Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 69


__ADS_3

Andi pulang setelah berhasil di bujuk Reno. Baru sampai di depan rumah, Rendy dan Faul menyambut mereka dengan tatapan menyeramkan. "Pa, Mama sudah di temukan kan?" tanya Rendy seketika.


Andi tersenyum tipis, walau jatunya terasa sengsara. Tetapi dia juga bingung, tidak mungkin bisa berbohong pada putranya.


"Kak Andi, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Faul yang belum tahu semua ceritanya. Rendy hanya menceritakan sepotong saja.


"Kita masuk dan cerita di dalam. Papa capek sekali, butuh istirahat." ucap Andi menepuk bahu Faul. Tetapi baru beberapa langkah mereka, belum sampai di depan pintu, Rendy menghalangi jalan mereka dengan membentang tangannya menutupi sebagian pintu terbuka.


"Rendy melarang Papa masuk jika Papa belum membawa Mama ke rumah!!" titah Rendy dengan mata yang menyepit menandakan dirinya marah.


Deg.


Andi meneguk ludahnya. Dia tidak mungkin membawa Dara kembali jika sudah di buang ke dasar laut. Lagi pula, saat ini Reno sudah meminta bantuan, tetapi akan butuh waktu lama sampai Dara akhirnya di temukan.


"Kenapa Rendy tega sekali dengan Papa?" tanya Andi yang menatap kembali anak satu-satunya.


Rendy melipat kedua tangannya dengan wajah yang gemes. Seolah cemberut. "Papa juga tega dengan Mama, sampai di buang ke laut." jawab Rendy yang memalingkan wajahnya.


Faul menoleh ke arah Andi, dia menunggu jawaban Andi. Faul tidak yakin jika Kakaknya melakukan hal sadis terhadap prempuan. "Maafkan Papa, lain kali tidak akan lagi." bujuk Andi yang ingin segera masuk menenangkan pikirannya yang terus memenuhi kepalanya.

__ADS_1


"Oke. Jika Mama sudah kembali, Papa harus janji akan minta maaf dengan Mama. Jangan pernah melukai hati Mama, karena Rendy akan terluka juga." jelas Rendy sambil mengajukan jari kelingkingnya.


Hati Rendy menjerit mendengarnya. Air katanya lolos keluar begitu saja. Dia tidak yakin bisa meminta maaf pada Dara secara langsung. Tetapi, Andi tetap tersenyum sambil mengangguk. Dia tidak mau membuat putranya membenci dirinya, hanya dia yang Andi punya.


Tiba-tiba Andi langsung memeluk Rendy dan menangis sejadi-jadinya. Rendy membalas pelukan Papanya dengan mengusap punggungnya. Dirinya juga tidak tega melihat Papanya menangis di depan matanya.


Di tempat lain, Nenek Dara terus menghubungi Dara. Tetapi nomor Dara sama sekali tidak aktif. Nenek Dara menjadi panik, kepanikannya bertambah.


"Dara, kamu di mana?" tanya Nenek Dara pada dirinya sendiri.


"Kenapa perasaaan Nenek tidak tenang memikirkan kamu?" Nenek Dara bicara sendiri, sambil melihat foto keluarganya ketika Dara berhasil menjadi dokter psikologis dan di terima bekerja di rumah sakit. Foto mereka bertiga sangat berarti.


Ketika Nenek Dara merenung, sebuah pesan singkat dari nomor tak di kenal masuk.


Nenek Dara dengan cepat menghubungi nomor tersebut, tetapi tidak di angkat oleh pemiliknya. Saat Nenek Dara kembali menghubungi nomor tersebut, kini bukan lagi tidak di angkat. Tetapi sudah tidak aktif. Nenek Dara mengeritkan alisnya, dia sama sekali tidak mengerti.


Tidak berselang lama, ponsel Nenek Dara berdering. Dari Ramadhan, anaknya. Buru-buru Nenek Dara mengangkat teleponnya.


"Halo Ramadhan. Kamu baik-baik saja, Nak?" tanyanya dengan suara khawatir.

__ADS_1


"I-iya, Bu. Aku bisa minta tolong, jemput aku di lorong dekat taman XXX?" tanya Ramadhan dengan suara yang lemah.


"Iya-iya. Ibu segera ke sana." ucap Nenek Dara yang langsung mematikan teleponnya. Dia tidak sempat bertanya terlalu lama, terlebih mendengar suara anaknya yang sedang terluka.


Nenek Dara langsung menaiki taksi dan menuju ke tempat yang Ramadhan minta. Butuh waktu tiga puluh menit, akhirnya dia sampai. Dia langsung turun dan mencari keberadaan Ramadhan. Nenek Dara mencari lorong yang di maksud anaknya. Sepertinya Ramadhan sedang bersembunyi. Saat menemukan lorongnya, tanpa pikir panjang, Nenek Dara langsung masuk ke dalam loring yang memang sepi. Tidak jauh dari sana, terlihat seorang pria duduk dengan kaki yang terluka dan wajahnya babak belur.


"Ramadhan?" panggil Nenek Dara yang berlari menghampiri anaknya. Mulutnya langsung terbuka melihat anaknya terluka di mana-mana.


"Kamu kenapa, Nak?"


"Panjang ceritanya, Bu. Aku di tangkap anak buah Hansa karena membakar markas mereka. Mereka membawaku untuk di bunuh, tetapi aku masih bisa lepas walau terluka seperti ini." Jelas Ramadhan yang menahan rasa sakitnya.


"Lalu, di mana Dara?" tanya Nenek Dara yang tidak melihat Dara bersama Ramadhan.


"Dara? Dara hilang lagi, Bu?" Ramashan terkejut mendengarnya. Dia langsung bangkit, menghiraukan sakitnya saat ini.


"Iya, Dara hilang sejak dia mencarimu tadi pagi, tidak pulang sampai sekarang. Ibu hubungi, nomornya tidak aktif. Tiba-tiba Ibu menerima pesan yang mengatakan jika Dara baik-baik saja dengannya. Ibu khawatir, karena tidak bisa menghubungi orang tersebut. Apa benar Dara bersamanya atau tidak?" jelas Nenek Dara panjang lebar.


"Ibu, tenang saja. Ramadhan akan cari Dara sampai ketemu." kata Ramadhan yang berjalan perlahan.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Ramadhan. Kondisi kamu tidak baik untuk mencari Dara, kamu juga tidak tahu Dara ada di mana sekarang. Lebih baik, kita tunggu besok dan melapor ke polisi jika sudah dua puluh empat jam Dara tidak pulang ke rumah." ucap Nenek Dara mencegah anaknya untuk pergi mencari Dara.


Ramadhan menghela nafas, dia sepertinya berpikir yang di katakan ibunya benar adanya. Mereka langsung pulang ke rumah dan menunggu kepulangan Dara sampai besok.


__ADS_2