
Pesawat baru saja take off, Vilda duduk di kursi dekat jendela dan ia sudah dalam penerbangan akan kembali menuju Jakarta. Vilda terus saja melihat ke arah jendela dan memandangi pulau Lombok yang terlihat semakin mengecil karena pesawat yang ditumpanginya sudah semakin tinggi mengudara.
"Selamat tinggal Pulau Lombok, selamat tinggal Pram" Vilda mengusap wajahnya pelan, menyadari kalau dia saat ini sudah harus meninggalkan semua kenangannya tadi malam bersama Pramana. Kejadian malam itu memang tidak hanya terjadi sekali, dia dan Pram masih mengulanginya lagi tadi malam sebelum akhirnya Vilda harus kembali dan pergi meninggalkan Pram.
"Pramana.... aku pasti akan kembali lagi untukmu!" Vilda tersenyum mengingat semua hal tentang pria yang masih sangat dicintainya itu.
"Tapi aku tidak berani berharap apapun dari Pram, karena aku pasti akan dikecewakan lagi olehnya, dia tidak pernah sungguh sungguh mencintaiku, apa lagi serius ingin menikahiku, ahh.... tidak mungkin! Pram itu hanya seorang playboy, dia itu pembohong dan dia pasti mengatakan itu kepada semua wanita sedangkan aku? Aku terlalu bodoh karena selalu percaya akan mulut manisnya!" Vilda terus menggumam dalam hati.
"Hari ini aku akan kembali ke Jakarta, tentu saja aku akan kembali untuk menjalankan rencanaku!" Vilda kini tersenyum licik.
"Andra...., aku lebih baik memikirkan cara untuk merebut Andra dari Amel, seluruh kekayaan Andra harus jadi milikku!" Niat jahat itu semakin kuat dalam pikirannya.
****
Sementara itu di Kediaman Hadiwiguna. Sore itu Amel terlihat sangat sibuk di dapur. Beberapa kali belajar memasak bersama Julia membuatnya percaya diri ingin mempraktekkan kemampuan memasaknya sendiri di rumah dan berniat memberikan kejutan untuk suaminya. Dia pun sudah mulai bisa menggunakan berbagai peralatan dapur walau masih banyak harus dibantu oleh Nur.
Beberapa jenis masakan kesukaan Andra sudah selesai dimasaknya, dan dengan tampilan sangat menarik dia sajikan di meja makan. Amel tersenyum senang dan sudah tidak sabar menunggu suaminya pulang.
Amel meraih ponselnya dan mengambil beberapa gambar dari hasil masakannya yang sudah ia plating dengan cantik lalu dikirimnya gambar itu ke Andra.
Saat tiba di rumah, Amel langsung membawa Andra ke meja makan.
"Wah hari ini kau benar benar serius ingin memberiku kejutan ya sayang?" Andra tersenyum bangga melihat hasil usaha Amel belajar memasak yang sebelumnya tidak pernah diduganya sama sekali.
"Aku siapkan semua ini khusus buat kamu sayang, sekarang ayo kita makan, kamu harus mencicipi dan kasih nilai untuk masakanku!" Amel menarik kursi untuk Andra.
Andra pun duduk dan ia makin melebarkan senyumnya melihat hasil masakan Amel yang terlihat sangat menarik walau ini baru pertama kalinya Amel mempersiapkan semua itu untuknya.
__ADS_1
"Pertama kamu harus coba sup buatanku, ini sup krim jagung kesukaanmu sayang!" Amel menyuguhkan semangkuk sup di hadapan Andra.
"Dari tampilannya sih kelihatannya ini enak sekali" Andra langsung memasukkan satu sendok sup yang masih panas ke mulutnya. Andra membulatkan matanya, bukan karena panas tapi rasa sup yang sangat asin, meskipun begitu, Andra tetap menelan sup itu, ia tidak ingin protes karena ia ingin menghargai kerja keras istrinya yang sudah susah payah mempersiapkan sup itu untuknya. "Emm.... ini enak sekali sayang!" Andra memuji tapi berbohong.
Senyum Amel berubah cemberut, walau Andra terlihat tetap memakan sup itu, tapi dari raut wajahnya Amel bisa melihat kalau Andra tidak menyukai sup itu.
"Pasti ada yang salah dari rasa sup ini?" pikirnya, lalu Amel pun ikut mengambil sup itu dan mencicipinya. Amel menggigit bibirnya sendiri, dia baru menyadari kalau sup itu sangat asin dan dia sudah menaruh garam terlalu banyak di supnya tanpa mencicipinya lagi sebelumnya.
"Eeh... jangan terlalu banyak makan sup dulu sayang nanti keburu kenyang, masakanku yang lain kan masih banyak yang harus kamu cicipi lagi!" Amel memberi alasan lalu dengan cepat mengambil mangkuk sup dari hadapan Andra. Ia segera menyingkirkannya dan mengganti mangkuk itu dengan piring.
"Ini kamu coba saladnya sayang!" Amel mengisi piring itu dengan caesar salad kesukaan Andra.
"Ini pasti enak!" Andra memakan salad itu dengan lahap karena salad itu dibuat dengan menggunakan dressing thousand island instant yang sudah pasti dibeli dari supermarket, bukan karena dimasak sendiri oleh Amel.
Walaupun begitu, Amel tetap tersenyum senang melihat Andra menyukai salad yang sudah disiapkannya.
"Bagaimana menurutmu sayang, apa masakanku enak?" Amel sangat antusias bertanya dan berharap mendapat pujian dari suaminya.
"Enak sayang, sangat enak! sebenarnya kamu punya bakat masak yang luar biasa, hanya saja sekarang kamu harus lebih sering melatih kemampuan memasakmu!" Andra tersenyum dan terus memuji Amel.
"Makasih sayang, aku senang kau menyukai masakanku, dan aku janji akan lebih sering masak buat kamu!" Amel merasa sangat senang. Amel menuangkan air ke gelas Andra untuk menutup makan malam mereka saat itu.
"Masakan Vilda jauh lebih enak! Dibandingkan dengan Amel, Vilda memang lebih hebat dalam hal memasak." tiba tiba saja Andra teringat saat Vilda memasak untuknya waktu itu dan Andra hanya menghela nafasnya pelan.
Ting....!
Notifikasi pesan singkat terdengar dari ponsel Andra. Perlahan ia mengambil ponsel dari sakunya dan membuka aplikasi pesan itu.
__ADS_1
"Baru saja aku teringat Vilda, sudah ada pesan dari General Manager hotel yang di Lombok yang memberitakan sesuatu tentangnya." Pikir Andra, lalu ia tersenyum sendiri membaca pesan itu.
"Pesan dari siapa? sepertinya ada kabar gembira sampai kamu senyum senyum gitu baca pesannya sayang?" Amel yang sedari tadi memperhatikan Andra langsung bertanya.
"Ini ada pesan dari GM hotel baru kita yang di Lombok sayang, dia memberi tahu kalau Vilda sudah berhasil menangani komplain dari salah satu tamu VIP yang tinggal lama disana. Berkat Vilda tamu itu tidak jadi complaint dan Vilda bisa mencegah tamu itu menulis komen buruk tentang hotel kita di Tripadvisor. Vilda memang sangat profesional sebagai seorang hotelier" Andra tersenyum memuji kemampuan Vilda.
Pujian itu tentu saja membuat Amel merasa sangat tidak senang, Amel langsung marah dan kesal dibuatnya.
"Wanita yang tidak punya sopan santun itu lagi!" Amel sangat jengkel mendengar Andra menyebut nama Vilda.
"Apa spesialnya sih perempuan itu sampai kamu begitu memuji dan bangga padanya! Jangan jangan kamu ada perasaan ya sama dia!" Ketus Amel, Ada rasa cemburu yang teramat sangat di hatinya. Dia langsung memalingkan wajahnya dari Andra dan memajukan bibirnya.
Andra hanya tersenyum menanggapi sikap cemburu Amel.
"Sudah aku bilang tidak ada yang spesial sayang.... aku hanya memuji kemampuanya saja. Kamu tidak perlu cemburu seperti itu sama Vilda dia hanya teman dan juga karyawanku, tidak lebih!" Andra bangun dari tempat duduknya lalu memeluk Amel dari belakang dan mengecup pipi Amel yang masih nampak cemberut.
"Aku nggak suka kamu ngomongin wanita itu lagi, sekali lagi aku dengar kamu nyebut namanya, malam ini aku nggak akan kasih jatah buat kamu!" Seringai Amel dengan nada semakin kesal.
"Iya sayang... terserah apa katamu saja!" Andra terkekeh dan hanya tersenyum geli dengan sikap kekanakan Amel lalu semakin erat memeluknya.
"Lalu apa kamu yakin akan memotong jatahku malam ini sayang? Kalau aku tetap memaksamu bagaimana?!" Andra mengangkat tubuh mungil Amel lalu menggendongnya ke kamar. Seperti biasa cara Andra yang seperti itu akan membuat Amel langsung luruh dan menerima saja saat Andra membopongnya ke kamar.
"Sayang, kita jadi ke dokter kandungan kan?" Amel bertanya saat mereka sudah sama sama merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Mommy Mueller ada kasih rekomendasi dokter specialist kandungan senior ke aku, apa kamu mau mencobanya sayang?" Lanjutnya lagi.
"Iya sayang pastinya!, tapi sebelum ke dokter, kita harus terus berusaha sendiri bukan?" Sahut Andra sambil memeluk Amel dan mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Keduanya pun hanyut dalam kehangatannya malam itu.