
Andi tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Dia masih sedih melihat rendy yang terbaring dengan infus dan alat bantu pernapasan menempel. Rasa penyesalan yang mendalam membuat Andi ingin sekali membunuh dirinya.
"Aku tidak becus menjadi ayah. Rendy seperti ini karena salahku" Teriak Andi sambil memegang kepalanya.
Rasa bersalah, membuat Andi frustasi. Rendy yang selalu memberikan dirinya semangat, harus berhadapan dengan maut. Tidak bisa memberi kepastian, apa dia bisa bangun menyapa ayahnya atau memilih pergi bersama ibunya.
"Aku mohon Ria, jangan membawa rendy bersamamu. Aku tidak tau harus bagaimana tanpa rendy" kata Andi sambil menangis.
Faul yang baru datang dari rumah sakit, mendegar suara tangisan kakaknya di depan pintu rawat rendy. Faul membuka pintu dan terkejut, melihat Andi menangis sambil duduk di tembok. Andi sangat menyedihkan jika di pandang. Ayah mana yang hatinya kuat jika melihat anak satu-satunya terbaring di rumah sakit. Tanpa memberi kepastian akan kha dia kembali hidup.
"Kak Andi tenang saja, aku yakin rendy bisa melewati semua ini" Faul memberi kakaknya harapan di mana dirinya sendiri tidak tau, apa yang di katakannya benar atau tidak.
"Aku takut faul, ini sudah seminggu. Rendy belum memberi tanda apapun" kata Andi dengan isak tanggisnya.
"Kak Andi jangan lemah. Rendy bisa lemah melihat kakak seperti ini. Rendy orang kuat. Percaya saja, dia pasti bisa melewati semua ini" Faul terus menenangkan kakaknya.
Hanya Andi dan rendy yang dimiliki faul. Jika rendy pergi dan andi memilih menyusulnya, Faul tidak punya siapapun lagi. Andi yang terlihat tidak peduli dengan faul, tetapi di hatinya sangat perhatian dengan faul. Hanya saja, kematian orang tuanya yang mendadak, membuat sikap Andi berubah menjadi dingin.
"Kak Andi harus kuat, aku tidak mau melihat kak Andi seperti ini" kata faul menangis.
Sarah yang selesai bertugas, ingin melihat kondisi rendy. Sarah di buat terkejut, melihat Andi dan faul duduk berpelukan. Mereka berdua menangis. Hati sarah sakit melihatnya. Ingin rasanya sarah menangis, dia terus menahannya.
"Kalian baik-baik saja?" Tanya sarah memaksakan senyumnya.
Faul buru-buru menghapus air matanya, sementara Andi tidak peduli, sarah melihatnya menangis. Hanya kondisi rendy yang membuat Andi peduli saat ini.
"Sarah, kau sedang apa di sini?" Kata faul tanpa ekspresi. Suaranya hampir tidak bisa di dengar sarah. Jelas sekali, kesedihan Andi dan faul bisa di rasakan sarah.
"Aku selesai bertugas, mau menjengguk rendy. Apa boleh?"
"Silahkan" Kata faul.
Andi kemudian berdiri dan keluar dari ruang rawat rendy. Andi menuju toilet, dia menagis sejadi-jadinya. Semua rasa sakit, Andi keluarkan. Andi memukul tembok membuat tangannya berdarah.
Ternyata, di sebelah toilet terdapat seseorang yang terganggu mendegar tangisan Andi. Dia keluar dan mengetuk pintu toilet Andi.
"Hei, kalian jangan menangis. Laki-laki tetapi menangis, tidak punya rasa malu?" Teriak orang tak di kenal mengendor pintu.
__ADS_1
Andi membuka pintu, darah masih menetes di tangannya. Orang tak di kenal jadi gemetar melihat darah di tangan Andi. Dia melangkah mundur perlahan sebelum berlari pergi.
*****
Di tempat lain, seseorang sedang senang. Dia tertawa terbahak-bahak. Memutar kursinya dengan kencang.
"Aku senang sekali melihat wajah Andi yang kesedihan. Sebentar lagi, dia akan merasakan rasa sakit yang aku rasakan sejak anakku meninggal" katanya dengan senyuman yang di sulit di artikan.
"Tuan, apa andi tau jika anda sudah membuat anaknya terjatuh?" Tanya Rio.
"Tidak, aku yakin di tidak akan curiga" kata hansa dengan senyuman mengerikan.
Flash Back...
POV DARA
Saat rendy sibuk bermain dengan dara, hansa memperhatikan dari kejauhan. Kemudian dia menyuruh Dara untuk membuatkannya kopi. Dara kedapur dengan senang hati.
Hansa mulai menjalankan rencana berikutnya, dia memainkan musik yang lembut membuat dara merasa pusing. Dara pingsang sesaat kemudian hansa membisikkan sesuatu dan dara terbangun. Tetapi dara berubah seperti robot. mata merah tanpa berkedip. Tubuhnya seolah kaku dan hanya fokus memandang ke depan.
"Baik tuan, perintah anda adalah hidup bagiku" kata dara tanpa berkedip.
Pagi hari...
Dara baru turun, dia melihat dua bersaudara di ruang tamu. Sarah menghampirinya, dia terkejut faul sudah berpakaian lengkap.
"Kau mau ke mana?" Tanya dara.
"Dia mau bertemu pujaan hati, doakan semoga dia tidak di tolak. Kalau di tolak berarti bukan jodoh" kata Andi yang menjawab.
Dara hanya mengangguk, sementara faul fokus memperbaiki penampilannya.
"Sudah keren faul, tidak perlu di tambah keren lagi. Kau tidak ingat kata mama, tidak baik berlebihan"
"Terserah kakak saja, yang jelas aku sudah tampan. Sarah pasti terpesona dengan wajahku" kata faul sambil bergaya di depan Andi.
"Ya, semoga saja sarah terpesona. Aku malah memikir dia akan kesandung" kata Andi yang selalu membuat Faul kesal.
__ADS_1
"Apa hobi kak Andi ingin membuatku kesal?"
"Bisa jadi" kata Andi.
"Sia-sia aku di sini, lama-lama aku bisa waras" kata faul.
Faul keluar dari rumahnya mengendarai mobilnya, Andi mengikutinya sampai di teras dan melambaikan tangan.
Dara pertama kali melihat Andi seperti ingin menangis. Dara tersenyum, walau Andi seorang ketua mafia, yang di kenal sangat menakutkan, tetapi dia masih mempunyai hati dan kasih sayang untuk keluarganya.
Saat dara menaiki tangga, dia mendengar kembali suara musik yang sangat lembut. Bunyi musik, membuat kepala dara pusing, tidak berapa lama dara pinsang.
Mata merah kembali menyala, dara melihat lurus kedepan. Melihat Andi yang masih berada di luar.
Dara mempunyai kesempatan, dia menuangkan air di tangga. Kemudian menunggu rendy turun. Mata dara berubah menjadi warna merah.
Rendy yang baru bangun, melihat dara berada di tangga langsung memeluknya.
"Mama...." teriak rendy.
Dara tidak bergerak ketika di peluk, membuat rendy heran. Ketika rendy melihat dara, dia terkejut. Mata dara merah, rendy ketakutan. Rendy berlari turun dan menginjak lantai yang basah. Rendy terjatuh.
BUK....
Dara berjalan menjauhi rendy, seolah-olah tidak melihat apapun. Musik terdengar kembali membuat mata dara tertutup. Seketika sadar, dara merasa kepalanya sakit. Dia memegang kepalanya tetapi suara Andi membuat dara kaget. Takut terjadi apa-apa pada Andi.
"Apa yang terjadi dengan Andi?" Tanya dara buru-buru menghampiri Andi.
Dara keget melihat Rendy yang berimpah darah di lantai. Andi berusaha membangunkan rendy. Dara memandang bi ina, bingung dengan kejadian ini.
"Andi, bawa rendy ke rumah sakit. Aku akan telepon sarah untuk mempersiapkan dokter di sana" kata Dara yang ikut khawatir.
Tanpa aba-aba, Andi langsung membawa anaknya ke rumah sakit.
"Bi, tolong bersihkan darah yang menempel di lantai" kata dara sebelum ikut ke rumah sakit.
"Ya nyonya" kata bi ina dengan tangan bergetar.
__ADS_1