketika pandangan mereka bertemu dan wajah Andra begitu dekat dengan wajahnya.


Amel lalu melangkah ke kamarnya, mandi dan berganti pakaian.


__ADS_2