
Dara terbangun dari tidurnya karena deringan ponsel yang membuat dirinya kaget. Dara menjauh dari Rendy yang masih terlelap tidurnya. "Halo, Nek. ada apa?" tanya Dara yang bingung. Neneknya menelponnya, tidak biasanya dia seperti itu.
"Dara, kau di mana sekarang?" tanya Nenek Dara yang terdengar panik.
"Di rumah teman Dara, Nek. ada apa?"
"Ayahmu dalam bahaya. Nenek barusaja membersihkan kamarnya, menemukan suratnya jika dia ingin menghampiri tuan Hansa. Kau tahu sendiri, bagaimana kejamnya tuan Hansa." jelas Nenek Dara dengan suara menangis.
Dara terkejut mendengarnya. Dia buru-buru mengambil tasnya, ingin mencari ayah angkatnya. Tetapi suara Rendy bangun membuat Dara kembali kaget. Ponselnya sudah di matikan spontan. "Loh, Rendy. Sudah bangun?" tanya Dara seketika.
Rendy mengangguk sambil menatap wajah Dara terlihat panik. Dara juga membawa tasnya. "Mama mau pergi? Rendy ikut, Yah." kata Rendy yang turun dari tempat tidur.
"Tidak bisa, Rendy. Mama ada urusan sebentar, jika sudah selesai, Mama akan kembali ke sini menemui Rendy tersayang." ucap Dara lembut.
Rendy melipat tangannya dan memasang wajah cemberut. Hati Dara tidak kuat melihatnya. Wajah Rendy sangat mengemaskan. "Oke, tetapi Rendy harus janji dengan Mama. Jangan bilang-bilang jika kita keluar sebentar, ini rahasia kita berdua." ucap Dara meyakinkan Rendy. Andi tidak akan setuju jika dirinya tahu Rendy pergi keluar di saat sedang sakit. Tetapi, Dara tidak mau membuat Rendy ngambek dengannya. Dara masih ingin terus bersama dengan anak kandungnya.
Dara dan Rendy pergi, keluar dari kamar mengendap-endap. Terlihat Faul yang duduk di dekat ruang tamu sambil bermain ponsel. Dara dan Rendy bersembunyi di belakang sofa sambil menatap satu sama lain. Tidak tahu harus melakukan apa agar Faul bisa pergi dari sana. Rendy tiba-tiba bangkit, menghampiri Faul. Dara kaget melihatnya.
Rendy duduk di dekat abang Faulnya melirik dengan siapa unclenya saling mengabari. "Rendy?" kaget Faul yang baru menyadari kedatangan keponakannya.
"Loh, sudah bangun?" tanya Faul kembali.
"Iya." jawab Rendy singkat.
__ADS_1
"Dokter Dara mana?" tanya Faul yang mencari keberadaan Dokter Dara.
"Dia masih tidur di kamar. Uncle Faul bisa kan, membuatkan Rendy bubur yang enak. Rendy mau makan bubur!" perintah Rendy khas suara manjanya. Suara yang membuat Faul tidak bisa menolak permintaan keponakannya.
"Kenapa bukan Mama Dara saja yang memasak, bukannya Rendy suka masakannya?" protes Faul dengan suara lembut.
Rendy menggeleng kepalanya sambil menunduk seperti ingin menangis. Faul yang melihatnya, buru-buru menyetujui permintaan keponakannya. Sihir ampuh bagi Rendy.
"Oke, Paman masuk ke dapur buatkan Rendy bubur. Tetapi ingat, Rendy harus menunggu di sini. Jangan ke mana-mana," jelas Faul.
Rendy mengajukan jempol jarinya, membiarkan Faul pergi dari sana. Rencananya dengan Dara berhasil. Mereka akhirnya keluar dari sana. Dara mengendarai motor menuju rumahnya.
Ketika masuk bersama Rendy, Nenek Dara menyambut kedatangan mereka. Dia berlari ke arah Dara sambil menangis. "Ayahmu, Dara. Dia pergi!" tangis Nenek Dara pecah.
Nenek Dara memperlihatkan sebuah surat hasil tulis tangan Ramadhan.
MA, DARA. AKU PERGI MENCARI HANSA, JIKA AKU TIDAK KEMBALI MAKA DIA BERHASIL MENANGKAPKU. KALIAN TIDAK PERLU MENCARIKU, AKU TAKUT MEREKA BERNIAT UNTUK MELUKAI KALIAN.
TITIP SALAM
RAMADHAN
Dara mengembalikan kertasnya pada Neneknya. Dia kemudian pergi tetapi kembali lagi ketika sampai di depan pintu. Dara menunduk melihat Rendy. "Rendy mau Mama antar pulang atau tinggal di sini bersama Nenek?" tanya Dara memberikan pilihan.
__ADS_1
Rendy menatap wajah Nenek Dara, dia kemudian mengangguk dan menunjuknya. Dara menatap Neneknya. "Nek, aku titip Rendy. Aku cari ayah dulu, Nenek tenang saja." ucap Dara yang pergi dari rumah.
Nenek Dara membawa Rendy duduk di ruang tamu. Dia memperhatikan Rendy dengan seksama. Sementara Dara, pergi mencari Ramadhan yang entah ke mana. Dara berniat mencari di kediaman Hansa.
Di tempat lain, Ramadhan tidak bisa bersuara. Keringatnya bercucuran. Dirinya di bekam dan di ikat dengan erat di sebuah kursi. "Sialan, mereka berhasil menangkapku." ucap Ramadhan yang berusaha mencoba meloloskan diri.
Anak buah Hansa masuk, menatap Ramadhan. Senyum di bibirnya terukir melihar Ramadhan yang sudah berapa kali ingin mencoba kabur tetapi tidak berhasil sama sekali.
Dreet...Dreet...Dreet....
Ponsel anak buah Hansa berdering, dia menjauh sedikit ke dekat pintu dan mengangkat ponselnya. "Halo, Tuan. Aku berhasil menangkap Ramadhan." ucapnya dengan senang.
"Aku tidak yakin jika dia pelakunya, tetapi dia berkeliaran di sekitar markas. Kami menemukannya yang tidak jauh dari markas."
"Tenang tuan, aku akan menanyainya sebentar. Jika memang benar dia yang melakukannya, nyawanya akan aku habisi." ucap anak buah Hansa yang membuat Ramadhan gemetar ketakutan. Darahnya terasa dingin seketika.
"Baik, Tuan. Akan aku beritahu kabar terbaru selanjutnya." Ucapnya yang menutup panggilan telepon.
Dia melangkah mendekati Ramadhan. "Hei, apa yang kau lakukan di sekitar markas?" tanya anak buah Hansa dengan tatapan tajam, seolah ingin menusuk Ramadhan seketika.
"A-aku a-aku mencari sesuatu," jawab Ramadhan yang terbata-bata.
Alis anak buah Hansa berkerut, dia bingung mendengarnya. "Katakan! Apa yang kau lakukan di dekat markas. Apa benar, kamu yang sudah membakar markas kami?" bentaknya dengan suara keras. Ramadhan terkejut mendengarnya.
__ADS_1