Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 60


__ADS_3

Andi tengah membujuk Rendy untuk makan, wajahnya tampak lesu. Berapa kali Andi mencoba menyuapinya, Rendy tidak mau membuka mulutnya. Dari kemarin, sejak Rendy pulang, dia enggang untuk makan. Bicara saja, dia tidak mau.


"Anak papa harus makan, kamu sedang sakit," bujuk Andi.


Rendy demam semalam, tetapi dia tidak merengek pada Papanya. Tidak seperti biasa, jika Rendy sakit, Andi akan kewalahan mengurusnya. Banyak yang Rendy mau.


Rendy menggeleng kepalanya, dengan tangan yang terlipat di depan dada. Rendy terus diam dengan wajah datarnya. Faul menghampiri kakaknya yang tampak lesu. "Kak Andi sakit juga?" ucap Faul yang terkejut. Wajah Andi terlihat pucat, wajar jika dia mengira sakit.


"Rendy yang sakit," jawab Andi dingin.


Faul menatap Rendy yang memasang wajah cemberut, dia kemudian beralih menatap Andi. "Kirain kak Andi sakit juga, aku bisa kewalahan mengurusnya. Mana yang satunya mempunyai tingkah tidak bersahabat lagi?" sindir Faul.


Rendy mengerti maksud Pamannya, dia menatap tajam Faul semakin menyeramkan. "Wah, lihat keponakanku. Dia sudah seperti papanya, mengertak dengan mukanya yang tidak enak di lihat." jawab Faul yang memijat pelipisnya.


Andi bangkit, duduk menjauh dari Rendy. Kesabarannya sudah habis, dia membiarkan Rendy begitu saja. Mungkin jika tidak di pedulikan, Rendy akan mau makan. Faul masih berdiri, ia memegang ponselnya. Diam-diam memotret wajah tampan Rendy yang sedang cemberut.


Cekrek...Cekrek...


Sekilas cahaya putih terlihat, Rendy menutup wajahnya. Dia merasa takut, terdapat sebuah bayangan masa lalu di benaknya.


"Hei, Faul!! jangan membuat Rendy takut!" teriak Andi yang bangkit dari duduknya menghampiri Rendy. Dia memeluk Rendy, tetapi tangannya malah di tangkis oleh anaknya.

__ADS_1


Faul tertawa melihatnya, ternyata Rendy belum usai marahnya. "Sayang sekali, kau mau menjadi pahlawan tetapi di tolak." ejek Faul.


Tidak berselang lama, pintu rumah mereka di ketuk. Semua orang menoleh ke arah pintu. Berpikir, siapa yang datang bertamu sepagi ini. "Kak Andi mengundang seseorang ke rumah pagi sekali?" tanya Faul menatap kakaknya.


"Tidak, aku tidak mengundang siapapun." jawab Andi yang menaikkan bahunya.


Seketika, Rendy berlari keluar. Andi dan Faul terkejut, tetapi mereka mengikuti Rendy. Rendy membuka pintu rumah sendirinya, dia langsung memeluk Dara yang berdiri di depan pintu sambil membawa sekeranjang buah. "Mama sudah datang. Rendy dari tadi menunggu Mama," kata Rendy dengan manja.


Faul dan Andi saling menatap, dia tidak mengerti dengan perubahan sikap Rendy. Padahal, Andi sudah berusaha membujuk Rendy makan, bicara tetap saja Rendy tidak mau menyahut sekatapun.


Dara mencium kening Rendy. "Maafkan, Mama sayang. Baru bisa datang, Mama tadi banyak urusan," jawab Dara dengan lembut.


"Ma, ayo kita masuk!" perintah Rendy yang menggandeng tangan Dara.


"Ma, Rendy laper. Dari semalam Rendy tidak makan." Adu Rendy.


Dara terkejut mendengar pengakuan anaknya, tatapan Dara langsung tertuju pada Andi dan Faul yang terus mengikuti mereka. "Apa, kau aku tidak memberi makan padanya? dia terus menolak dan tidak mau makan." Adu Andi sambil melipat kedua tangannya.


Rendy malah membalas tingkah Papanya. Dia melipat kedua tangannya dan menatap tajam Papanya. Faul dan Dara menyaksikan perang dari tatapan mereka.


"Aku akan ambilkan makanan. Rendy mau makan apa?" tanya Dara yang berjongkok menyamakan tinggi Rendy.

__ADS_1


"Nasi goreng buatan Papa. Enak sekali!" Puji Rendy.


"Loh, kalau mau nasi goreng buatan papa Rendy, minta sama dia."


"Tidak mau, Rendy marah dengan Papa." tegas Rendy.


"Terserah, aku tidak akan mau buatkan nasi goreng." Sahut Andi.


Wajah Rendy memerah, dia berusaha menahan amarahnya. Tiba-tiba saja, Rendy langsung menangis sambil memeluk kedua lututnya. "Rendy mau makan nasi goreng buatan Papa," lirih Rendy.


"Kak Andi membuat Rendy menangis. Kakak harus ingat, aku sudah berjanji pada diriku. Siapapun orang yang membuat Rendy menangis, dia akan berurusan denganku." Ancam Faul.


"Lalu, kau mau apa?" tantang Andi.


Sudut bibir Faul terangkat ke atas. "Karena Kak Andi yang membuatnya menangis, aku tidak bisa melakukan apapun." jawab Faul yang di akhiri tawa.


Dara mengusap lembut punggung Rendy, memberikan kasih sayang. Matanya tiba-tiba menjadi sendu. "Bagaimana jika Mama yang buatkan nasi goreng, rasanya tidak kalah enak dengan buatan papa?" bujuk Dara.


"Tidak perlu, aku akan membuatkan untuk putraku. Dia mau nasi gorengku papanya. Lagian, kamu hanya orang luar saja." jelas Andi yang berlalu pergi setelah mengatakannya.


Hati Dara terasa terkikis, ibu mana yang tidak sakit mendengar perkataannya. 'Aku ibunya, ibu kandungnya. Tetapi, kau hanya menganggap aku sebagai orang luar bagi Rendy' guman Dara.

__ADS_1


Faul dari terus, memperhatikan wajah Rendy dan Dara bergantian. Dia merasa, mereka berdua seperti ada kemiripan. Biasanya ikatan batin antara anak dan ibu tidak pernah lepas. 'Benar-benar aneh. Wajah dokter tidak terasa asing, dia hampir mirip dengan almarhuma kakak ipar. Tetapi ada sedikit yang berbeda' guman Faul dengan alis yang berkerut.


Pikiran Faul selama ini tidak pernah salah, apa yang di katakannya terkadang sesuai fakta. 'Ah, tidak mungkin. Aku tidak mungkin berpikir yang aneh-aneh. Jika kak Andi tahu, dia akan menertawakanku.' gumannya lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Dara dan Rendy.


__ADS_2