Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Tanda Tanya


__ADS_3

Lambaian tangan Andra yang sudah terlihat dari kejauhan membuat Amel semakin mengembangkan senyuman di bibirnya saat ia tiba di terminal kedatangan. Amel bergegas menghampiri suaminya yang sudah selama 1 minggu meninggalkannya untuk perjalanan bisnis ke luar kota.


Andra langsung melingkarkan tangannya di pinggang Amel dan mengecup keningnya saat mereka bertemu, sambil bergandengan tangan mereka menuju area penjemputan. Pak Usman langsung mengambil alih koper Andra dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Andra dan Amel masuk ke mobil lalu duduk di kursi penumpang.


"Aku kangen banget sama kamu sayang!" Ucap Andra saat mobil itu sudah berjalan pelan meninggalkan area bandara.


"Aku juga sama sayang!" sahut Amel sambil tersenyum manis kepada Andra.


Andra kembali menyelipkan tangannya di pinggang Amel dan membawanya ke dekapannya, rasa rindunya sudah tak tertahan lagi setelah beberapa hari meninggalkan istrinya.


"Mmmmhhhh" tanpa babibu Andra langsung melancarkan ciuman di bibir Amel. Tak malu malu Amel juga membalas ciuman Andra tanpa mempedulikan Pak Usman supirnya yang duduk di depan sedang menyetir. Bagi Pak Usman pemandangan seperti itu sudah biasa dilihatnya. Dia sedikitpun tidak merasa heran ataupun risih namun ia sangat bisa memaklumi kelakuan Tuan dan Nyonya mudanya yang sedang dimabuk cinta itu. Andra dan Amel memang sering dia lihat melakukan deep kiss saat di dalam mobil terlebih saat setelah berpisah untuk beberapa hari seperti sekarang.


"Bagaimana hari harimu sayang?" Tanya Andra sesaat kemudian.


"Banyak hal menyenangkan yang terjadi seminggu ini sayang" Jawab Amel sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Andra. Amel pun menceritakan semua yang sudah di jalaninya selama seminggu tanpa suaminya. Senyum manis tetap terbias dari bibir Amel saat bercerita. Andra tidak terlalu fokus mendengarkan cerita Amel, ia malah sibuk memainkan rambut Amel sambil terus memandangi wajah cantik istrinya dan mulutnya yang terus berceloteh.


"Aku sudah punya team baru di kantor sayang...., besok dia sudah mulai bekerja!" Amel melanjutkan lagi ceritanya.


"Oh ya? Bagus dong... kamu jadi ada yang bantuin kerjaannya". Andra menanggapi santai.


"Masih akan aku review dulu kinerjanya sayang, kalau dalam tiga bulan ini dia bisa bekerja dengan baik baru aku akan menjadikannya karyawan kontrak" Amel mendekatkan wajahnya ke Andra, dan Andra kembali mencium mesra bibir Amel.


"Sayang kita langsung pulang ke rumah papa ya! Tadi papa telepon ngajakin kita makan malam dan menginap disana!" ujar Amel. Andra hanya mengangguk tak menolak.


Mobil itupun melaju ke kediaman Firmanto.


Tiba disana Firman sudah menyambut mereka dan mengajak makan malam bersama seperti biasanya. Andra dan Amel memang sengaja lebih sering menemani Firman di kediamannya karena mereka tidak ingin Firman merasa kesepian di rumah besarnya tinggal seorang diri. Mereka memutuskan menginap disana beberapa hari.


Pagi itu, Andra dan Amel sudah di meja makan hendak sarapan, namun Firman belum disana, Amel lalu masuk ke kamar Firman dan melihat Firman sedang bersiap. Amel membantu papanya merapikan dasi dan jasnya.


"Papa sebentar pa, ada itu!?" Amel menunjuk rambut Firman.


Firman segera menoleh ke arah cermin dan memperhatikan rambutnya. "Ada apa di rambut papa sayang? Nggak ada apa apa tuh!" Firman terus memandangi bayangannya di cermin sambil mengusap rambutnya dan merasa bingung.


"Ada uban pa!" Amel tersenyum geli melihat ekspresi wajah papanya yang kebingungan.

__ADS_1


"Kamu itu bikin papa bingung saja, kirain ada apa?!, Papa ini sudah tua sayang... wajar sudah banyak uban." Firman terkekeh menanggapi sikap jahil putrinya.


"Ih siapa bilang papa udah tua? Papa itu masih muda pa... masih ganteng kok! Masih banyak wanita di luar sana yang mau sama papa!" Goda Amel.


"Ha..ha..ha... Amel ... Amel!, Kamu itu memang suka banget godain Papa, memangnya kamu mau punya mama sambung!" Firman tergelak ikut menggoda putrinya.


"Dari dulu juga kan Amel nggak pernah ngelarang papa untuk nikah lagi, cuman memang papa aja yang nggak mau" Sahut Amel dengan nada polos.


"Ayo kita sarapan Pa! Andra sudah menunggu di meja makan!" Sambung Amel lagi sambil melangkah keluar kamar Firman dan menuju ruang makan.


Sejenak Firman terdiam melihat bayangannya di cermin. Dia memperhatikan wajahnya yang nampak sudah tidak muda lagi lalu ia menghela nafasnya pelan.


"Hmmm.... mungkin Amel benar, seharusnya dulu aku menikah lagi dan tidak membiarkan diriku terus kesepian seperti ini" Gumamnya.


Firman masih terus memandangi bayangannya di cermin. Ingatannya kembali ke masa mudanya, menjadi seorang duda walau dengan satu orang anak dan memiliki harta melimpah pernah membuat banyak wanita yang mengejar ngejarnya, mereka ingin menjadi istrinya atau hanya menjadi wanita simpanan pun tidak masalah. Namun Firman tidak pernah menanggapi semua itu, hatinya terlampau hancur karena ditinggal oleh istrinya sebelumnya, tidak mudah baginya menata ulang hatinya yang sudah remuk dan membukanya kembali untuk wanita lain, pintu ruang di hatinya sudah terkunci rapat sehingga menjadikan alasan untuknya tidak menikah lagi.


Hari beranjak siang, ketiganya sudah selesai sarapan dan bersiap berangkat ke kantor. Firman diantar oleh supirnya sedangkan Andra mengantarkan Amel ke kantornya terlebih dahulu.


"Sayang nanti malam jemput aku di tempat event ya, mungkin sekitar jam 9 acaranya sudah selesai!" Amel mencium tangan Andra dan Andra mengecup kening Amel.


Amel lalu masuk ke studio Mayra dan melihat Mayra dan Arini sudah disana berlatih tarian Jawa.


Alunan gamelan terdengar dari pengeras suara di studio itu dan Amel kembali berdecak kagum melihat Arini yang begitu lemah gemulai tengah menarikan Tari Gambyong yang akan dipentaskan sebagai pembuka acara di eventnya nanti.


Prok...prok...!


Amel menepuk tangannya ketika Arin sudah menyelesaikan tariannya. "Sumpah ini luar biasa, Arin kamu memang sangat piawai menari seperti itu!" Puji Amel.


"Ah.. Bu Amel jangan memuji saya, ini bukan apa apa Bu!" Sahut Arin dengan wajah tersipu.


Amel melirik ke arah jam di dinding ruang kantornya. "Sudah jam 12, sebaiknya kita berangkat ke venue sekarang, crew kita pasti sudah disana!" Amel mempersiapkan lembaran kertas di mejanya yang berisi rundown acara di eventnya hari itu lalu memasukannya ke dalam sebuah map.


"Lo berangkat duluan sama Arin ya Mel, gue masih harus nyiapin kostum penari yang belum beres, sekalian nyiapin kebaya gue! Sahut Mayra yang tengah sibuk memilih beberapa pakaian untuk para penarinya.


"Astaga gue lupa! kita kan mesti pake kebaya juga ya?" Amel menepuk jidatnya karena baru ingat dresscode mereka hari itu juga harus menyesuaikan tema acara.

__ADS_1


"Venue nya kan searah rumah lo Mel, lo bisa mampir pulang sebentar ambil kebaya sekalian berangkat!" Mayra mengingatkan.


"Iya lo bener May!" Amel tersenyum senang.


Tak lama kemudian mobil Amel pun meninggalkan kantornya menuju ke tempat acara. Amel dan Arin berangkat bersama.


"Pak Usman, kita mampir ke rumah sebentar ya, aku mau ambil kebaya dulu!" Perintah Amel kepada supirnya.


"Siap Non!" Jawab Pak Usman singkat.


Mobil itu memasuki halaman rumah kediaman Hadiwiguna. Arin sangat terpana melihat rumah besar dan mewah dihadapannya, matanya menyapu semua bagian rumah yang nampak sangat asri.


"Ini rumah Bu Amel ya? Besar dan mewah seperti istana!" serunya dengan mulutnya yang terbuka saking kagumnya melihat rumah itu.


"Iya ini rumah suamiku! Ayo masuk tunggu di dalam aja!" Perintah Amel sambil mengajaknya masuk.


Nur menyambut mereka dengan ramah dan mengantarkan Arin ke ruang tamu. "Bi Nur tolong buatkan minum untuk temanku ya, aku mau ke kamar sebentar!" Amel meninggalkan Arin di ruang tamu.


Arin makin terpana melihat seisi rumah itu, matanya terus saja melihat ke semua sudut ruangan yang ada, furniture mewah dan hiasan hiasan klasik yang unik semuanya terlihat sangat indah dalam netranya. Pandangannya lalu tertuju pada sebuah foto berukuran besar yang terpasang di dinding ruang tengah. Perlahan Arin berjalan mendekati foto itu.


"Ini foto pernikahan Bu Amel, dia memang sangat cantik dengan busana adat Bali seperti ini!" Arin terus bergumam kagum. Namun ia tiba tiba tersentak saat menatap wajah pasangan Amel di foto itu, wajah yang terlihat sangat tidak asing baginya. "Mas Jovan?" Arin semakin mendekatkan pandangannya ke foto itu. "Suami Bu Amel sangat mirip dengan Mas Jovan, apa ini dia?" pertanyaan itu kini muncul dalam benaknya.


"Ah tidak mungkin!" Hatinya menolak. "Mas Jovan itu pria yang sangat sederhana, tidak mungkin dia punya rumah sebesar dan semewah ini, lagi pula kata Bu Amel nama suaminya adalah Andra. Mungkin hanya kebetulan mirip saja!" Arin berusaha menghilangkan pikiran itu dari benaknya namun matanya masih terus menatap wajah pria di foto itu sehingga ia tidak menyadari ia sudah berdiri lama di depan foto itu.


"Rin ini minumannya kok belum diminum? Ngapain kamu berdiri disitu?" Arin merasa gugup dan suara Amel yang keras mengejutkan Arin dari lamunannya.


"Oh iya Bu Amel terimakasih!" Arin membalikkan badannya dan melangkah menuju sofa.


"Apa itu foto pernikahan Bu Amel? Ibu menikah di Bali ya?, Bu Amel terlihat sangat cantik di foto itu!" Kilahnya menyembunyikan rasa gugupnya.


"Bukan foto pernikahan Rin! aku dan Andra menikah saat kami belum sama sama siap saling menerima jadi kami tidak pernah punya foto pernikahan, itu foto sewaktu kami liburan ke Bali dan kebetulan juga ada acara pernikahan sepupunya Andra waktu itu!" Amel bercerita sambil tersenyum mengingat kenangan manisnya di Bali bersama Andra.


"Ayo minum dulu Rin, setelah itu kita harus segera ke venue, waktu persiapan kita hanya sedikit!" Tegas Amel.


Arin langsung meneguk jus yang tadi dibawakan Nur. Mereka lalu kembali ke mobil meninggalkan kediaman Hadiwiguna menuju ke tempat acara.

__ADS_1


__ADS_2