Keangkuhan Cinta

Keangkuhan Cinta
Rasa Cemburu


__ADS_3

Seminggu sudah Vilda bekerja di perusahaan Andra. Semakin hari kekagumannya terhadap sahabat yang kini jadi atasannya itu semakin tak dapat disembunyikannya. Terlebih setelah Andra menyewakan apartemen baru untuknya. Apartemen yang jauh lebih mewah dan tentunya sangat aman dan nyaman untuk tempat tinggalnya seorang diri, tidak seperti apartemen penuh maksiat yang ditempatinya sebelumnya.


"Ndra..., gue sudah buat business trip plan gue dan Senin depan gue su....!!!?"


Vilda masuk ke ruangan Andra membawa lembaran kertas di tangannya, namun tiba tiba ia menghentikan langkah dan juga ucapannya. Vilda membulatkan matanya saat menyaksikan hal yang tengah terjadi di hadapan matanya, lalu Vilda membalikkan badannya untuk mengalihkan pandangannya.


Nampak Andra yang duduk di kursi kerjanya sedang memangku Amel sambil melingkarkan tangannya di pinggang Amel, kepalanya terselip di antara bahu dan leher Amel dan keduanya tengah berciuman sangat mesra.


Andra dan Amel terkejut karena Vilda nyelonong masuk ke ruangan itu dan melihat Vilda yang masuk ke ruang kerja suaminya tanpa permisi, Amel langsung beranjak dari pangkuan Andra. Amel menatap Vilda dengan raut wajah tidak sukanya dan sangat penasaran, mengapa wanita itu begitu lancang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan berbicara begitu santai tanpa rasa segan terhadap atasannya, siapa dia?


Amel menghampiri Vilda "Siapa kamu? Beraninya masuk tanpa permisi! Apa kamu nggak tahu ini ruangan pimpinan disini?' ketusnya sambil menatap Vilda dengan sorot mata jengkel. Vilda hanya melirik sekilas wajah wanita di hadapannya, ia langsung bisa mengenali kalau yang ada di depannya kini adalah Amelia istrinya Andra.


"Dia team baruku disini sayang...., namanya Vilda, dia juga teman kuliah ku dulu!" Andra ikut beranjak dari kursinya dan menghampiri Amel dan Vilda yang masih saling menatap dengan pikirannya masing masing.


"Vilda, kenalkan ini istriku Amel!" Andra lalu saling memperkenalkan keduanya.


Amel masih menunjukkan wajah tidak sukanya, ia bahkan tidak mau menjabat uluran tangan Vilda, justru Amel makin mempertajam sorot matanya terhadap Vilda.


"Maaf saya sudah lancang masuk tanpa mengetuk pintu dulu Pak Andra, tadi saya hanya ingin menyerahkan laporan ini, saya tidak tahu kalau Ibu Amel ada disini!, sekarang saya permisi dulu Pak!" Vilda membungkukkan badannya dan hendak melangkah keluar dari ruangan itu.


"Tunggu dulu!" Amel menahannya dan Vilda pun mengurungkan niatnya untuk melangkah.


"Aku peringatkan padamu, jaga sikapmu! Mentang mentang kau teman kuliahnya Andra bukan berarti kau bisa seenaknya disini..!! kau cuma karyawan biasa, jadi jangan pernah sembarangan masuk ke ruang atasanmu tanpa permisi!" Amel mengarahkan telunjuknya ke wajah Vilda dan terlihat makin tidak suka dengan kehadirannya disana.

__ADS_1


"Cukup Amel! Kau tidak perlu bersikap seperti itu pada Vilda, sama seperti aku dengan Yogi, aku juga ingin tetap bersikap biasa sebagai teman dengannya, jadi tidak ada yang salah dari sikapnya itu!" Andra berbicara dengan nada tegas dan ia justru membela Vilda.


Amel mendengus kesal, ia kini mengarahkan tatapan kemarahan kepada Andra. "Owh.... jadi kau lebih membelanya ya?!" bentaknya.


Andra hanya diam tak menanggapi kemarahan Amel karena tak ingin berdebat lebih panjang.


Vilda semakin merasa canggung dengan situasi di dalam ruangan itu dan memilih cepat keluar dari sana.


"Apa maksudmu lebih membela wanita itu!, apa dia begitu spesial sehingga bisa mendapatkan perlakuan berbeda darimu?" Amel merasa tidak terima dengan perlakuan Andra terhadap Vilda, rona cemburu terlihat jelas di wajahnya.


"Sayang..., tidak ada maksud apa apa dan dia juga bukan orang yang spesial buatku, dia hanya sahabat lamaku sama seperti Yogi." Andra kembali melingkari pinggang Amel dengan kedua tangannya lalu mendekapnya lebih erat. "Sepertinya kamu sedang cemburu ya sayang?" Andra mengusap bibir Amel dengan ibu jarinya lalu memberi kecupan kecil disana.


"Cemburu??, tentu saja tidak! Dia itu tidak selevel denganku!" Jawab Amel acuh.


"Jadi sayang!, sebentar lagi jam 12, ayo kita jemput papa ke ruangannya!" Amel menarik tangan Andra mengajaknya untuk segera ke ruangan papanya.


Andra pun tidak menolak, ia lalu merangkul pundak Amel membawanya keluar dari ruangannya menuju ruangan kerja Firman, Amel juga ikut merangkul pinggang Andra dan mereka berjalan bersebelahan.


Di depan ruangan itu, Amel kembali melihat Vilda karena ruangan Vilda memang berada di depan ruangan Andra berjejer dengan ruangan Yogi serta Nadya sekretarisnya.


Amel makin erat merangkul pinggang Andra saat melihat Vilda melirik ke arah mereka, Amel juga semakin bergelayut manja di tangan Andra.


Vilda hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan hal itu, sejujurnya mungkin rasa cemburu itu justru ia yang kini tengah merasakannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Vil, heran melihat mereka? Andra sama Amel sudah biasa begitu, mereka lagi bucin!" Yogi berdiri di sebelah Vilda dan mengagetkannya dari lamunannya.


Vilda masih hanya menggeleng dan tak berkata sepatah katapun pikirannya menerawang entah dimana.


"Ayo kita juga cari makan siang, entar jam 2 ada meeting, jadi sebelum itu kita sudah harus kembali ke kantor!" Ajak Yogi.


"Mbak juga mau ikut makan siang bareng sama kalian, apa Mbak boleh gabung? Males banget makan siang sendiri.!" Nadya yang mendengar ajakan makan siang Yogi ke Vilda langsung ikut menimpali.


"Ok, tunggu 5 menit lagi ya, saya ambil dompet dulu!" lanjut Yogi sambil melangkah masuk ke ruangannya.


"Eh Mbak Nadya, aku mau tanya boleh nggak?" tiba tiba saja Vilda ingin menanyakan sesuatu pada Nadya.


"Kenapa Vil?" Nadya heran tumben kali ini Vilda minta ijin bertanya kepadanya, biasanya Vilda selalu ramai mendominasi saat berbicara tanpa pernah bertanya dan memberi kesempatan orang lain untuk berbicara.


"Ehmm.... Mbak Nadya, Amel itu memang begitu ya tingkahnya? Maaf nih kalau menurutku sedikit agak sombong, dia tidak seperti Pak Andra ataupun Pak Firman!?" Vilda bertanya dengan suara setengah berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.


"Tapi Mbak jangan bilang siapa siapa aku bertanya seperti ini, nanti dikira aku gimana gimana lagi!" Sebelum mendapat jawaban Vilda sudah mengingatkan Nadya terlebih dahulu.


Nadya hanya terkekeh "Iya Vil... dari dulu Nona Amelia memang seperti itu, tapi sebenarnya hatinya baik kok. Bahkan sebelum menikah dengan Pak Andra, dia jauh lebih tidak ramah dari ini, dia tidak pernah bertegur sapa dengan karyawan disini, maklum dia kan putri bos besar!" Jawab Nadya. "Sekarang sudah jauh lebih baik, dia sudah mulai bisa senyum ramah kalau melihat kita dan kadang kadang juga sudah bisa mulai menyapa duluan!" Lanjut Nadya.


"Ooo... gitu ya?!" Vilda hanya bisa membentuk huruf O di bibirnya.


"Apanya yang ooo....?, Yuk ah cepetan kita turun sekarang, entar keburu ramai di bawah kita bisa nggak kebagian tempat duduk di food court!" Yogi menarik tangan Vilda agar segera mengikutinya menuju lift. Vilda, Nadya dan Yogi turun bersamaan dan mencari tempat duduk di area food court yang sudah terlihat ramai oleh para karyawan di area gedung perkantoran itu yang juga hendak mencari makan siang.

__ADS_1


__ADS_2