
Dara menemani Rendy tidur di kamarnya. Andi sibuk menelpon seseorang. "Aku akan ke markas sekarang, berikan semua infromasi tentang Dara." kata Andi yang menutup panggilan teleponnya.
Andi masuk menemui Rendy, dia ingin izin pergi. Tetapi ketika masuk ke kamar anaknya, dia mendapati Dara yang tertidur di dekat Rendy. Senyum Andi terukir seketika. Dia begitu senang melihat Rendy tidur terlelap bersama dengan Dara. 'Ah, aku tidak boleh berpikir baik dengan Dara. Aku khawatir, dia adalah dalang dari orang yang ingin balas dendam padaku. Kalau sampai aku tahu kebenarannya, aku tidak akan bisa maafkan dirinya.' guman Andi yang mengelus perlahan rambut Dara.
Dia kemudian pergi dan menutup kembali kamar Rendy. Andi berjalan masuk ke dalam mobilnya menuju markasnya. Sudah banyak anak buahnya yang berjejer rapi menyambut kedatangannya. "Hormat pada tuan Andi!" teriak Reno yang memimpin.
Andi turun dari mobilnya, menatap Rio yang memberinya hormat. "Aku tidak dilantik menjadi kapten atau naik pangkat. Hentikan, kau seperti polisi saja." ucap Andi yang menurunkan tangan Reno.
"Maaf, tuan." kata Reno yang menunduk.
Mereka berdua langsung masuk ke ruangan Andi. "Jadi, bagaimana penyelidikan tentang Dara?" tanya Andi bergitu masuk ke ruangannya.
"Begini tuan, aku belum bisa mendapat informasi banyak tentang Dara. Sepertinya tuan Hansa menutupi semuanya."
"Apa?" Andi yang memutar kursinya berhenti. Dia menatap Reno dengan tajam. Pantas anak buahnya melakukan penyambutan waras padanya, ternyata untuk menutupi kesalahannya.
"Kau bodoh? tidak bisa bekerja dengan baik. Masalah Dara saja tidak bisa kamu kerjakan, padahal kita ini salah satu geng mafia yang terkuat." ucap Andi yang tidak habis pikir dengan perkataan Reno. Dia sudah yakin mendapat informasi tentang Dara hari ini juga. Terlebih Dara sedang berada di rumahnya, dia bisa mengancam Dara dengan informasi yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Maaf, tuan. Anak buahku mengatakan akan mencari tahu informasi suami dokter Dara terlebih dulu. Karena semua infromasi Dara berada di tangannya." jelas Reno.
"Suami?"
"Iya, Tuan. Diam-diam dokter Dara pernah menikah dan mempunyai anak satu. Tetapi, kami baru menyelidiki di mana keberadaan anak dan suaminya."
"Oke, aku tunggu besok informasinya." Ucap Andi yang kembali memutar kursinya.
...----------------...
Di tempat lain, Hansa menepuk mejanya berkali-kali. Dia juga melayangkan tinju ke depan meja dan menendang tong sampah yang tidak jauh darinya. Dia sangat kesal mendapat informasi jika Rendy berhasil lolos. "Aku tidak mau kalah, aku sudah hampir menang makah menjadi seperti ini. Andi, lihat saja. Aku akan membuatmu memohon-mohon padaku." kata Hansa dengan tegas.
Tidak lama, pesan masuk ke ponsel Hansa. Dia buru-buru memhukanya dan matanya langsung membolak melihatnya.
KAU HARUS MELAWANKU DENGAN ADIL, TIDAK PERLU MENGGUNAKAN KELUARGAKU. KARENA AKU TIDAK AKAN BERANI MEMBUNUHMU JIKA KAMU MELEWATI BATASMU, HANSA.
Hansa terkejut membacanya, tidak mungkin jika Andi yang mengirim pesan ancaman padanya. Hansa menghubungi nomornya, tetapi sudah tidak aktif. "Sial, seseorang ingin membuatku takut. Dia tidak sadar, sedang berhadapan dengan siapa." kata Hansa yang lagi-lagi emosi.
__ADS_1
Anak buah Hansa datang berlari dengan wajah panik. "Tuan Hansa, markas kita yang tidak jauh dari sini habis terbakar api. Pelakunya berhasil kabur." ucapnya yang berusaha mengatur napasnya.
"Apa?" Hansa terkejut mendengarnya.
"Siapa yang melakukannya!!" teriak Hansa penuh marah. Dia sama sekali tidak terima. Tiba-tiba Hansa teringat dengan Rio dan Ardi.
"Jangan-jangan mereka yang melakukannya." umpat Hansa yang berpikir.
Hari ini begitu sial baginya, mendapat informasi jika Rendy dan Ardi berhasil lolos. Di tambah pesan ancaman dari orang misterius. Kemudian markasnya yang selama ini di jaga dan di besarkan dengan baik harus terbakar. Seseorang sudah merencanakannya dengan baik.
"Cari pelakunya sampai ketemu dan bunuh dia!" perintah Hansa.
Anak buahnya langsung berlari keluar mengikuti arahan Hansa. Dia memerintah banyak orang untuk mencari pelaku tersebut.
Ramadhan melepas maskernya, dia sudah berlari sejauh mungkin. "Aku yakin, di sini sudah aman." kata Rio yang beristirahat sejenak di bawah pohon rindang.
Ramadhan berhasil membakar markas Hansa, di saat semua anak buahnya lengah. "Hansa tidak akan aku biarkan membuat hidup Dara susah. Lebih baik aku membunuhnya daripada dia yang membunuh putri kesayanganku." ucap Ramadhan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Ramadhan melihat banyak orang yang berpakaian lengkap berkeliaran di mana-mana. Dia seperti mencari seseorang. "Siapa dia?" tanya Ramadhan yang memperhatikannya. Bukan hanya satu orang, mereka datang berkelompok.
Mereka langsung mendekati Ramadhan yang terus memperhatikannya. Melihat orang yang tidak di kenal menghampirinya, Ramadhan menjadi salah tingkah. Antara takut dan panik menguasainya. Bisa jadi, mereka orang-orang Hansa yang di tugaskan untuk menangkapnya. "Apa yang harus aku lakukan?" guman Ramadhan yang melihat mereka semakin dekat padanya.