Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 59


__ADS_3

Dara sudah pulang kembali ke rumah Ayah angkatnya. Dia mengetuk pintu berapa kali.


Tok...Tok...Tok...


Tidak lama datang nenek Dara yang membuka pintu. Dia terkejut melihat Dara berdiri di depan pintu. "Loh, Dara. Kenapa kamu masih di sini, bukannya kemarin ke luar kota?" tanya Nenek Dara yang kebingungan.


Dara memaksakan senyumannya, dia tidak mau membuat neneknya khawatir dengannya karena mendadak pulang tiba-tiba. "Kemarin mau pergi, tetapi tidak jadi. Dara mau bertemu ayah, dia di mana, Nek?" tanya Dara dengan suara lembut. Dia berusaha terlihat baik-baik saja di depan neneknya.


Nenek Dara membuka pintu lebar-lebar. Mempersilahkan Dara masuk. "Ayahmu dari kemarin pikirannya ke mana-mana. Dia selalu melamun sendirian. Bahkan, selalu berteriak tengah malam. Katanya, dia khawatir denganmu." jelas Nenek Dara.


"Ayah di mana, Nek?" tanya Dara sekali lagi.


Nenek Dara hanya menunjuk ke sofa, di mana Ramadhan tengah menonton sendirian. Tivi menyala di depannya, tetapi pandangan Ramadhan hanya terus menunduk. Matanya tidak berkedip sama sekali. "Kamu lihat sendiri tingkah anehnya! aduh!! kepalaku bisa sakit memikirkannya." kata Nenek Dara yang masuk ke dalam kamarnya.


Dara menghampiri Ramadhan, dia melihat ayahnya masih duduk berdiam diri, tidak menyadari kedatangannya. "Ayah sedang apa?" tanya Dara yang menepuk pundaknya.


Ramadhan terkejut, dia menoleh ke samping. Dirinya semakin terkejut, melihat Dara yang berdiri di depannya. "Dara!" ucap Ramadhan yang memeluk Dara.


"Apa yang ayah pikirkan? kata nenek, ayah selalu melamun sendirian di rumah." Ucap Dara yang memegang kedua tangan Ramadhan walau dia sudah tahu siapa Ramadhan sebenarnya. Bukan sama sekali ayah kandungnya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu, anak kesayangan ayah!" kata Ramadhan yang melambai halus rambut Dara.


Dara menghela napas, dia ingin menyampaikan sesuatu pada ayah angkatnya. "Di mana ayah menemukanku?" tanya Dara yang menatap tajam Ramadhan.


Ramadhan melepas tangan Dara karena terkejut. "Menemukan apa, Dara?" tanya Ramadhan yang bingung.


"Aku bukan anak ayah, benarkan?" mata Dara berkaca-kaca mendengarnya.


"Apa?" Ramadhan heran dari mana Dara mengetahuinya.


"Apa orang-orang mengatakan seperti itu, kamu tidak perlu dengarkan kata mereka." lanjut Ramadhan. Dia mengira jika Dara di beri tahu seseorang. Sejak Dara tinggal bersama Ramadhan, Ramadhan selalu menganggapnya sebagai anak. Walau Dara sudah sangat besar, sudah punya anak. Hanya Ramadhan yang tahu, nenek Dara saja tidak mengetahuinya. Ramadhan menyembunyikannya dengan baik. Tidak mungkin baginya jika Dara mengetahuinya, paling gosip tetangga yang mampir di telinga Dara.


Ramadhan membolatkan matanya, dia tidak menyangka ingatan Dara kembali. Padahal, dokter yang pernah Dara konsultasi, dia mengatakan jika Dara akan sulit mengingat masa lalunya. Walau berusaha di ingatkan, Dara tidak akan bisa mengingatnya. Lalu, kenapa sekarang Dara bisa mengingatnya?


Ramadhan bingung, dia tidak mampu membuka mulut. Dara semakin penasaran, kenapa Ramadhan yang sudah dia anggap sebagai ayah sendiri, tidak pernah memberitahukan jati diri Dara.


"Ayah, katakan padaku!" bentak Dara.


"Kau anaknya tuan Hansa. Aku dulu bekerja sebagai salah satu anggota kelompoknya. Tetapi tiba-tiba berhenti, aku kabur membawamu yang sedang koma saat itu. Hansa ingin balas dendam dengan keluarga Andi, karena dia sudah mempengaruhi otakmu untuk menikah dengannya. Hansa tidak terima, dia mengubah wajahmu ingin menjalakan rencananya. Aku bertindak untuk menyelamatkanmu, karena aku sudah tahu, tuan Hansa sudah membunuh kedua orang tua Andi. Jadi, dia dan Andi sudah seimbang." Jelas Ramadhan panjang lebar. Dia tidak menutupinya lagi. Lebih baik, dirinya terbuka dengan Dara atau anaknya angkatnya akan sangat kecewa dengannya.

__ADS_1


Dara duduk tersungkur, dia menutup mulutnya tidak percaya. Jika Andi adalah suaminya, maka anak yang bersama Andi adalah anaknya. "Jadi, Re-Rendy adalah anakku?" tanya Dara yang tidak percaya.


Ramadhan menghela napas. Dia sudah mengetahuinya dari awal, diapun juga melarang Dara untuk menjadi dokter pribadi Rendy.


"Apa yang sudah aku lakukan dengan anakku sendiri, aku membuatnya terjatuh. Dia sempat koma di rumah sakit, aku bahkan tidak datang menjenguknya sebagai rasa bersalahku. Ibu macam apa aku?" umpat Dara pada dirinya sendiri. Dara memukul kepalanya, Ramadhan berusaha mencegahnya. Ini lah kebiasaan Dara, ketika sedang emosi tubuhnya yang akan menjadi sasaran baginya.


"Hentikan, Dara!! Kau bisa menyakiti dirimu," teriak Ramadhan yang memegang kedua tangan Dara.


"Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik, aku lebih baik mati!" ucap Dara dengan lantang.


Nenek Dara yang sedang tertidur di kamar, keluar ketika mendengar suara keributan. Dia terkejut melihat cucu kesayangannya berusaha melepaskan diri dari Ramadhan. "Ramadhan!! Kenapa kau menyakiti anakmu?" tanya Nenek Dara yang menarik baju Ramadhan mundur.


"Tunggu dulu, Bu. Jika aku melepasnya, Dara bisa membunuh dirinya." Ucap Ramadhan dengan leher yang yang menjauh ke belakang. Tetapi tangannya masih setia memegang Dara.


"Apa?" Nenek Dara terkejut, tetapi dia dengan cepat melepas baju Anaknya.


"Dara sayang, apa yang terjadi?" tanya Nenek Dara yang mendekati cucunya. Dia mengusap pelan punggung Dara.


Dara berhenti memberontak, dia juga sudah berhenti menangis. Usapan lembut di punggungnya membuat Dara tenang seketika.

__ADS_1


__ADS_2