
pagi hari, rendy bangun dan mencari keberadaan papanya. Dia bolak balik ke kamar Andi dan memeriksa wc kamar. Tetapi rendy tidak mendapati Andi, rendy memilih ke kamar faul. Dilihatnya pamannya masih setia tidur.
Rendy mengusap wajah pamannya tetapi faul malah menepis tangan rendy dan melanjutkan tidurnya. Rendy jadi marah, dirinya ke dapur dan mengambil susu putih kental manis. Rendy jadi tertawa, sebelum menuju kamar pamannya, rendy mengambil air di kulkas.
Rendy mengusap air tersebut ke wajah pamannya, kemudian dengan santainya rendy mengolesinya dengan susu yang dia bawa. Faul mengedipkan matanya ketika merasa sesuatu yang lengket di wajahnya.
Dia melihat rendy sudah tertawa di depannya, faul berlari ke cermin melihat tingkah keponakannya padanya.
"Rendy, apa yang kau lakukan padaku?" Tanya faul dengan geram. Rendy hanya tertawa melihat pamannya. Dia lalu berlari ke luar dari kamar pamannya.
"Anak ini sangat merepotkan, aku tidak bisa memarahinya. Dia selalu saja di bela oleh kak Andi walau salah. Beruntung jadi rendy, sementara nasibku begini saja jadi paman" kata faul sambil melap wajahnya yang di buat lengket oleh rendy.
Setelah selesai bersih-bersih, faul berjalan menuju dapur. Rendy yang melihat pamannya, mengikuti pamannya sampai dapur.
"Ada apa anak kecil, kau mau buat ulah lagi?" Tanya faul sambil menatap tajam keponakannya.
Rendy menggeleng kemudian memberikan sebuah kertas yang sudah rendy tulis. Faul mengambilnya dan membacanya.
"Papa Andi di mana?" Kata faul membaca tulisan rendy.
__ADS_1
"Kau mencari papamu? Apa tidak bisa kau bicara dan beritahu paman saja. Tidak perlu menulis hal seperti ini" kata faul sambil melempar kertas yang di berikan rendy ke tempat sampah.
Rendy yang melihatnya jadi berteriak, membuat faul kaget.
"Ah....." teriak rendy yang kencang membuat bi ina datang ke dapur.
"Tuan rendy kenapa? Ada yang terluka" kata bi ina panik.
Rendy menunjuk paman faul, tetapi yang di tunjuk terlihat santai saja.
"Kenapa, kau mau apa?" Tanya faul sambil mengeritkan alisnya.
Rendy mengambil ponselnya dan memperlihatkan pada faul nama yang dia ingin panggil. Faul tidak ingin melihatnya tetapi rendy menyodorkannya membuat faul melihat dengan jelas nama Papa di ponsel rendy. Faul kaget, dia langsung meminta maaf pada rendy.
Faul sangat takut dengan kakaknya, Andi selalu mengancamnya untuk memukulnya sampai masuk icu. Perkataan Andi seolah membuat faul tidak ingin mencari masalah. Bisa saja yang dikatakan kakaknya jadi kenyataan, terlebih Andi selalu menepati ucapannya.
Rendy menunjuk ke arah tempat sampah membuat bi ina dan Faul melihat tong sampah yang berada tidak jauh dari dekat faul.
"Rendy menyuruh paman untuk memunggut kertas tadi?" Kata faul tidak percaya, dia hanya menebak. Berharap jika tebakannya salah, tetapi rendy mengangguk.
__ADS_1
"Serius? Itu tong sampah rendy, suruh bi ina saja yang ambil. Tolong yah bi..." kata faul memerintah bi ina yang berada di samping rendy.
"Iya tuan..." kata bi ina melangkah ke tong sampah tetapi berhenti karena rendy menahan tangannya.
"Mungkin tuan tendy ingin tuan faul yang mengambilnya" kata bi ina yang mengerti maksud rendy tetapi dia memaksakan senyumannya karena merasa cangguh menyuruh tuannya.
"Kenapa harus paman rendy? Itu tong sampah. Jelas kotor dan tidak bersih, tangan paman bisa terserang virusnya" kata faul tidak mau menuruti kemauan rendy.
Rendy mengangkat teleponnya berharap faul berubah pikiran. Faul jadi tidak bisa berbuat apa-apa, dia maju ke tong sampah dan mengambil kertas yang dilemparnya dengan jijik.
"Anak sama ayah, sama-sama menyebalkan. Semua kemauannya harus di turuti, kalau tidak rendy pasti akan mengadu. Jadi begini amat" guman faul sambil memberikan kertasnya pada rendy.
Setelah mengambilnya, rendy membuang kertas tersebut ke tong sampah lagi. Faul jadi naik tensi, dia harus melawan harga dirinya untuk mengambil sampah tetapi di buang lagi. Faul pergi dari dapur sebelum di suruh untuk mengambilnya lagi.
Rendy tertawa senang melihat wajah faul yang kesal, tetapi tidak bisa melampiaskannya.
Di tempat lain, dara sibuk memilih baju untuk dia kenakan. Tetapi dirinya jadi teringat dengan misi untuk meloloskan diri hari ini juga. Dara berjalan ke sekeliling dan melihat-lihat keadaan. Penjagaan yang ketat di sertai cctv di mana-mana membuat dara pusing mencari jalan keliar dari rumah ini.
"Ini namanya kurungan, aku bisa menderita jika begini terus. Alasan mereka menculikku itu apa?" Kata dara sambil melihat sekeliling.
__ADS_1
Pagar yang tinggi, membuat dara tidak bisa memanjat. Penjaga yang selalu stand by berada di pintu bahkan ada yang mengikuti dara ke mana dara pergi.
"Tunggu langit berkilau baru bisa kabur kalau begini" guman dara.