Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Rahasia Rizal


__ADS_3

Rizal mengerutkan wajahnya, kemarahan masih terlihat jelas dari tatapan matanya. Kekecewaannya atas kecerobohan Pramana yang terjadi berulang ulang membuatnya merasa begitu geram.


"Pamana....., anak itu betul betul sangat ceroboh!" Batinnya mengumpat kesal.


"Percuma aku menganggapnya seperti anakku sendiri, dia sungguh tidak bisa diharapkan! Dia hanya bisa memikirkan kesenangannya sendiri, menghambur hamburkan uang dan main perempuan, tapi otaknya itu tidak ada isinya sama sekali, dasar bodoh!" Rizal duduk bersandar di kursi kerjanya dan menarik nafas dalam mencoba meredam kemarahannya.


Belum habis murka yang menghujani jiwanya, Rizal kembali terhenyak. Matanya membulat, tangannya tiba tiba tremor sangat kencang.


Cletak....!


Pena yang sedari tadi di pegangnya diantara jarinya langsung terjatuh menghantam permukaan meja.


"Apa kabar Mas Rizal, apa kau masih ingat padaku?" Julia berdiri di hadapannya sambil mengulas senyum palsu di bibirnya.


'Kau...??, mau apa kau datang kesini lagi?' Bibir Rizal seketika bergetar hebat, ekspresinya pun mengeras.


"Tentu saja untuk bertemu denganmu Mas! Apa kau juga merindukanku?" Julia menyeringai dan aura teror nampak terselip di balik wajah kakunya.


Rizal bergidik dia tahu wanita di hadapannya itu sedang tidak ingin bersikap ramah terhadapnya tapi ada dendam yang ia ingin tunjukkan di balik keramahan palsunya itu.

__ADS_1


"Bertahun tahun kau pergi meninggalkanku Julia..... sekarang untuk apa kau kembali lagi?" Rizal bertanya dengan seringai miringnya.


"Kau bilang aku yang meninggalkanmu Mas??" Julia ikut memasang senyum cibiran di bibirnya. "Kau yang mencampakkan aku begitu saja saat keadaanku sedang sangat menyedihkan!" Lanjutnya lagi dengan raut mukanya memerah.


"Lalu apa tujuanmu kesini sebenarnya Julia? Apa benar kau merindukanku?" Rizal berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekati Julia yang masih berdiri angkuh menatapnya.


Rizal menatap mata Julia penuh arti lalu meraih pundak Julia dan mendekatkan tubuh Julia ke dalam dekapannya namun dengan cepat Julia menampiknya sangat kasar.


"Aku kesini bukan untuk mengenang kisah lama kita Mas! Aku kesini karena aku ingin mengambil semua aset yang menjadi hak ku!" Julia mundur selangkah menjauhi Rizal lalu menatap Rizal dengan sorot mata iblisnya.


Rizal berdecak lalu kembali menatap Julia dengan alisnya yang tersentak. "Aset?? Aset apa yang kamu maksud Julia?" tanya Rizal dengan wajah yang semakin terlihat tegang.


"Hah harta? Harta yang mana? Jangan mimpi kau Julia! Kau sudah tidak punya hak apa apa lagi atas semua itu!" Ucap Rizal sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu salah Mas, semua itu masih menjadi milikku sampai saat ini!" Kembali senyum sinis itu tersungging di bibir Julia.


"Ku rasa kau belum lupa Mas! Dulu..., kau merayuku dengan memberiku banyak harta agar aku mau menikah denganmu! Dan harta itu semua juga sudah kau alihkan atas namaku sebelum pernikahan kita, jadi sampai sekarang harta itu adalah milikku sepenuhnya!" Julia melenggang angkuh di hadapan Rizal dengan senyum kemenangan terlukis di bibirnya.


Rizal hanya bisa menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar. "Wanita ini sangat licik, dia berhasil menjebakku dalam situasi sulit ini... Ahhh sial!" Umpat Rizal dalam hatinya.

__ADS_1


Julia lalu mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.


"Ini bukti kepemilikan ku atas semua aset itu Mas!" ia menyerahkan map itu pada Rizal. "Aku kasih kamu waktu satu bulan untuk mengumpulkan semuanya, karena bulan depan aku akan ambil semua hak ku itu termasuk rumah yang masih kau tempati sampai saat ini, aku minta agar kau mengosongkannya segera! Karena rumah itu adalah milikku kau tidak berhak tinggal disana!" Tegas Julia.


"Bulan depan aku sudah akan pulang ke Jerman Mas, jadi sebelum aku pulang, semua urusan kita harus sudah selesai!" Julia memberi ancaman dan hanya tersenyum kecut menatap Rizal yang nampak tengah berpikir keras untuk menghadapinya.


Julia lalu melangkah meninggalkan ruangan kerja Rizal dengan senyum puas penuh kemenangan menghiasi wajahnya yang penuh dendam.


Rizal berdiri mematung memandangi map yang ada di tangannya.


"Sial......kau memang sedang sangat sial hari ini Rizal!" batin Rizal kembali mengumpat.


"Tadi Pramana sekarang Julia......, arghhhh.... !!!" Rizal memukul kepalanya sendiri penuh kekesalan.


"Julia.... kau itu memang hanya perempuan pembawa sial! Dari dulu kau sama saja...., perempuan materialistis, perempuan murahan! Hanya karena dulu aku tergoda oleh kecantikanmu sekarang aku menyesal pernah merebutmu dari suami pertama mu, dan sekarang kau malah ingin menghancurkanku! Argghhhhh......!!" Rizal makin terlihat kesal menyesali masa lalunya dan amarahnya kembali memuncak.


Ia melemparkan map di tangannya ke lantai dengan sangat kasar dan menginjak injaknya meluapkan semua kemarahannya.


"Satu bulan.... ok satu bulan Julia.... aku harus menyingkirkanmu sebelum kau mengambil semuanya dariku!" Senyum licik itu kini kembali terbias di wajah Rizal. Ia mulai memikirkan cara agar bisa membuat Julia menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2