Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 63


__ADS_3

Ramadhan berpura-pura tenang, padahal dirinya ingin sekali keluar dan pergi dari sini. "Aku tidak mau jawab," ucap Ramadhan dengan suara lantang.


"Apa kamu bilang?" anak buah Hansa mulai hilang kesabaran. Dia memukul wajah Ramadhan hingga babak belur. Tidak ada pengampunan untuknya.


"Aku ingatkan sekali lagi, jika aku bertanya kamu harus menjawabnya. Jika tidak, aku tidak yakin kamu bisa melihat duniamu ini esok harinya." Tegas anak buah Hansa dengan memberi ancaman.


Ramadhan meneguk ludahnya, rasa sakitnya sekarang tidak ada apa-apanya di bandingkan ancaman anak buah Hansa. Ramadhan harus keluar dari sini dan memutar idenya. Dia masih harus membantu Dara berjuang.


"Katakan cepat, apa alasanmu membakar markas?" tanyanya kembali.


Sudut bibir Ramadhan tersenyum, dia menatap wajah anak buah Hansa dengan tajam. "Apa kau yakin, aku yang membakarnya? tuanmu pasti tahu jika aku tidak mungkin bisa membuat kebakaran besar, terlebih adalah markas kalian." jelas Ramadhan yang membuat anak buah Hansa bingung. Alisnya berkerut seketika.


Dreet....Dreet....Dreet....


Deringan ponsel membuat dua orang yang saling berpandang teralihkan. Mereka mulai sibuk menatap hal lain. Anak buah Hansa mengangkat teleponnya dan keluar menjauh dari Ramadhan.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Andi sudah pulang ke rumahnya. Ketika masuk ke ruang tamu, keadaan rumahnya terasa berbeda. Sunyi sekali, anak dan adiknya tidak menyambutnya. Biasanya, ketika Andi pulang Faul dan Rendy berlari menghampiri mereka. Entah mengadu atau meminta pendapat dari Andi.


Andi menuju kamar Rendy, pintu kamar Rendy terkunci. Andi sempat panik dan memaksa membuka pintu. Tiba-tiba suara Faul terdengar. "Kak Andi sudah pulang, kenapa tidak memberitahuku?" tanya Faul yang datang membawa semangkok bubur di tangannya.


Andi menoleh menatap Faul dan alisnya berkerut melihat adiknya membawa bubur panas. "Siapa yang mau makan bubur?" tanya Andi bingung. Tidak ada anak kecil di rumahnya yang memesan bubur.


"Rendy. Dia datang dan memintaku membuatkan bubur untuknya. Mau tak mau, aku harus bergulat di dapur. Sudah berapa kali aku membuatkan bubur, hanya ini yang hasilnya lumayan bagus. Tidak lembek dan tidak gosong." jelas Faul yang menghela napas panjang.


Andi kembali memegang gang sambil mengetuk. Dia pikir jika Rendy sedang tertidur di dalam kamarnya. "Rendy, papa sudah pulang. Bubur yang Rendy pesan sudah di buat Faul, buka pintunya!" teriak Andi yang menguping pembicaraan dari dalam kamar Rendy.


"Ada yang tidak beres," kata Andi yang kembali panik. Dia malah mendobrak pintu dan menendang dengan keras. Dirinya lupa, jika dia menyimpang kunci cadangan kamar Rendy.


Pintu kamar Rendy terbuka, terlihat dua orang yang sedang tertidur dengan selimut yang membalut seluruh tubuhnya. Faul buru-buru masuk, menyimpang bubur di atas meja belajar Rendy. "Rendy, paman sudah buatkan bubur. Nanti kalau buburnya sudah dingin, kamu langsung makan." ucap Faul yang kembali keluar dari kamar Rendy. Faul sama sekali tidak merasa curiga.


Berbeda dengan Andi, tatapannya begitu tajam sampai menangkap hal yang membuat dirinya curiga. Dua orang yang sedang tertidur, sama panjang. Padahal, Rendy dan Dara jelas sekali jika mereka tidak sama tingginya. Andi mendekat dan menarik selimutnya. Faul sempat mencegahnya, dia tidak mau keponakannya menjadi terganggu karena ulah Andi.

__ADS_1


"Kak, hentikan. Kenapa Kak Andi suka sekali mencari masalah dengan Rendy, biarkan dia istirahat sejenak. Mungkin dia capek," ucap Faul kesal. Dia memegang tangan Andi yang menarik selimut.


"Lepas, Faul!" ucap Andi dengan menatap tajam mata adiknya. Andi terlihat menyeramkan, sifat mafiannya terlihat. Faul buru-buru melepas gengamannya pada tangan kakaknya.


Andi menarik selimut dan mengibasnya. Dugaannya sangat benar, hanya terdapat dua guling yang terletak di tempat tidur. Rendy maupun Dara, tidak terlihat sama sekali. Mata Faul membulat, dia terkejut melihat keponakannya dan Dara hilang. "Loh-loh, Rendy ke mana?" tanya Faul panik.


Faul menepuk semua guling, mencari Rendy di sana. Andi tersenyum tipis, sekarang Dara sudah mulai bermain-main dengannya. "Cepat juga dia beraksi, apa tau jika aku sudah menyuruh seseorang mencari tahu tentang dirinya?" tanya Andi yang tidak pernah membayangkan dirinya lengah kali ini.


"Apa maksud, Kakak?" tanya Faul yang mendengar ucapan sang kakak.


"Faul, kamu jaga rumah. Aku ada urusan sebentar," ucap Andi yang berjalan pergi dari rumahnya. Andi memilih menyetir sendiri. Sebelum dia mencari tahu keberadaan Rendy, Andi singgah di sebuah tempat untuk mengambil senjatanya yang sempat dirinya titipkan.


"Dara, aku tidak segan-segan membunuhmu jika kamu berbuat macam-macam dengan keluargaku. Sepertinya, aku tidak memberikan pelajaran lebih padamu." kata Andi yang bicara sendiri.


Andi kembali ke mobilnya, menyalakan ponselnya. Andi diam-diam menyimpang alat penyedap di ponsel Rendy, karena anaknya tidak akan bisa lepas dari ponselnya. Ke mana dia pergi, ponselnya selalu ikut bersamanya. Sama seperti sekarang, Rendy membawa ponselnya bersamanya.

__ADS_1


Andi menghubungi Rendy, dia berharap anaknya mau mengangkatnya. Walau tidak di angkatpun, Andi tetap bisa menemukan lokasi Rendy. Saat tahu Rendy berada di rumah Dara, Andi langsung menyusulnya ke sana.


__ADS_2