Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Kado Istimewa


__ADS_3

Malam semakin larut, euporia pesta ulang tahun itu masih berlangsung. Hingga tiba saatnya acara puncak yaitu tiup lilin dan potong kue.


Amelia sudah bersiap di atas panggung ditemani papanya. Andra, Joddy, Benny, Mayra dan beberapa orang tamu VIP juga ikut ada di atas panggung itu dan berdiri di belakang mereka. Diiringi musik dan alunan lagu ulang tahun dari live band Amel meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya lalu memberikan suapan pertama ke papanya.


MC memberi arahan agar ada orang istimewa kedua yang harus disuapi kue juga oleh Amel.


"Untuk suapan kedua akan saya berikan kepada seseorang yang sangat istimewa. Orang yang selama ini setia membantu dan mendukung Papa dalam menjalankan perusahannya, bagi saya beliau bukan hanya partner papa tapi beliau layak mendapat posisi khusus di hati kami karena pengorbanan dan jasanya kepada perusahan kami selama ini" terdengar suara Amelia dari microphone yang dipegang MC dan diarahkan ke Amel yang sedang memegang piring berisi potongan kue di tangan kiri dan sendok di tangan kanan.


Amel membalikkan badannya ke belakang mendekati Benny dan hendak memberikan suapan itu kepadanya. Namun disaat yang bersamaan HP Benny terjatuh dari genggamannya. Sontak saja Benny membungkuk mengambil phonselnya itu. Sendok yang sudah terisi potongan kue di tangan Amel mengarah tepat ke hadapan Andra yang sedari tadinya berdiri berdampingan dengan Benny. Andra spontan membuka mulutnya dan tak menyadari kalau suapan itu sebenarnya bukan untuknya namun untuk Benny.


Tepuk tangan dari para undangan kembali terdengar dan banyak yang mengacungkan jempolnya juga.


Salah satu tamu VIP langsung menyalami Firman dan Joddy sambil berkata


"Selamat ya Pak Firman, Pak Joddy. Rupanya sebentar lagi anda akan jadi besan".


Firman dan Joddy langsung tersenyum senang dan secara bersamaan mengucapkan terimakasih.


Amel terlihat jengkel karena sudah salah sasaran, namun Andra hanya tersenyum menatapnya.


Acarapun ditutup. Beberapa undangan memberikan hadiah ulang tahun untuk Amel lalu meninggalkan tempat itu.


Kini hanya tinggal Amel, Firman, Joddy dan Andra disana. Amel mendekati Andra sambil tersenyum.


"Mana kado buatku?" Ucapnya sambil menengadahkan telapak tangannya di hadapan Andra.


Andra hanya tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dihiasi pita berwarna emas dari sakunya lalu memberikannya pada Amel.


"Hah...sekecil ini, apa isinya?" Keluh Amel.


"Buka saja sendiri" Andra hanya tersenyum dingin.


"Karena acara sudah selesai, kami pamit pulang dulu. Amel... sekali lagi Om ucapkan selamat ulang tahun ya semoga kebahagian selalu bersamamu" Joddy menjabat tangan Amel.


"Baiklah Om... terimakasih atas semuanya" Amel tersenyum kepada Joddy sambil mencium tangannya.

__ADS_1


Joddy dan Andra pun meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan pulang, tak henti hentinya Joddy memuji Amelia dan Andra hanya mendengarkannya tanpa ekpresi.


"Pestanya tadi memang luar biasa ya... Amel itu ternyata jago banget ngurus acara seperti itu."


"Ohya Ndra, kado apa yang kau berikan untuk Amel tadi?" Joddy menoleh ke arah putranya di sebelahnya yang sedang meyetir.


"Entahlah Yah... Andra juga gak tahu apa isi kado itu, tadi siang Andra nggak sempet nyariin kado jadi suruh Mbak Nadya yang membelikannya" jawab Andra terkekeh kecil.


Mobil merekapun terus melaju menuju ke rumahnya.


Sementara itu di kamar hotel Amel terlihat sibuk membuka beberapa hadiah dari teman temannya. Amel memperhatikan kado pemberian Andra yang kini ada di genggamannya.


"Ayo buka... itu kan kado dari orang paling special" Mayra menggoda Amel.


"Sepertinya isinya hanya barang murahan deh, kotaknya aja sekecil ini" ucap Amel meremehkan.


"Hei... don't judge a present because the cover is too small" Mayra terkekeh terus mengejeknya.


Akhirnya Amel membukanya juga. Sebuah kalung emas dengan liontin mutiara berbentuk hati dan terdapat huruf A terukir di tengahnya.


"Wow... kalungnya cantik sekali" Mayra menjulurkan tangannya hendak mengambil kalung itu dari tangan Amel.


Dia seketika ingat bagaimana tadi Mayra berdansa romantis dengan Andra.


"Hmmm....hanya kalung murahan, Si Es Batu itu memang seleranya rendahan banget ya.." Amel meletakkan kalung itu di meja nakas begitu saja.


"Kalungnya boleh murahan Mel, jangan lo lihat nilainya, tapi lu lihat deh bentuknya, seperti penuh dengan cinta.... kayaknya sih Andra pengen ngungkapin perasaannya sama elo Mel" Mayra tersenyum.


"Alah... gue gak yakin cowok dingin itu bisa punya perasaan May, yang dia lakukan cuma cari perhatian sama gue dan juga bokap gue. Dasar manusia sok pintar!" Amel berbicara sambil memonyongkan bibirnya.


"Jangan terlalu mencela begitu...lama lama jadi memuji loh.. sekarang benci besok bisa jadi cinta hahaha..." Mayra menggodanya lagi.


"Apaan sih May..." Amel menggeleng kesal.


"Ah...aku mau mandi dulu Mel... rasanya melelahkan sekali hari ini, aku mau berendam di bath tub sebentar biar relax" Mayra meninggalkan Amel yang masih rebahan di ranjangnya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Setelah terdengar suara pintu kamar mandi sudah ditutup oleh Mayra, Amel menengok ke arah kamar mandi memastikan lagi kalau Mayra sudah benar benar masuk kesana. Perlahan ia menuju meja nakas dan kembali mengambil kalung pemberian Andra. Amel tersenyum memandangi liontin indah di kalung itu. Perasaan tak biasa seolah mengisi hatinya namun kesombongannya meyakinkannya itu bukanlah apa apa.


********


Keesokan harinya....


Di lantai 25 gedung Prima Go, Amel berjalan menuju meja Nadya yang ketika itu Nadya terlihat sangat serius dengan komputernya.


"Nadya... boss mu ada di ruangannya?" Amelia langsung bertanya tanpa menoleh ke arah Nadya.


"Eh Non Amel, Pak Andra ada Non beliau di dalam" Nadya menjawab sambil melirik ke arah kalung yang sedang dikenakan Amel lalu tersenyum.


Sejenak Amel menoleh ke Nadya dan menyadari kalau Nadya memperhatikan kalungnya. Buru buru Amel berpaling dan tanpa sadar ia menyentuh kalung pemberian Andra yang sedang dipakainya.


"Emangnya ada yang aneh ya dari kalung ini? Kenapa Nadya melihatku sambil senyum begitu"  gumamnya dalam hati sambil melangkah masuk ke ruangan Andra.


"Hi are you busy?." Amel menyapa Andra ketika dia sudah masuk dan mendapatkan Andra juga tengah serius di depan laptopnya.


"Amel... tumben kau masuk kesini?" Andra sedikit heran namun Andra tetap diam tak beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau ke ruangan papa, tapi tadi Nadya bilang kau lagi di kantor jadi aku mampir" Amel duduk di kursi di hadapan Andra.


"Aku mau bilang makasih untuk kadonya kemaren" Amel melanjutkan berbicara sambil mengangkat kepalanya berharap Andra memperhatikan kalungnya.


"Ah bukan apa apa" Andra menjawab dengan nada datar dan matanya yang masih terus fokus ke layar laptopnya.


"Dasar tidak peka, dia gak melirik hadiahnya sama sekali padahal aku sudah berusaha menghargai dengan memakai kalung pemberiannya" umpat Amel penuh rasa kesal.


Drettt... dretttt... ponsel di atas meja Andra bergetar. Tangan Andra langsung meraih ponselnya itu.


"Hallo.." Andra menjawab teleponya tanpa memperdulikan Amel yang ada dihadapannya. Amel makin kesal, dia lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan Andra.


Amel masuk ke toilet wanita. Di depan cermin wastafel toilet itu Amel memandangi dirinya sendiri penuh rasa kesal. "Dasar pria es batu nyebelin!! Beraninya dia cuekin aku seperti ini" Amel berbicara sendiri dengan nada menahan amarahnya. Dia lalu melepaskan kalung yang dipakainya dan menghempaskannya kasar ke meja wastafel. Sejenak ia terdiam menahan emosinya lalu beranjak pergi.


"Nona Amelia...." belum jauh dia melangkah sebuah suara mengagetkannya.

__ADS_1


Seorang office girl berjalan cepat menghampirinya.


"Non Amel... ini kalungnya ketinggalan di toilet" office girl itu menyerahkan kalung yang dibuangnya tadi. Amel meraih kalung itu dari tangan office girl tanpa ekspresi di wajahnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Amel memasukkan kalung itu ke dalam tasnya sambil melangkah menuju ruangan papanya.


__ADS_2