
Vilda berjalan menyusuri pasir putih di Pantai Tanjung Aan. Deburan ombak yang setia menabuh bibir pantai seakan tak dihiraukannya, air laut menyapu butiran pasir yang menempel di kakinya ketika ia melangkah.
Ia seperti tengah hilang semangat, meski sangat sibuk dengan pekerjaanya, tetap saja pertemuannya dengan Pramana pagi itu membuat moodnya menjadi tidak baik.
Vilda terus berjalan menyisiri pantai yang ramai pengunjung tanpa tujuan yang pasti, banyak orang dilihatnya saling susul menyusul naik ke Bukit Merese untuk menyaksikan keindahan sunset dari atas bukit itu namun Vilda sama sekali tidak tertarik untuk ikut naik kesana.
Ia memilih duduk di atas sebongkah batu karang, ombak kecil masih terus menyapa kakinya yang memang sengaja dibiarkannya menginjak pasir.
Vilda lalu tersenyum sendiri, ia teringat akan seseorang. "Tempat ini begitu indah, seandainya saja Andra ada disini bersamaku, ahh... pastilah akan sangat romantis" Pandangan Vilda tertuju pada pulau karang yang ada di tengah laut dan berwarna hijau, perpaduan warna biru lautan membuat netranya seolah begitu dimanjakan oleh pemandangan indah disana.
"Andra... dari awal aku sampai disini, entah mengapa aku selalu memikirkannya. Apalagi setelah aku melihat hotel miliknya itu, aku semakin menyadari kalau Andra sangatlah kaya, dia memiliki segalanya, harta dan juga cinta. Lalu aku punya apa?"
"Amel! Aku tidak seberuntung dia!" Ada aura kebencian yang ia rasakan saat mengingat Amel.
"Lalu kenapa harus Amel saja?, aku juga bisa memiliki apa yang dia punya, wanita sombong itu tidak pantas bersama dengan Andra, akulah yang berhak memilikinya, aku mengenal Andra lebih dulu dan kami juga sudah pernah melewatkan satu malam bersama!" Entah dari mana datangnya, pikiran tidak wajar itu tiba tiba saja muncul di kepalanya. Rasa ingin merebut Andra dari Amel kini memenuhi hatinya.
"Iya...kenapa tidak?!! Setelah balik ke Jakarta aku akan menyiapkan sebuah rencana, Andra harus menjadi milikku dan aku harus menyingkirkan Amel dari kehidupannya!" Niat jahat itu membuncah di jiwa Vilda.
"Andra dan juga seluruh kekayaannya harus jatuh ke tanganku, aku akan merebut semuanya dari Amel!" Senyum licik tersimpul di bibir Vilda.
Ia masih terus duduk dan melamun disana, keinginannya merebut Andra dari Amel semakin kuat, tekadnya sudah bulat dan ia mulai memikirkan cara untuk bisa mendapatkan Andra dan juga seluruh kekayaannya. Hasrat materialistisnya mendorongnya begitu kuat agar segera menjalankan rencananya.
"Dengan memiliki harta yang banyak, aku tidak perlu lagi bekerja seperti ini, kalau Andra jadi suamiku maka aku tidak perlu menjadi pekerja lagi di hotel, tapi aku adalah owner....! Iya aku akan jadi nyonya pemilik hotel itu!" Vilda semakin melebarkan senyum liciknya.
****
Keindahan sunset di pantai sudah tidak nampak lagi, Vilda kembali ke hotel saat hari sudah beranjak gelap. Vilda tiba di lobby dan hendak mengambil kunci kamarnya yang ia titip di konter reception. Situasi di Front Office kala itu terlihat sedikit berbeda, beberapa staff nampak sedang tegang.
"Ada masalah apa?" Vilda bertanya kepada salah seorang receptionist disana.
"Tadi ada salah seorang tamu disini yang anaknya tidak sengaja tercebur ke kolam renang Bu, padahal kolam renang sudah ditutup, tapi anak kecil itu tidak bisa diam dan tidak sengaja tercebur, jadi duty manager kami Pak Har ikut ke klinik mengantarkan tamu itu." jawab receptionist itu.
Vilda hanya menanggapi biasa biasa saja karena hal itu sudah biasa terjadi.
"Masalahnya sekarang bukan itu Bu!" Reception itu kembali melanjutkan ceritanya.
"Lalu masalah apa lagi?' Vilda menatap receptionist itu penuh tanda tanya.
"Salah satu tamu VIP kita complaint!, katanya ada kecoa di kamar mandinya dan beliau sangat marah, dia minta bertemu manager in charge sekarang juga, padahal Pak Har kan lagi di luar." receptionist itu nampak kebingungan.
Vilda menarik nafas dalam, jiwa hospitality nya meronta, mengatasi complaint tamu yang seperti itu sudah sangat biasa ditanganinya.
__ADS_1
"Biar saya yang menemui tamu itu!" Ujar Vilda dengan percaya diri.
"Beneran ibu mau menemui tamu itu Bu?" Receptionist itu nampak ragu.
"Beneran lah, saya juga manager disini, sudah tanggung jawab saya harus menemui tamu itu!" sahut Vilda sangat enteng. Reception itu hanya menganggukkan kepala.
"Tamunya minta ditemui di kamar Bu, beliau di 101, mari saya antar Bu Vilda kesana!" Receptionist itu keluar dari counternya lalu mendekati Vilda.
Deg...!
Vilda menelan ludahnya dan membulatkan matanya.
"Kamar 101?, itu kan kamar Pramana?" Suasana hati Vilda tiba tiba menjadi tidak karuan, di satu sisi dia telah menyanggupi akan menemui tamu itu namun disisi lain tamu yang akan ditemuinya adalah Pramana.
Vilda tetap harus bersikap profesional, siapapun yang akan ditemui baginya itu adalah customer nya yang harus di handle nya juga dengan cara profesional.
Pintu kamar 101 terbuka setelah reception itu menekan bel beberapa kali.
Pramana muncul dari balik pintu sambil menatap marah kepada receptionist itu.
"Aku sudah bilang kan kalau aku mau bertemu manager, kenapa yang datang kamu lagi hah!" Pramana membentak keras receptionist itu.
Pramana langsung melebarkan matanya melihat seorang wanita yang mengaku manager disana dan kini berdiri di hadapannya.
"Vilda? Merpati kecilku ada disini?" Pramana makin membulatkan matanya menatap ke arah Vilda yang tersenyum kepadanya.
"Maaf Bu Vilda, saya harus kembali ke counter, Pak Har nggak ada, dan tamu tamu yang belum check in masih banyak." Reception itu berbisik kepada Vilda dan Vilda hanya mengangguk lalu receptionist itu meninggalkan Vilda di depan kamar Pramana.
"Vilda Veronica....! Kau bekerja disini rupanya sekarang! Surprise sekali kita bisa bertemu disini!" Pramana membalas senyum Vilda dengan senyum penuh sihirnya.
Sesaat Vilda terdiam, kata merpati kecil membuatnya mengingat berjuta kenangannya bersama Pramana, namun ia tetap berusaha mengontrol semua perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Atas nama management saya mengucapkan permintaan maaf kami atas ketidaknyamanan Bapak selama tinggal disini!" Ucap Vilda sangat profesional sambil mencakupkan tangannya di dadanya.
Pramana tergelak menanggapi sikap canggung Vilda terhadapnya. "Ha ha ha Vilda....! Kau memang seorang manager yang sangat profesional! dari dulu kau tetap sama Vilda!" ucapnya.
Vilda langsung teringat perkenalan pertamanya dengan Pramana di hotel tempat bekerjanya dulu di Surabaya, saat itu Pramana juga complaint gara gara masalah kebersihan kamar namun pesona seorang Vilda bisa dengan mudah meredakan complaint nya.
"Hotel ini sangat jorok Vilda, masa ada kecoa berkeliaran di kamarku? Apa kau tahu, aku bayar sangat mahal untuk suite room ini! tapi pelayanan kebersihan disini sangat buruk! Aku akan tulis komen di tripadvisor dan reputasi hotel ini akan hancur!" Pramana tersenyum mengejek dan dari nada bicaranya ada ancaman yang cukup serius.
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak Pram, mohon jangan menulis komen buruk tentang hotel kami apalagi itu di tripadvisor, kami siap memberikan konsekuensi atas kesalahan kami ini!" Vilda membungkukkan punggungnya memelas.
__ADS_1
"Konsekuensi? Hah... paling kau hanya akan menawarkan makan malam gratis atau upgrade kamar kan?" Pramana semakin tergelak.
Pramana lalu menarik tangan Vilda untuk masuk ke kamarnya.
"Kau coba cek di bathtub, ada kecoa lagi mesum disana!, pikir saja kalau kau ada di posisiku sebagai tamu disini, apa kau tidak akan merasa jijik?" Pramana kini menggiring Vilda ke kamar mandi di dalam kamarnya.
Vilda menahan nafasnya lalu menghembuskannya perlahan, benar saja ada dua bangkai kecoa di dalam bathtub. Vilda kembali mencakupkan kedua tangannya di dadanya.
"Saya mohon maaf sekali Pak, saya akan minta Front Office memindahkan anda ke kamar lain!' Ucap Vilda mengakui kesalahan.
'Pindah kamar? apa anda pikir itu solusi terbaik Ibu Vilda?, saya sudah tinggal disini sebulan, apa saya harus pindah kamar?" Pramana makin menegaskan ejekannya terhadap Vilda.
"Lalu apa konsekuensi yang kami bisa berikan untuk anda Pak Pram?" Vilda bertanya lagi.
"Bukan KAMI Vilda, tapi KAU konsekuensinya!" Pramana tersenyum genit menatap wajah Vilda yang terlihat sangat gugup. Entah gugup karena complaint Pramana atau grogi karena senyum Pramana yang seolah mengandung bulu perindu saat mereka bertatapan.
Pramana memegang kedua pundak Vilda lalu menatap Vilda dengan sorot matanya yang penuh arti.
"Kau itu cantik Vilda, merpati kecilku sangatlah cantik! kau terlihat sangat jinak tapi kau sulit sekali untuk kudapatkan sama seperti burung merpati yang suka terbang bebas di luar sana!" Kini pupil mata Pramana terlihat melebar, ada isyarat gairah dibalik kata katanya.
"Lepaskan aku Pram! Kau bukan siapa siapa lagi buatku!" Vilda menampik tangan Pram yang berusaha menyentuh wajahnya.
"Vilda....! Selama ini kau menghindariku, tapi akhirnya kita bertemu disini, ini bukan kebetulan tapi ini takdir Tuhan kalau kau itu memang tercipta untuk menghangatkan ranjangku! Ha..ha..ha...!" Pramana tertawa lalu kembali menatap genit mata Vilda.
"Tutup mulutmu Pram! Kau itu jauh lebih menjijikkan dari kecoa kecoa itu! Aku membencimu Pram!" Vilda mengarahkan telunjuknya ke wajah Pramana.
Vilda melangkah menuju pintu kamar itu hendak keluar dari kamar Pram, namun Pram menghalangi jalannya.
"Kau mau pergi Vilda? Kau belum memberikan konsekuensi untuk complaint ku, apa kau sangat ingin aku menulis komen di tripadvisor? dan aku juga akan menulis namamu disana!" Pramana terus saja tergelak penuh kemenangan.
Vilda mengurungkan langkahnya lalu membalas tatapan Pramana.
"Apa sebenarnya maumu Pram?" Vilda menahan emosinya dan kembali mencoba bersikap profesional.
"Aku menginginkanmu Vilda, aku mau kamu menghabiskan malam disini menemaniku!" Pramana semakin genit dan menatap liar ke beberapa bagian tubuh Vilda.
Vilda salah tingkah, dia saat itu memang sedang memakai baju santainya karena seharusnya dia sudah tidak di jam kerja lagi.
Pramana memperhatikan Vilda dengan tatapan mata penuh hasrat, tank top mini dan hot pan yang selalu setia dipakainya membuat mata Pram semakin ****** menatapnya.
Pramana memandangi sesuatu yang menonjol di balik cardigan yang dipakai Vilda.
__ADS_1