Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 65


__ADS_3

Setelah memastikan sang sopir memasukkan Dara di bagasi mobil, mobil Andi pun melaju ke sebuah tempat di mana Dara tidak pernah ke sana. Tempat penyiksaan untuk musuh Andi.


Mobil berhenti tepat di depan gerbang. Beberapa anak buah Andi yang melihatnya, berlari menyambut tuannya. "Tuan Andi datang!!" teriak salah satu anak buahnya yang bertubuh besar dan tegap. Dia langsung menunduk ketika melihat Andi turun dari mobil.


"Tuan, kami belum menangkap musuh yang tuan maksud. Lalu, kenapa tuan Andi berada di sini?" tanya Rahmat dengan alis berkerut. Dia yang bertanggung jawab untuk menjaga tempat penyiksaan Andi.


"Lupakan!" kata Andi sambil mengibas tangannya.


"Aku bawa seseorang musuh, kau harus menyiksanya agar dia tahu, dengan siapa dirinya berurusan." lanjut Andi dengan suara tegasnya.


Anak buah Andi saling berpandang sebelum mengangguk. Berbeda dengan sopir Andi, dirinya meneguk ludahnya ketika mendengarnya. Rasa kasihan terhadap Dara mulai terlihat. Tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Perintah Andi mutlak baginya.


"Kamu, bawa musuh di ruang penyiksaan!" tunjuk Rahmat yang menoleh ke salah satu orang yang berdiri di sampingnya.


Andi berlalu masuk ketika anak buahnya membuka bagasi mobil. Betapa terkejutnya mereka, melihat seorang wanita cantik yang terbaring tanpa sadarkan diri. "Loh, apa musuh tuan Andi perempuan?" tanya anak buahnya yang merasa kasihan melihat wajah cantik Dara.


Rahmat ikut mengintip, dirinya juga terkejut. Tetapi tetap saja, dia harus membuat Dara terluka karena sudah berurusan dengan Andi.


Andi memutar kursinya di ruangannya, ketukan pintu membuat dirinya terhenti.


Tok...Tok...Tok...

__ADS_1


Rahmat masuk setelah mendapat perintah dari Andi. Alis Andi berkerut, Rahmat datang menemuinya setelah di beri perintah. "Tuan, apa kami harus menyiksa perempuan tersebut?" tanya Rahmat sambil menunduk. Selama ini, Andi tidak pernah membawa perempuan ke ruang penyiksaan.


"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan?" tanya Andi dengan alis yang terangkat.


"Maaf, tuan. Tetapi..." kata Rahmat terjeda ketika mendapat tatapan aneh dari tuannya seolah ingin menerkannya karena tidak mengikuti perintahnya.


"Baik tuan, akan aku kerjakan sekarang." kata Rahmat yang buru-buru keluar. Tangan Andi mengetuk meja di depannya, lalu dia menggeleng kepalanya. Dia juga bingung harus menyiksa Dara atau tidak, tetapi perbuatan Dara sudah keterlaluan pada Andi. Dara sudah mencoba membuat hidup Rendy tidak tenang.


'Siapapun yang berniat jahat pada putraku, tidak akan aku bisa maafkan. Meski itu kamu, Dara.' guman Andi.


Rahmat masuk ke ruang penyiksaan melihat Dara yang sudah terikat sempurna. "Bagaimana, apa yang di katakan tuan, Andi?" tanya salah satu dia antara mereka.


"Lalu, apa kita harus melakukannya? dia seorang perempuan," ucap salah satu anak buahnya membantah.


"Harus bagaimana, ini sudah perintah mutlak dari tuan. Aku sudah memastikannya." ujar Rahmat yang menatap satu per satu anak buahnya.


Mereka mulai beraksi, membuat Dara terbangun dengan menyiram air dingin ke tubuh Dara. Dara yang merasakan tubuhnya kedinginan dan basah kuyup, membuka perlahan matanya. Dia langsung membulatkan matanya, melihat tiga orang laki-laki memakai jas sedang menatapnya.


Dara memberontak, dia ingin kabur. Tetapi tangan dan kakinya terikat dengan erat membuat dia tidak bisa bergerak. "Siapa kalian?" tanya Dara setelah mengumpulkan keberanian untuk bicara.


"Tidak penting siapa kami, karena anda sudah membuat masalah dengan tuan kami, anda harus menerima imbalannya." jawab Rahmat dengan nada suara mengancam.

__ADS_1


Mata Dara membulat, masalah apa yang sudah di buat dirinya. Dia sama sekali tidak tahu. Dara memeriksa satu per satu orang di depannya, tetapi dia sama sekali tidak mengenalnya. Jika di lihat dari cara berpakaiannya, mereka bukan anak buah Hansa.


"Siapa tuan kalian dan masalah apa yang sudah aku buat?" tanya Dara kembali.


Anak buah Andi malah tertawa meledek. Tawa mereka terdengar melengkik di telingan Dara. "Hei, apa kami harus menjawabnya?" kata mereka yang balik bertanya.


"Iya, dia harus tahu sebelum dirinya meninggal." kata salah satu anak buahnya yang berdiri di samping Rahmat.


Rahmat maju menarik rambut Dara yang di ikat rapi. "Tuan Andi, dia adalah tuan kami. Dan kamu sudah membuat masalah dengannya," bisik Rahmat yang menjauh setelah mengatakannya.


Dara sama sekali tidak percaya, tidak mungkin Andi membuat dirinya seperti ini. Terlebih, dia adalah istrinya dan ibu dari Rendy. Saat Dara merenung, Rahmat memukul wajahnya. Satu kali pukulan, wajah Dara langsung memar. Kepala Dara oleng, dia tidak pernah di pukul sebelumnya. Anak buah Andi mulai menyiksa Dara.


Diam-diam, Andi melihat dari lantai atas. Air matanya terasa ingin terjatuh melihat Dara yang di siksa. Andi memilih pergi daripada hatinya akan terus kasihan pada Dara.


Ketika keluar dari pagar, Anduli mendapat telepon dari Reno. "Ada apa, Reno?" tanya Andi yang masuk ke dalam mobilnya.


"Begini, aku sudah mendapat keseluruhan biodata tentang dokter Dara. Kau harus melihatnya, dirimu pasti terkejut mengetahuinya." kata Reno dari seberang telepon.


"Baik, Reno. Aku segera ke pulang ke rumah, kau tunggu aku di rumah. Aku jemput Rendy terlebih dahulu." kata Andi yang mematikan ponselnya. Dia memberi perintah pada sopirnya untuk melajukan mobilnya.


Di tengah perjalanan pulang, Andi mendapat telepon dari Rahmat. Sepertinya dia telah berhasil menyiksa Dara.

__ADS_1


__ADS_2