
Andi terus berjaga di luar rumah sambil menunggu kedatangan Faul. Tidak berselang lama, mobil berwarna hitam memasuki kawasan rumah rahasia Andi. Andi berdiri menyambutnya. "Kak Andi, bagaimana keadaan Rendy?" teriak Faul yang baru turun dari mobil.
"Dia baik-baik saja," kata Andi yang sudah berapa kali mengatakannya. Faul begitu sangat khawatir, sampai terus bertanya-tanya untuk memastikan ulang.
Faul melihat sekeliling, matanya mencari-cari sesuatu. Andi yang melihatnya merasa heran. "Lalu, di mana Rendy?" tanya Faul seketika.
"Rendy ada di dalam sedang istirahat." jawab Andi. Faul langsung berlari masuk mencari keberadaan keponakan tersayangnya.
Faul bisa bernafas lega, melihat Rendy yang sedang tertidur bersama Dara. "Loh, Kak. Kenapa dokter pribadi Rendy juga ada di sini, apa kalian bertemu ketika mencari Rendy?" tanya Faul menghadap Andi.
"Tidak, Dara yang sudah menyelamatkan Rendy. Dia tidak sengaja bertemu Rendy di bandara ketika ingin pergi liburan." jelas Andi.
Faul mengangguk, dia sudah paham. Deringan ponsel membuat Andi terpaksa menghentikan pembicaraannya dengan Faul. "Aku angkat telepon dulu." kata Andi yang sedikit menjauh dari Faul.
Andi melihat nomor yang tidak di kenal, dia langsung mengangkatnya takut pemberitahuan dari anak buahnya. Tetapi, suara yang sering berdebat dengan Andi terdengar membuat Andi menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Ada apa kau menghubungiku, mau memberitahuku jika temanmu sudah di temukan?" tanya Andi yang meletakkan ponselnya di dekat kupingnya.
"Hei, kau harus datang menjemputku. Aku lelah berjalan hampir seharian." Teriak Rio dari seberang telepon. Andi sedikit menjauhkan ponselnya ketika teriakan Rio menggema di telingannya.
"Kirim lokasinya, aku segera ke sana." Kata Andi yang menutup panggilan teleponnya.
Andi menghampiri Faul yang tengah duduk di sofa. "Aku pergi dulu menjemput Rio. Kau tunggu di sini dan awasi Rendy. Jangan sampai di hilang lagi?" Kata Andi yang menekan perkataannya.
"Siap, kak. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Faul mantap.
Tidak lama, seseorang menepuk pundak Andi dengan keras. Andi yang kaget, spontan menarik tangan Rio dan membantingnya. semua orang yang berada di sekitar bertepuk tangan. Mereka mengira jika Andi dan Rio sedang melakukan pertunjukan.
"Kau sialan, badanku sudah lelah sekarang di banting." Ucap Rio protes.
"Maaf, kau membuatku kaget. Spontan aku melakukannya." Ucap Andi tidak merasa bersalah. Dia malah tertawa melihat Rio kesakitan.
__ADS_1
"Tidak ada akhlak, aku kesakitan malah kau yang tertawa." Kata Rio sedikit kesal.
Rio bangun sambil menarik tangan Andi. Dia tidak bisa berdiri tegap, punggungnya terasa sakit. "Hei, kau harus tanggung jawab. Bawa aku ke tukang pijat." Teriak Rio.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Tidak apa jika kamu tidak mau. Asalkan, kamu yang menjadi tukang pijat aku." Tunjuk Rio mengancam.
"Oke, kita tidak perlu ke tukang pijat. Langsung ke rumahku saja." Kata Andi yang mendorong Rio masuk ke dalam mobilnya.
Rio sempat tidak percaya, bisa saja Andi berbohong. "Kau serius ingin menjadi tukang pijatku?" tanya Rio memastikannya.
"Kita pastikan di rumah saja." Jawab Andi yang menanggapi.
Mereka akhirnya pergi ke tempat persembunyian. Sudah banyak orang yang berdiri tegap. Rio sempat terkesimau, Andi mempunyai bala tentara banyak sekali. "Jangan terus memandang mereka." Ucap Andi yang mengerti, orang di sampingnya sedang terkagum dengan pengawalnya.
__ADS_1