Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Mobil Baru


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah kejadian malam itu. Bagi Amel malam itu sungguh menjadi malam yang tidak pernah bisa dilupakannya. Ada perasaan berbeda yang selalu muncul dibenaknya, kehadiran Andra di dekatnya menjadi hal yang sangat diinginkannya, namun keangkuhannya tetap tidak mau mengakuinya. Sikap Andra yang juga masih dingin terhadapnya membuatnya selalu berusaha melawan kata hatinya.


Hujan deras mengguyur Ibu Kota dari sepanjang malam, sebagian ruas jalan sudah mulai digenangi banjir.


Andra sudah berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya agar tidak terlambat karena banjir kemungkinan jalanan akan sangat macet.


Amel baru bangun dari tidurnya ketika jarum jam sudah di angka 8 pagi. Setelah mandi dan sarapan Amel bersiap akan ke studio senamnya Mayra karena ia akan berlatih koreo bersama Mayra dan teman temannya yang lain.


Amel tiba tiba berubah sangat kesal karena ketika akan pergi dia tidak menemukan supir dan mobilnya. Nur mengatakan kepadanya bahwa hari itu mobil dan sopirnya sudah berangkat ke bandara untuk menjemput client VIP perusahan yang datang dari luar kota. Sebenarnya hal ini bukan kejadian baru bagi Amel karena memang sudah sering mobil itu dipakai untuk urusan perusahan. Tapi kali ini baik Andra maupun supirnya tidak memberitahunya sebelumnya. Itulah yang membuatnya makin kesal.


"Tadi Den Andra berpesan kalau Non Amel mau pergi agar naik taksi online saja Non" Nur menyampaikan pesan tuannya kepada Amel.


"Andra kali ini benar benar sudah sangat keterlaluan, masa aku harus naik taksi online?!" Umpatnya sambil menghembuskan nafas kasarnya.


Sampai menjelang sore hujan masih turun namun hanya sisa gerimis kecil. Jalanan masih tampak basah karena seharian hujan.


Di pinggir jalan tak jauh dari komplek perumahan kediaman Hadiwiguna, nampak seorang supir taksi online turun dari mobilnya dan mengecek kap mesin. Mobil itu mogok dan Amel yang ada di dalam mobil itu terlihat sangat kesal.


"Masih bisa jalan nggak sih mobilnya Pak?!" Amel yang kesal pun tidak sabaran menengok keluar melalui jendela mobil.


"Maaf Mbak sepertinya saya harus panggil montir kesini. Saya lihat di map, tujuan Mbak sudah dekat, Mbak turun disini saja...!" sambil bersungut supir taksi itu membukakan pintu agar Amel turun dari mobil.


"What?? Jadi aku harus pulang jalan kaki dari sini? mana hujan lagi.. ah yang benar saja?!" Amel membulatkan matanya.


"Sekali lagi maaf Mbak ini di luar keinginan saya". Supir taksi online itu mencakupkan kedua tangannya di dada dan membungkukkan punggungnya di hadapan Amel.


Amel turun dari mobil itu lalu melemparkan beberapa lembar uang kertas kepadanya dengan sangat acuh.


"Lihat saja aku akan memberimu bintang 1" ucapnya lagi kepada supir tadi lalu melangkah meninggalkan taksi yang masih mogok itu.


Belum jauh dia melangkah nampak mobil Andra memasuki komplek perumahan itu. Andra melihat Amel yang berjalan kaki di tengah gerimis hujan. Andra menghentikan mobilnya lalu turun menghampiri Amel hendak mengajaknya pulang bersama.


"Amel...kenapa kamu jalan kaki hujan hujan begini?" Andra memanggil Amel yang sudah jauh melangkah di depannya.


Amel terkejut mendengar suara Andra yang memanggilnya lalu menoleh ke belakang.


"Ini semua gara gara kamu Andra....! Kau pakai mobil dan supir tanpa izin ku dan kau juga yang menyuruhku naik taksi online! Kamu lihat itu taksinya mogok!"

__ADS_1


Andra hanya tersenyum kecut melihat kemarahan di wajah Amel. "Ya sudah ayo sekarang naik ke mobil kita pulang sama sama!" Andra meraih tangan Amel mengajaknya menuju mobilnya.


"Ngak perlu!.... aku tidak akan mau pulang sama kamu, aku bisa jalan sendiri!" Amel melepaskan tangan Andra dengan kasar lalu melangkah cepat meninggalkan Andra.


"Dasar gadis sombong, keras kepala!" Andra mengumpat sendiri dan kembali naik ke mobilnya.


Andra mulai tancap gas meninggalkan tempat itu, ban mobilnya melewati genangan air di dekat Amel yang sedang berjalan dan cipratan air mengenai Amel sehingga Amel pun basah kuyup.


"Dasar laki laki sialan kau Andra!!!" teriak Amel keras dan sangat marah sambil mengibas ngibaskan bajunya yang basah sementara mobil Andra terus melaju di depannya.


"Rasain kau gadis sombong!" Andra tersenyum sinis memperhatikan Amel dari spion mobilnya.


Amel tiba di rumah dengan bajunya yang sudah basah kuyup. Kekesalan terlihat jelas dari raut mukanya.


 


Seusai makan malam Amel mencari kesempatan untuk menemui Andra.


"Andra...aku minta dibelikan mobil. Aku tidak butuh supir aku bisa nyetir sendiri!" Amel menghampiri Andra yang tengah duduk di ruang kerjanya.


Andra diam tak menoleh dan tak menjawab permintaan Amel tapi tetap fokus di layar laptopnya.


Andra masih tetap diam memandangi layar laptopnya.


"Plaakkk..." Amel yang kesal melihat sikap cuek Andra langsung menutup layar laptop Andra dan duduk diatas meja di hadapan Andra sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


Andra mendengus kasar dan menatap Amel. "Mau apa lagi sih?" Andra mengangkat wajahnya dan bangun dari tempat duduknya.


"Aku minta mobil, aku nggak mau ada kejadian seperti tadi sore lagi!". Amel mengulangi lagi kata katanya.


Andra menggelengkan kepalanya lalu menatap Amel. "Mel.... aku sudah sediakan mobil dan juga supir untukmu, kurasa kau tak perlu nyetir sendiri kalau mau kemana mana"


"Aku pengen mobil khusus untukku sendiri.... bukan sharing sama perusahan...!"


"Aku tidak akan membiarkanmu nyetir sendiri Mel.... diantar supir aja kamu masih suka keluyuran sampai malam, apalagi kalau aku membiarkanmu bawa mobil sendiri bisa bisa kau lupa pulang".  Andra kembali menggelengkan kepalanya.


Amel terus membujuk dan Andra pun tetap menolak. Adu mulut antara mereka terus berlanjut, keduanya sama sama keras kepala dan tetap pada pendirian masing masing.

__ADS_1


 


"Percuma ngomong sama orang sepertimu! Kalau kau tidak mau kasih aku mobil, aku akan minta sama papa!" Amel ingin menutup perdebatan mereka dan melangkah keluar.


"Mel....tunggu dulu!" belum beberapa langkah Amel berjalan Andra menghalangi jalannya dan menghentikannya.


Andra memegang kedua pundak Amel lalu mendekatkan tubuh Amel ke dekapannya, tatapan mereka beradu. Jantung Amel berdetak kencang, sesaat kenangan akan kejadian malam itu kembali melintas di pikirannya saat dia memandang wajah Andra yang begitu dekat dengannya.


"Apa lagi? Aku mau ke kamar, ngantuk, mau tidur!" Amel memalingkan wajahnya melepaskan tatapan Andra.


"Mel... masalah mobil kita bicarakan lagi nanti. Jangan minta apapun ke papa, kau tahu kan kalau papa sudah menyerahkan tanggung jawab menjagamu kepadaku? tolong hargai itu!" Andra berbicara tenang berusaha mendinginkan suasana.


"Ok...tapi aku gak mau nunggu lama!" Amel berusaha melepaskan tangan Andra yang masih memegang bahunya.


"Lalu kalau aku membelikan mobil buatmu, apa imbalannya buatku?" Andra tersenyum genit dan makin mendekatkan tubuh Amel ke dalam dekapannya.


"Whatever!" Amel hanya bisa menjawab singkat kemudian menundukkan wajahnya.


"Realy?" Andra mengangkat dagu Amel dengan dua jarinya, dan menatap mata Amel lebih dalam. Keduanya saling menatap untuk sesaat, tanpa sepatah katapun terucap dari bibir mereka.


"Hattchhi.....hattchii..." Amel tiba tiba bersin tak bisa menahan hidungnya yang mulai terasa gatal dan membuyarkan tatapan mereka.  Akibat kehujanan tadi sore, Amel merasa badannya mulai meriang sepertinya ia terserang flu.


"Kamu sakit Mel?, pergi minum obat dan istirahatlah!" Andra pun melepaskan Amel dari dekapannya.


******


Sudah seminggu semenjak saat itu Andra belum juga membelikan mobil yang diminta Amel. Hampir setiap hari dia menanyakannya ke Andra tapi ada saja alasan Andra untuk terus menundanya. Bagi Andra membiarkan Amel pergi sendiri tanpa supir sama halnya dengan memberikan sebilah pisau tajam untuk anak kecil sebagai mainan yang mana itu akan membahayakan dirinya sendiri.


Amel yang kesal karena Andra tidak kunjung menepati janjinya lalu memberanikan dirinya menemui papanya dan mengutarakan keinginannya. Dia berharap Papanya akan membelikannya mobil.


"Pa...Amel capek kalau harus berbagi mobil sama perusahan terus, giliran Amel butuh, mobilnya dipakai Andra untuk urusan kantor. Dan Amel tahu bukan uang masalahnya Pa... tapi Andra sengaja melakukan ini, entah apa tujuannya?!... yang pasti dia itu memang sangat pelit!" .


"Amel juga bosan pa... Amel butuh hiburan, Andra itu hanya sibuk sama kerjaannya saja, apalagi seperti sekarang Andra ke luar kota untuk beberapa hari, Amel suntuk kalau harus di rumah saja" Amel terus saja merengek membujuk Firman berusaha meyakinkan papanya agar memenuhi keinginan nya.


Firman yang sudah sangat mengenal sifat keras kepala anaknya itupun hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sayang...papa tidak punya hak untuk mencampuri urusan rumah tangga kalian, semua keputusan ada di tangan suamimu, tapi kalau alasamu seperti itu, nanti saat Andra sudah kembali papa akan coba bicara padanya...."

__ADS_1


 


Karena bujukan Firman akhirnya Andra sudah tidak bisa menolak lagi untuk memenuhi keinginan Amel. Sebuah city car yang diidam idamkan Amel pun dibelikannya.


__ADS_2