
Di kediaman Hadiwiguna, Andra dan ayahnya sedang menikmati makan malam bersama.
"Bagaimana kantor hari ini Nak?" Joddy bertanya kepada Andra yang masih asik menikmati makanannya.
Pertanyaan ini hampir tiap hari didengarnya. Ayahnya selalu menanyakan itu tiap kali dia pulang kantor atau saat makan malam bersama seperti sekarang.
"Baik Yah.." jawaban Andra pun setiap hari selalu sama seperti itu.
"Ayah mau bicara serius sama kamu." Joddy memulai pembicaraan lagi sambil menatap putranya itu.
"Andra... jangan hanya mikirin kerjaan saja, ayah mau kamu juga mikirin dirimu sendiri Nak, ayah pengen sekali melihatmu menikah."
Andra tersedak tiba tiba saat mendengar kata kata ayahnya. Andra mengambil segelas air dan langsung menghabiskannya.
"Ayah...aku belum ingin menikah yah.. belum ada wanita yang dekat denganku sampai saat ini, dan kalaupun Andra menikah nanti Andra pengen punya istri seperti almarhum bunda. Cantik, pintar, perhatian dan pastinya rendah hati Yah." Jawab Andra menjelaskan keinginannya terhadap Ayahnya.
Sejenak Joddy teringat akan almarhum istrinya dan sekilas Andra bisa melihat wajah sedih ayahnya.
"Maafin Andra Yah... perkataanku pasti mengingatkan ayah akan Bunda ya?" Andra merasa bersalah telah mengingatkan kenangan masa lalu ayahnya.
"Andra... dulu ayah menikah dengan bunda mu itu karena perjodohan, mendiang kakekmu Chandra Hadiwiguna lah yang membuat itu terjadi. Kakekmu menikahkan ayah dengan sekretaris kesayangannya Vania..., ya... Bunda kamu itu." Joddy tersenyum mengenang kisah lamanya bersama almarhum istrinya.
"Awalnya Ayah dan Bunda tidak saling mencintai, tapi setelah menikah dan seiring berjalannya waktu kami saling jatuh cinta bahkan cinta itu tumbuh semakin kuat." Kenangnya lagi.
"Sampai kamu lahir, lalu ayah memberimu nama JOVANDRA, itu adalah gabungan nama Ayah, bundamu dan juga kakekmu" lanjutnya lagi.
Beberapa detik keduanya terdiam.
"Andra... ayah ingin menjodohkanmu dengan Amelia, bagaimana menurutmu?" Joddy langsung bicara to the poin sambil tersenyum pada Andra.
__ADS_1
"Ayah jangan menggoda Andra yah..., Ayah pasti cuma bercanda kan?.. hehe" Andra terkekeh.
"Ayah serius Nak, ayah dan Om Firman sudah menyepakatinya. Kita akan segera tentukan tanggal pernikahan kalian."
Andra membulatkan matanya "Ayah tolong jangan buru buru ambil keputusan, sungguh saat ini Andra belum ingin menikah yah.. apalagi dengan Amelia gadis sombong itu... tidak Yah.. Andra nggak mau" Andra tetap menolak.
Malam itupun berlalu dengan cepat, Joddy masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Andra. Tapi batinnya tetap ingin Andra mengikuti kemauannya.
Hari berikutnya di kediaman Firmanto. Amel baru pulang dari spa untuk perawatan dirinya dan shopping bersama teman temannya.
Firman duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah majalah property.
"Sayang kau baru pulang?" Tanyanya kepada putrinya yang masuk sambil membawa beberapa tas belanja.
"Iya pa... tadi Amel ke mall sama Mayra terus ke spa buat mandi lulur sama sauna aja Pa.." jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa di dekat papanya duduk.
"Sini sayang...papa ingin membicarakan hal yang serius sama kamu" Firman meraih tangan putrinya, menariknya lalu membawanya ke dekapannya. "Putri kesayangan papa ini sudah bukan peri kecil lagi sekarang, kau sudah dewasa sayang... papa ingin kamu segera menikah."
"Papa dan Om Joddy sudah sepakat akan menjodohkan kamu dengan Andra. Kami akan segera menentukan tanggal pernikahan kalian." Firman mengusap kening putrinya.
"Apa?? Papa menjodohkanku dengan pria dingin itu?" Amel membulatkan matanya seolah tak percaya.
"Amel... papa yakin hanya Andra pria yang paling cocok jadi pendamping hidupmu sayang. Andra pria yang baik dan bertanggung jawab, kamu akan bahagia hidup bersamanya" Firman menegaskan kembali kata katanya.
"Tidak pa... Andra itu bukan pria yang baik. Dia hanya suka cari perhatian papa dengan sikap sok pintarnya itu" Amel menunjukan raut muka tidak senang.
"Andra tidak seperti itu sayang... justru semenjak Andra ikut bantu papa di perusahan, Prima Go banyak mengalami kemajuan. Kamu ingat demo pekerja waktu itu? Andra bahkan rela mempertaruhkan keselamatannya demi membela perusahan papa. Kalau nggak ada dia papa nggak tahu apa yang akan terjadi?!" Kembali Firman berusaha meyakinkan putrinya.
Amel menghela nafas "Pa..., yang Andra lakukan itu gak sebanding dengan apa yang sudah papa korbankan untuk keluarga Hadiwiguna Pa..., Papa sudah menyelamatkan perusahan mereka dari kebangkrutan, papa juga rela berbagi kantor dengan mereka. Lalu sekarang..... papa juga ingin memberikan hidup Amel untuk mereka?? Tidak pa...! Amel nggak mau.. Amel nggak cinta pa... sama Andra..!!" Amel mulai terlihat kesal.
__ADS_1
"Amel...!, selama ini papa selalu memberikan yang kamu inginkan...., sekali ini saja papa mau kamu menuruti kemauan papa!." Suara Firman semakin menegas.
"Pa... entah apa yang sudah mempengaruhi pikiran papa sehingga papa begitu baik terhadap Andra dan Ayahnya itu?! Papa sadar nggak kalau mereka itu cuma manfaatin papa....! Mereka itu cuma parasit pa..! mereka akan selalu menempel pada papa dan hanya ingin mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri!"
Amel berdiri dari tempat duduknya hendak pergi meninggalkan papanya namun dengan cepat Firman menahan putrinya itu.
"Tutup mulutmu Amel.....!" Wajah Firman terlihat begitu marah mendengar ucapan Amel tadi.
"Sekali lagi papa dengar kau bicara seperti itu tentang Andra dan Om Joddy... papa nggak akan segan beri kamu pelajaran!!" Firman menaikkan jari telunjuknya ke wajah Amelia dengan penuh kemarahan.
"Kenapa papa marah pa?! Memang kenyataanya begitu kan?" Amel juga semakin berani melawan papanya.
Firman menghela nafas lalu menghembuskannya kasar.
"Kamu salah menilai mereka Amel..." suaranya mulai datar menahan amarah.
"Kamu nggak pernah tahu kalau bukan karena Om Joddy, hidup kita tidak akan bisa seperti sekarang ini" Firman menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Amel.
'Amel...kamu ingat betapa susahnya hidup kita dulu sewaktu kamu masih kecil?? Kalau bukan Om Joddy yang membantu papa waktu itu, Prima Go tidak akan pernah ada. Disaat papa terpuruk dan ada di titik terendah, nggak ada orang yang mau bantu papa selain Om Joddy. Dialah yang memberi papa pinjaman modal tanpa bunga dan tanpa syarat apapun sehingga papa bisa mewujudkan membangun perusahan papa sendiri sampai jadi seperti sekarang. Apa yang papa lakukan sekarang tidak seberapa dibandingkan dengan jasa Om Joddy untuk kehidupan kita Amel."
Amel terdiam tak dapat berkata kata lagi lalu menundukkan kepalanya. Sejenak ia teringat masa kecilnya hidup susah bersama papanya. Sepulang sekolah Amel selalu ikut papanya ke proyek pembangunan tempat papanya bekerja yang panas dan penuh debu karena tidak ada orang yang menjaganya di rumah. Disana dia bermain dan belajar sambil menunggu papanya selesai bekerja. Makan pun seadanya karena papanya tidak cukup uang untuk membeli makanan, tinggal di kontrakan sederhana dan kumuh.
Kedua mata Amel mulai basah, dia tak mampu menahan tangisannya mengingat semua kesusahannya di masa lalu.
"Papa...maafin Amel pa..!" Amel terisak sambil memeluk papanya.
"Sayang... papa minta kali ini kamu harus setuju menikah dengan Andra. Papa sangat yakin dengan pilihan papa kalau Andra itu calon suami paling ideal buat kamu. Papa gak mau kamu salah memilih nantinya, papa hanya ingin kamu bahagia." Firman mengembalikan topik pembicaraan kembali ke rencana perjodohannya.
"Pa... kasih kesempatan Amel untuk berfikir dulu pa... saat ini Amel belum mau menikah dan meninggalkan papa disini sendiri disini" Amel ingin menutup perdebatan mereka segera.
__ADS_1
"Iya sayang... tapi papa rasa kamu gak perlu berfikir lagi, keputusan papa sudah bulat. Papa akan segera mengatur pernikahanmu dengan Andra."
Amel lalu melangkah menuju kamarnya meninggalkan Firman yang masih duduk di tempat semula.