
Andra hanyut dalam lamunan mengenang kisah awal kehidupannya di Jogja. Tak terasa kini pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Kala itu sudah pukul 9 pagi waktu Jakarta. Di terminal Andra langsung memesan taxi untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Pak ke Rumah Sakit Metro Medika ya.. tolong cari jalur tercepat" ujarnya kepada supir saat dia sudah duduk di dalam taxi.
Taxi pun meluncur cepat ke tujuan.
Tiba di rumah sakit jantung Andra, berdetak sangat kencang. Banyak kecemasan berkecamuk dalam pikirannya. Ia sangat mengkhawatirkan Ayahnya namun disisi lain dia juga khawatir jikalau ayahnya masih marah dan belum bisa memaafkannya. Andra berusaha keras menenangkan hatinya dan memberanikan dirinya untuk menemui ayahnya. Andra menuju lift dan naik ke lantai 5 gedung rumah sakit menuju tempat ruang perawatan Ayahnya.
Di sebuah ruangan premium VIP rumah sakit itu Andra begitu sedih melihat seorang pria tengah terbaring lemah di ranjang dengan selang infus dan alat bantu pernafasan terpasang ditubuhnya.
"Ayah...." teriaknya lirih seraya menghampiri Joddy yang matanya masih tertutup.
Perlahan Joddy membuka mata dan melirik perlahan ke arah suara disebelahnya, "Andra... kau kah itu, apa aku sedang bermimpi, kamu pulang anakku?" Terdengar suaranya serak.
"Ayah maafkan aku baru bisa pulang menemui Ayah" Andra langsung memeluk dan menggengam erat tangan ayahnya.
"Ayah pikir kamu baru akan pulang ketika jasad ayah sudah di liang kubur"
Tak terasa air mata Andra menetes begitu mendengar kata kata ayahnya.
"Jangan berkata seperti itu Ayah.... Andra sadar semua ini salahku, Andra memang anak yang tidak berbakti ayah... Andra ngerti kalau ayah gak bisa maafin Andra sampai saat ini"
"Hahaha..." tiba tiba terdengar tawa lirih dari bibir lemah Joddy.
"Kamu berhasil menyelesaikan tantangan dari Ayah!, ayah tidak pernah menduga tanpa bantuan ayah pun kamu tetap bisa meraih mimpimu, ayah bangga padamu Nak".
__ADS_1
Suasana haru menyelimuti antara ayah dan anak yang baru bertemu setelah sekian lama.
Melihat putra semata wayangnya yang lama iya rindukan sudah dihadapannya, Joddy bagaikan sudah tak merasakan sakit lagi, suasana hatinya membaik sehingga kesehatannya pun sedikit membaik seketika itu.
Andra membantu ayahnya bersandar di ranjang.
"Siang Pak Joddy, bagaimana keadannya?" Dokter masuk dan mulai memeriksa denyut jantung dan tekanan darah Joddy sambil melepaskan alat bantu pernafasan dari hidungnya. "
Sudah lebih baik Dok" Joddy menjawab dengan suara lirih dan senyum sumringah.
"Sebenarnya ayah saya sakit apa Dok?" Andra yang disebelahnya bertanya kepada dokter itu.
"Pak Joddy hanya stress dan kelelahan mungkin terlalu memaksakan bekerja, saat dibawa kesini beliau pingsan dan tekanan darahnya sangat tinggi, saya khawatir Pak Joddy terkena stroke. Tapi syukurnya sekarang tekanan darahnya sudah membaik. Agar segera pulih, sebaiknya Pak Joddy beristirahat total dulu, jangan banyak pikiran ya" dokter menjelaskan.
"Besok kalau tekanan darahnya sudah normal, Pak Joddy bisa pulang dan lanjut rawat jalan. Sekarang saya permisi dulu, kalau ada apa apa tak perlu ragu untuk menghubungi saya." Dokter pun meninggalkan ruangan itu.
"Ayah, Andra janji akan mulai bantu ayah di kantor, tapi ayah juga harus janji untuk memperhatikan kesehatan ayah supaya tidak terjadi seperti ini lagi" Andra meyakinkan ayahnya.
"Baiklah .. ayah pegang janjimu itu Ndra"
Tok.. tok..terdengar suara pintu ruangan itu ada yang mengetuk dan dari balik pintu Firman masuk membawa parcel buah dan meletakkannya di meja.
"Gimana keadaanmu Joe, sudah lebih baik?" Firman langsung menghampiri Joddy tanpa memperhatikan Andra yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjang ayahnya.
"Sudah jauh lebih baik Firman, kata dokter kalau tekanan darahku sudah kembali normal, besok aku sudah diijinkan pulang. Lagi pula satu orang yang menjadi beban pikiranku selama ini kini sudah kembali" Joddy menjawab sambil menunjuk ke arah Andra yang kini mulai bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
Firman menoleh ke arah Andra.
"Hei... ini putramu Joe?" Firman tersenyum menatap ke arah Andra.
"Iya Om saya Andra". Andra pun mendekatinya dan meraih tangan Firman lalu mencium punggung tangannya itu sebagai salam perkenalan.
"Wah... Andra kau sudah sebesar ini...sekarang, kau juga sangat gagah dan tampan, mirip sekali denganmu sewaktu masih muda dulu Joe" Firman memuji.
"Haha.. gak usah memuji, nanti dia besar kepala" sahut Joddy dengan suara lemahnya.
"Hahaha...Terakhir Om melihatmu saat kamu baru berusia sekitar tiga tahun, dan pastinya kamu tidak ingat Andra" Firman menepuk pundak Andra penuh rasa kagum.
"Andra ini Om Firman sahabat ayah, Om Firman ini lah yang menolong dan membawa ayah kesini. Kalau gak ada Om Firman entah apa yang terjadi kemarin?!"
"Hmmm...sebenarnya bukan Om yang membawa ayahmu kesini Andra tapi Amelia putri Om. Tiba tiba di lobby kemaren ayahmu pingsan dan Amel langsung membawanya kesini"
"Terimakasih banyak karena sudah menolong Ayahku Om, tolong sampaikan juga terima kasihku untuk putri Om itu, kami sangat berhutang budi"
"Lalu mana Amelia Firman? Dia tidak bersamamu?, aku bahkan juga belum berterimakasih padanya" Joddy menimpali ucapan terimakasih Andra.
"Ahhh... anak itu... baru saja kembali dari Sydney dia sudah pergi camping ke Puncak sama teman temannya. Dia bisanya hanya memikirkan kesenangan dan jalan jalan saja" Firman menghela nafas mengingat kelakuan putrinya yang tak pernah betah tinggal di rumah.
"Begitulah anak muda.. mereka kadang hanya memikirkan kesenangannya sendiri dan melupakan orang tuanya" Joddy menjawab Firman sambil pandangannya tertuju ke Andra.
Andra hanya bisa diam, dia sadar ucapan sarkasme ayahnya itu ditujukan kepadanya.
__ADS_1