
Reno datang ke rumah Andi tengah malam. Dia mengetuk pintu dengan perlahan, takut menganggu tuannya yang sedang tertidur.
Tok... Tok... Tok...
Reno menunggu respon dari dalam, tetapi dia sama sekali tidak mendapat jawaban dari dalam. Reno kembali mengetuk pintu, dia lagi dan lagi, dia mengetuknya dengan perlahan.
Tok... Tok... Tok...
Reno kembali diam mencoba mendengar suara dari dalam rumah tuannya. Terdengar suara langkah kaki yang kecil dan seperti sedang berjingkik-jingkik. Tidak berselang lama, pintu rumah Andi terbuka. Reno pun masuk, tetapi tidak melihat orang yang membukakan pintunya. Terlebih, ruang tamu sangat menyeramkan karena lampu tidak menyala.
Reno berkali-kali menelan ludahnya, dirinya merasa takut di tambah bulu kuduknya meremang. Tiba-tiba saja, Reno mendengar suara anak kecil dari arah belakang.
"Paman, kenapa datang ke sini malam-malam?" tanya Rendy yang bersembunyi di balik pintu.
Reno menoleh ke belakang, melihat wajah Rendy yang tidak terlihat jelas. "Apa dia tuan Rendy atau bukan?" tanya Reno pada dirinya sendiri.
Rendy lalu melangkah menghampiri Reno yang berjalan mundur. Karena masih gelap, Reno tidak bisa melihat wajah Rendy dengan jelas. "Aku tidak boleh tertipu. Bisa jadi, dia tuyul yang menyamar menjadi tuan Rendy. Tidak mungkin, anak kecil terbangun tengah malam." kata Reno yang menepuk wajahnya.
Reno kemudian menarik tangan Rendy, memegangnya. Tidak berselang lama, pintu ruang tamu menyala. Terlihat Reno yang menarik tangan Rendy.
__ADS_1
"Hei, kau!! Penculik anak?" tunjuk Faul yang belum melihat wajah Reno karena membelakangi dirinya.
"Kak Andi, Rendy mau di culik!!" teriak Faul membangunkan kakaknya.
Rendy dan Reno saling berpandang. Buru-buru Reno melepas tangan Rendy dan menoleh ke Faul. "Aku bukan penculik. Aku Reno, asisten tuan Andi." jawab Reno cepat. Dia tidak mau, tuannya salah paham. Bisa-bisa dirinya dalam masalah.
Faul bernafas lega. "Kenapa kamu baru bilang. Aku sampai panik melihat penculik masuk rumah, terlebih kamu memegang tangan Rendy dan menariknya?" jelas Faul yang memegang dadanya hampir copot.
"Biasa saja, Tuan. Mana ada orang berani menculik Rendy, yang ada penculik lebih memilih menculik anda." jawab Reno yang tersenyum sambil menahan tawanya.
Ardi berlari menuruni tangga, terdengar dari langkah kakinya yang berisik. Dengan wajah yang masih setengah sadar dan rambut yang acak-acakan habis tidur, Andi menghampiri keributan di ruang tamunya sambil membawa raket penyengat nyamuk. "Di mana penculiknya?" teriak Andi ketika melihat tiga orang berkumpul di ruang keluarga.
Rendy tertawa melihatnya, sementara Reno tersenyum dan memahan tawa. Faul menatap kakaknya di depannya. "Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Faul dengan suara lemah dan wajah datar.
Andi mengucek matanya ketika meliahat penculik yang dia maksud hampir sama persisi dengan wajah adiknya. Setelah beberapa menit, Andi terkejut. Menyadari jika Faul yang dia sengat. Raket Andi sampai terjatuh dari tangannya. "Loh, Faul. Kenapa bisa kamu menjadi penculik?" tanya Andi yang menatap wajah adiknya yang kurang bersahabat dengannya.
"Kak Andi," panggil Faul yang bersiap mengeluarkan suara jahannamnya yang selama ini terpendam.
"Ah, aku tidak salah. Aku mendengar dirimu berteriak jika Rendy mau di culik. Keadaanku sedang tidak baik karena aku langsung terbangun setelah mendengar suara kerasmu. Aku menjadi linglung dan salah memukul seseorang." jelas Andi, tetapi tidak mengubah ekspresi wajah Faul.
__ADS_1
"Ha ha ha," tawa Rendy pecah sambil menunjuk pamannya yang sudah tidak seperti Faul.
"Maaf, Tuan Andi. Mengganggu tengah malam, ada yang ingin aku beritahu masalah kita." kata Reno yang langsung menghentikan tawa Rendy.
"Paman, kamu hebat. Kamu bisa menunjuk paman Faul seolah dia yang penculiknya. padahal, paman yang berperan penculik di sini." kata Rendy sambil mengajukan jari jempolnya.
Andi menatap tajam ke arah Reno. Reno menjadi gugup, dia yang mendapat masalah kali ini. "Tidak. Aku tidak berniat menjadi penculik. Aku datang untuk bertemu papamu." kata Reno yang menepis perkataan Rendy.
"Ingin bertemu papa, maksudnya mau bertamu tengah malam?" tebak Rendy yang berpikir.
"Iya, benar. Karena ada urusan." jawab Reno sambil mengangguk.
"Jadi seperti itu. Aku pikir, Paman berniat menculikku. Soalnya, mengetuk pintu seperti kucing yang mengcakar saja. Suaranya sampai tidak terdengar. Beruntung aku lewat bersama uncle Faul dan aku mendengarnya. Awalnya aku ragu membuka pintu, tetapi setelah mengintip dan memastikan paman adalah manusia. Aku baru berani membuka pintu." jelas Rendy panjang lebar. Reno dan Andi mengangguk mendengarnya.
"Lalu, bagaimana dengan rambutku?" tanya Faul yang menunjuk rambutnya yang masih berdiri tegak.
Semua orang menoleh ke arahnya. Tiba-tiba, Andi kembali menatap Reno. "Reno, kita langsung ke tempat kerjaku. Kau bilang mau memberi laporan. Langsung saja!" perintah Andi yang berjalan menaiki tangga. Reno mengikut di belakangnya.
Kini tinggal Rendy dan Faul yang saling menatap. "Maaf, Uncle. Ini sudah larut malam, Rendy mau tidur agar bisa bangun pagi dan bertemu Mama Dara besok." Kata Rendy sambil menguap. Rendy kemudian menyusul ayahnya dan Reno ke atas. Faul berdiri sendirian, dia di tinggal seorang diri.
__ADS_1