
Dara membawa bekal untuk Andi. Sudah seminggu Andi tidak pulang ke rumah. Bukan hanya bekal yang di bawa dara, pakaian dan semua kebutuhan andi yang di perlukan.
Baru saja melangkah ke ruang rawat Rendy, sarah membuka pintu dan keluar.
"Kau sedang apa?" Tanya dara yang melihat sarah keluar dari ruang rawat rendy.
Sarah menutup pintu, menarik tangan dara menjauh dari sana. Dara hanya ikut, walau dirinya merasa bingung dengan tingkah sarah.
"Ada apa?"
"Aku melihat Andi dan faul menangis sambil berpelukan. Sangat menyedihkan, aku serasa ikut menangis" kata sarah dengan sedih.
Dara tidak pernah melihat Andi menangis ketika bersama. Andi pasti sedang terburuk saat ini. Dara melangkah masuk perlahan.
Andi masih duduk di tembok dengan wajah yang basah. Sarah mengikut di belakang dara.
Dara menyodorkan bekal kepada Andi, Andi hanya menatap kemudian kembali menunduk.
"Tidak punya selera makan? kau bisa sakit jika tidak makan" kata dara sambil duduk di dekat Andi.
"Aku hanya mau rendy sadar" Ucapan Andi yang terdengar menyedihkan dengan suara lemah.
"Kita semua mengingingkannya, jika kau tidak makan, kau tidak bisa melihat rendy sadar nanti" kata dara terus membujuk Andi untuk makan.
Dara merasa sesak melihat Andi seperti menyedihkan. Dia seolah tidak punya harapan untuk hidup.
"Andi, kau harus makan. Jangan seperti anak kecil. Jika kau sakit, siapa yang akan menjaga rendy"
__ADS_1
Perkataan dara tidak membuahkan hasil, Andi tetap tidak mau makan. Dia hanya melihat rendy dengan tatapan sendu. Air mata jatuh walau tidak di minta. Sesak rasanya melihat anak sendiri, terbaring di rumah sakit. Apalagi rendy yang Andi punya saat ini.
"Sudah, kalau kau tidak mau makan terserah. Kau pikir rendy akan senang melihatmu seperti ini? tidak Andi, rendy tidak senang. Bisa jadi rendy memilih ikut dengan ibunya" kata dara yang mulai kesal. Niatnya membujuk Andi sangat sulit baginya.
Dara melangkah keluar dengan perlahan, berharap Andi menghentikannya. Sampai di depan pintu, Andi tidak menyahut sekali pun.
Setelah kepergian dara, Andi menatap bekal yang di bawa dara. Andi membuka, dia malah menangis melihat isi bekal yang di bawa dara.
Andi teringat dengan rendy, di saat andi ingin makan, rendy selalu lebih dulu berada di meja makan. Anak yang selama ini Andi asuh sendirian, ketika kedua orang tuanya meninggal, kini tidak berdaya. Rasa menyesal selalu muncul di akhir.
Reno menatap Andi. Dia yang baru mengetahui kecelakaan rendy, Buru-buru menjenguknya di rumah sakit.
"Tuan, maaf aku baru bisa sekarang"
Andi tidak bicara sepatah katapun, reno yakin jika saat ini Andi terpuruk.
"Tuan, jika anda seperti ini, bagaimana bisa rendy punya harapan untuk sadar. Tuan harus kuat meski berat, aku yakin rendy akan senang melihatnya" Reno terus bicara walau tidak mendapat balasan dari Andi.
"Tidak ada yang mengerti dengan semua ini, hanya tuan yang mengerti. Tuan Andi yang mengalaminya"
"Lalu apa maumu?"
Reno berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Andi.
"Jika tuan Andi bertanya seperti itu, aku hanya ingin tuan Andi tetap menjaga kesehatan. Itu lebih penting, jika rendy sadar dia masih bisa melihat tuan Andi dengan tersenyum. Tuan tidak ingin membuat rendy khawatir dan tambah sakit bukan?" Ini pertama kalinya reno menasehati Andi. Selama ini, hanya Andi yang selalu memberi saran. Reno hanya menjalankan. Kenapa sekarang terbalik?
"Baik, aku akan melakukan nasehatmu" kata Andi mengambil bekal makanan dan memakannya walau dia tidak punya nafsu makan.
__ADS_1
Langsung masuk ke mulut, urusan enak atau tidak, tidak penting. Yang jelas sudah masuk ke perut.
Setelah melihat Andi makan, Reno berpamitan pulang. Tanpa sadar, reno menabrak seseorang. Tetapi bodo amat bagi reno, dia terus melangkah tanpa menoleh kebelakang siapa yang dia tabrak.
Rio menunggu permintaan maaf dari orang yang menabraknya, tetapi semakin lama tidak ada orang yang padanya. Rio melihat kebelakang, orang yang menabraknya sudah sangat jauh. Hanya punggungnya uang bisa rio lihat.
"Dasar orang yang tidak tau diri, sudah menabrak tidak meminta maaf. Aku heran, siapa yang mengajari anak seperti itu?" Kata reno sebelum kembali melangkah.
Di Kediaman Andi....
Malam datang menyambut, di temani hujan yang lebat. Dara duduk merenung. Dia penasaran apa yang terjadi dengan rendy. Tidak masuk akal baginya tiba-tiba genangan air membasahi lantai. Pasti ada seseorang yang sengaja membuang air di lantai.
Karena penasaran yang terlalu dalam, dara memeriksa cctv rumah Andi. Rumah yang besar, memiliki cctv di mana-mana kecuali toilet dan kamar pribadi.
"Aku bisa menemukan bukti" guman dara sambil mengecek cctv di ruang kerja Andi.
Betapa terkejutnya, dara melihat jika dirinya yang membawa air. Dara terus memperhatikan, di mana Rendy memeluknya dari belakang. Rendy seolah terkejut dan berlari menuruni tangga. Seketika rendy terjatuh. Di tambah dara malah pergi meninggalkannya.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin pelakunya. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya" kata dara sambil memukul meja di depannya.
Dara tidak percaya, dirinya penyebab rendy kritis di rumah sakit. Dara menjatuhkan semua buku-buku di meja Andi.
"Aku yakin, seseorang mencoba menjebakku. Aku tidak mungkin melakukan hal keji pada anak-anak" kata dara sambil menangis.
Bagaimana bisa seorang dokter psikologis anak, yang seharusnya menyukai anak-anak malah membuat mereka celaka.
Dara berlari keluar dari rumah Andi, tidak peduli hujan yang lebat. Dia terus melangkah dengan baju yang basah. Petir seolah datang mengekspresikan hati dara saat ini.
__ADS_1
Berlari sekencang mungkin, menjauhi rumah Andi. Hanya itu yang ada di pikiran dara. Jika Andi tau dirinya lah penyebab rendy celaka, Andi tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari dara.
Dara tiba di rumah ayahnya. Dia tidak mengetuk, dara memilih duduk di depan pintu. Nasib dara menyedihkan. Dia yang dekat dengan rendy, dia juga yang membuatnya celaka. Satu kesalahan bisa mengalahkan seribu kebaikan.