Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 72


__ADS_3

"Rendy kenapa bisa sakit?" tanya Andi yang langsung menghampiri Rendy.


"Ya, namanya juga sakit tidak di minta kak, datang pun dengan sendirinya." jawab Faul yang berdiri di samping Rendy.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Andi yang menghiraukan jawaban adiknya.


Rendy memeluk papanya, sambil menangis. "Pa, aku rindu Mama Dara. Kenapa dia tidak kelihatan?" tanya Rendy yang berbisik pada Papanya.


Andi tertegun mendengarnya. Baru beberapa jam Rendy tidak beberapa Rendy tidak bertemu Dara, dua hari saja tidak cukup. Tetapi anaknya sudah sangat rindu dengan Dara.


"Nah, sekarang kamu kasih tau Rendy. Di mana Dara, kenapa dia tidak ikut pulang bersamamu. Kamu kan bilang tadi, mau mencari Dara dan membawanya pulang. Sekarang, anakmu menangih janjimu." Ucap Faul yang membuat keadaan Andi semakin sempit dan sulit.


"Iya. Maaf, Papa tidak bisa memaksa Dara ke sini. Dia sedang istirahat." kata Andi yang tidak tahu harus mengatakan apa pada anaknya. Terpaksa dirinya berbohong atau Rendy akan semakin curiga padanya. Proritas utama Andi, tidak membuat anaknya panik dan semakin membenci dirinya.


"Kita masuk saja dan tunggu Mama besok. Sudah mau malam, Rendy juga sedang sakit. Tidak baik berada di luar," kata Andi yang sopan dan lembut dengan Rendy.


Rendy memasang wajah kecewa dan cemberut, walau seperti itu dia tetap mengangguk kecil dan ikut masuk bersama Papa dan Pamannya.


Malam harinya, Ramadhan mondar mandir di ruang tamu karena gelisah belum mendapat kabar dari Dara. Ketika Nenek Dara membawa kopi, dia menatap anaknya yang sedang gelisah. "Ramadhan, kamu kenapa gelisah sekali, terlihat jelas di wajahmu?" tanya Nenek Dara yang duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Dara, Bu. dia tidak ada kabar sampai sekarang." kata Ramadhan yang menunduk sambil menghela nafas kasar.


"Mungkin polisi belum menemukan keberadaannya. Kita sabar menunggu sampai besok," ucap Nenek Dara yang menenangkan Ramadhan.


"Semoga, Bu. Dara sudah kembali besok, aku tidak bisa tetap menunggu di sini. Pikiranku tidak bisa tenang, selalu memikirkannya." kata Ramadhan yang sangat berharap.


Di rumah Hansa, anak buahnya datang memberi informasi pada tuannya. "Tuan, sepertinya, Haris tidak tinggal lagi di rumahnya. Dia sudah lama pindah dari sana." kata mereka yang memberi informasi sambil menunduk.


"Sial. Andi bisa membunuhku jika Dara tidak di temukan malam ini." kata Hansa yang marah. Meja di depannya sambil terlempar keras karena tendangannya.


"Cari terus Haris di mana. Kalau pergi, kerahkan semua anak buah kita untuk mencari malam ini juga. Aku sangat yakin, Dara bersama Haris. Karena yang selalu mengawasi gerak-gerik Dara." perintah Hansa.


"Halo, tuan Andi. Sepertinya mereka tidak berhasil menemukan Haris yang membawa Dara. Aku rasa, kita sebaiknya bergerak, mengingat koneksi tuan dengan peninggi perusahaan lebih banyak daripada mertua tuan." Jelas Reno yang menyarankan ide.


"Oke. Kamu kerjakan sekarang, usahakan besok Dara harus ketemu. Aku sudah terlanjur janji dengan Rendy, putraku bisa tidak percaya lagi padaku." Kata Andi dari seberang telepon dengan suara menekan.


Reno kemudian menutup panggilan teleponnya, kemudian pergi dari sana. Dia menuju markas, tidak lupa pula Reno menghubungi Rio dan Ardi untuk tergabung. Mengingat, mereka pernah menjadi bagian dari Hansa, tentu saja kenal dengan Haris yang sudah sangat akrab dengan Hansa sebelumnya.


"Kenapa kau memanggilku, butuh bantuan?" tanya Ardi ketika sampai di markas.

__ADS_1


"Ya ampun. Kamu kayak tidak ikhlas di panggil ke sini, Ardi. Kalau tidak mau, pulang saja sana. Tidak perlu datang," kata Rio yang mendengar keluhan Ardi.


"Bukan tidak ikhlas, aku hanya bertanya. Kamu sensi amat, lagi naik darah apa naik tensi? atau jangan-jangan, kamu datang bulan. Suka marah-marah?" tanya Ardi yang memancing.


"Kamu yang datang bulan. Aku mah tidak atuh," jawab Rio yang ketus.


"Stop. Kita berkumpul di sini, bukan mau bahas datang bulan. Jika kalian berdua mau membahasnya, tunggu setelah urusan kita selesai." kata Reno yang menghentikan perdebatan kakaknya dan temannya.


Ardi dan Rio hanya saling berpandang mendengar ocehan Reno. "Jadi, apa yang perlu kita lakukan?" tanya Ardi seketika.


"Kita cari Dara yang di bawa Haris. Kalian kan pernah bekerja dengan tuan Hansa, tentu saja kenal dengan Haris. Dia sebenarnya tinggal di mana dan berikan semua informasi tentang Haris padaku agar anak buahku bisa dengan mudah menemukan keberadaannya yang membawa Dara!" titah Reno dengan jelas.


Ardi dan Rio berpikir sejenak, sepertinya dia mencoba mengingat Haris. "Aku rasa, dia punya tempat rahasia di luar kota. Tetapi tidak mungkin jika Haris bisa membawanya ke sana," kata Rio yang menyahut.


"Kenapa?" tanya Reno sambil menatap kakaknya.


"Jika dia keluar kota dan membawa Dara, tentu saja anak buah Hansa akan sangat cepat menemukannya. Terlebih, Hansa lebih banyak mempunyai mata-mata di luar kota daripada di dalam kotanya sendiri." jelas Rio.


"Berarti, Haris masih ada di dalam kota bersembunyi. Menurutmu, tempat yang mana yang tidak di ketahui anak buah Hansa karena mereka belum berhasil menemukannya?" tanya Reno yang penasaran.

__ADS_1


__ADS_2