Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 78 ( Ending )


__ADS_3

Andi langsung membawa Dara pulang ke rumahnya. Saat mereka sampai, Dara turun bersama Rendy. Rendy terus saja memegang tangan Mamanya, tidak mau melepasnya lagi. "Mama tidak akan pergi tinggalkan Rendy," kata Dara menenangkan.


"Benarkah, Ma?" tanya Rendy yang menatap wajah mamanya dengan polos.


"Mama janji. Mulai detik ini, Mama tidak akan pergi tinggalkan Rendy lagi. Hanya Rendy yang bisa membuat hati mama senang, bahagia. Jadi anak yang baik dan bisa membanggakan mama papa nanti." kata Dara mengelus rambut Rendy.


Mereka kemudian masuk, baru beberapa langkah, suara Faul terdengar. Membuat langkah Rendy dan Dara yang masuk lebih dulu terhenti. "Hei, kalian. Jangan masuk dulu!" teriak Faul yang duduk membelakangi.


Ketika Faul menoleh ke belakang, dirinya terkejut melihat Dara yang datang bersama Rendy. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri. "Dokter Dara, kau sudah kembali?" tanya Faul yang mengira dirinya berhalusinasi. Dia mulai mengucek matanya untuk memastikan. Tetapi tetap saja, Dara masih terlihat di depannya.


"Mama sudah kembali, Uncle." jawab Rendy.


"Oh, aku kira dia tidak akan kembali lagi ke sini." Ucap Faul yang menyilang kedua tangannya.


"Mulai detik ini, Dara tinggal di sini. Kau harus lebih menghormatinya, karena dia adalah kakak iparmu." sahut Andi yang baru masuk. Dia langsung menghampiri Rendy dan Dara.


"Apa? dia kakak iparku?" tunjuk Faul yang terkejut.


"Kak Andi, kalian menikah diam-diam tanpa mengundangku?" lanjut Faul yang menatap kakaknya meminta penjelasan.


Andi lalu menatap Dara. Dia memberi kode agar Rendy masuk ke kamar. Dara mengerti, dia menarik tangan anaknya masuk ke dalam kamar Rendy.


"Kak, Jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" rengek Faul yang penasaran.


"Faul, kita bicara lain kali saja. Aku lelah dan berkeringat. Mau mandi dulu," kata Andi yang ingin melangkah pergi.

__ADS_1


Faul mencegahnya, dia memegang tangan kakaknya. Ini pertama kalinya, Faul melawan kakaknya. "Kak, jangan seenaknya pergi begitu saja. Aku butuh penjelasan sekarang." ucap Faul yang menekan perkataannya.


Andi duduk membuat Faul mengikutinya. "Kau mau tahu?" tanya Andi memastikan.


"Tentu saja, Kak." ucap Faul kompak.


"Dara adalah Suci, kakak iparmu dulu. Ibu yang sebenarnya dari Rendy." kata Andi yang sengaja menjeda penjelasannya menunggu respon dari Faul.


"Apa? kenapa wajahnya tidak mirip kak Suci? kak Andi di tipu oleh dokter Dara. Aku tidak habis pikir, ketua mafia di tipu oleh seorang dokter. Benar-benar membingungkan." ucap Faul yang menggeleng kepalanya.


Andi memukul kepala adiknya. "Dengar dulu semuanya, baru bisa menyimpulkan. Jangan setengah-setengah." ucap Andi.


Andi lalu menjelaskan semuanya, tanpa menutupi apapun dari Faul. Mulai dari operasi plastik yang di buat Hansa pada wajah anaknya. Dia juga menceritakan, kenapa dirinya bisa mengetahuinya. Semuanya jelas bagi Faul.


Kini, semuanya kembali seperti semula. Dara yang sempat berpisah dari anaknya, lupa dengan identitasnya, kembali menjadi seorang ibu dan mengambil posisinya. Begitupun dengan Andi, penantiannya selama ini tidak sia-sia. Dia berusaha menjauhi semua perempuan cantik yang mendekatinya untuk seseorang yang memang di ciptakan untuknya.


Andi, dia adalah ayah yang tangguh. Bisa membesarkan putranya tanpa seorang ibu. Dirinya lebih fokus dengan masa depan anaknya sampai lupa jika dirinya juga mempunyai masa depan.


Malam hari yang spesial, keluarga Andi semuanya berkumpul. Ada Andi, Rendy, Dara, dan Faul. Di tambah, Dara juga mengundang orang tua angkatnya. Nenek dan Ramadhan ikut serta. Sarah yang tidak mau ketinggalan, ikut juga bergabung.


"Dara, kita bakar apa terlebih dulu?" tanya Sarah yang sudah selesai menyiapkan bara apinya.


"Cumi atau daging. Terserah kamu yang mana." teriak Dara yang sedikit berjauhan. Dara sibuk memotong beberapa worter di temani Rendy. Andi ikut membantu Dara. Sementara Nenek Dara berbincang dengan Ramadhan. Tinggal Faul yang seorang diri. Dia pun memutuskan untuk membantu Sarah.


"Sarah, kau mau apa?" tanya Faul yang melihat Sarah mengipas di depannya.

__ADS_1


"Aku mau apa?" tanya Sarah bingung.


"Iya. Sempat kau perlu sesuatu, katakan saja padaku. Biar aku yang mengambilnya." ucap Faul menjelaskan.


"Kau tidak perlu repot, semua bahan dan alatnya sudah ada di depan mata. Tinggal mengambilnya saja." ucap Sarah datar.


"Nah, biar aku yang mengambilnya. Kau mau apa, katakan saja!" perintah Faul.


"Tidak ada. Yang aku butuhkan, kau menutup mulutmu agar tidak menganggu. Atau, lebih baik menjauh saja." ucap Sarah memperingatkan.


Faul meneguk ludahnya, ternyata sulit mendekati perempuan. Sifat play boynya dulu tidak mempang bagi Sarah.


Dari kejauhan, Hansa hanya bisa melihat sambil mengusap air matanya. Dia terharu melihat keluarga anaknya kembali harmonis. Tiba-tiba salah satu anak buahnya datang menghampiri. "Tuan, mereka mengadakan acara keluarga tetapi tidak mengundang tuan Hansa. Apa mereka lupa?" tanyanya yang ikut melihat keharmonisan keluarga Andi.


"Tidak perlu. Biar aku di undang, aku tidak akan datang. Tidak mudah Dara memaafkan semua kesalahanku. Rasanya pasti berat." ucap Hansa tanpa menoleh.


"Nah, tuan Hansa sekarang sadar. Apa yang sudah di lakukan dulu adalah salah. Lain kali tuan, jangan pernah mengulanginya lagi. Orang yang salah pasti dapat karma akhirnya." Saran anak buah Hansa.


Hansa menoleh menatap anak buahnya yang berani menasehati dirinya. "Siapa yang mengatakannya?" tanya Hansa yang kembali ke ekspresinya datar.


"Kata prang-orang, tuan." jawabnya menunduk.


"Bukan orang-orang, tetapi kata kamu." tunjuk Hansa memberikan peringatan pada anak buahnya.


......♧Happy Ending♧......

__ADS_1


__ADS_2