
"Bos, ini benar wajah bos?" Tanya anak buah reno sambil menujuk video yang di perlihatkan Andi.
"Aku tidak tau, yang jelas itu bukan aku. Aku dari tadi berada di sini, jika tuan Andi tidak percaya, bisa cek cctv yang ada di markas"
Andi lupa jika dia sudah memasang cctv di markasnya. buru-buru andi melihat. Ternyata benar yang dikatakan Reno, reno tidak pernah keluar dari markas.
"Lalu siapa ini?" Tanya Andi.
Reno dan anak buahnya hanya menaikkan pundak, tidak tau.
"Apa dia orang yang aku temui sewaktu rendy hilang?" Kali ini Andi menerka-nerka.
"Orang yang anda temui tuan?"
"Aku lupa memberitahumu jika aku pernah bertemu orang yang mirip denganmu. Seperti kau punya kembaran" kata Andi yang mengingat dimana dirinya ingin memberitahu reno tetapi tidak jadi waktu itu.
"Kembaranku? apa tuan andi pernah bertemu dengannya?" Tanya reno dengan serius.
"Jadi benar kau punya kembaran?"
"Benar tuan, tetapi aku dengannya terpisah sewaktu kecil. Di karenakan kakakku harus pergi karena suatu hal" Kata reno dengan wajah sedih mengingat kejadian di masa lalu.
"Ya sudah, kita cari kembaranmu. Aku bisa membantumu sekaligus menemukan rendy" Kata Andi.
"Aku akan suruh anak buahku bergerak cepat mencari keberadaannya. Jika dia benar ada di sekitar sini, aku rasa sangat mudah menemukannya" Kata reno mantap.
"Aku setuju, aku juga tidak mau menunda lagi. Takut jika rendy kenapa-napa"
****
Ditempat lain, rendy menatap sekeliling. Dia heran, kenapa dirinya di bawa ke sebuah ruangan yang kosong. Terutama di jaga oleh dua orang dewasa.
"Paman, dimana pamanku?" Tanya rendy pak penjaga.
"Dasar bocah, kau mencari pamanmu di sini? tidak mungkin ketemu. hahaha" Ejek mereka.
__ADS_1
"Pamanku yang bersamaku barusan" Kata rendy dengan polos.
"Minggir bocah, lebih baik kau duduk manis saja. Tidak perlu ikut campur" Teriak penjaga sambil mendorong tubuh rendy ke lantai.
Rendy menangis, mendapat perlakuan kasar. Selama ini, semua kemauannya selalu di turuti, tidak pernah di bantah apalagi di perlakukan dengan kasar.
Suara tangisan rendy sampai terdengar oleh rio. Kebetulan rio baru keluar dari ruangan tuannya.
"Kau apakan anak kecil itu?" Tanya rio dengan suara mengancam.
"Paman..." Teriak rendy sambil berlari ke arah rio.
"Mereka mendorongku, lihat sikuku jadi berdarah" kata rendy dengan manja.
"Kalian bermain kasar dengan anak kecil?" Tanya rio yang menahan marahnya. Bagaimana bisa anak buah tuannya bersikap kasar pada anak kecil yang tidak tau apapun.
"Tidak, dia ja..tuh sen..diri tadi" Kata salah satu penjaga yang ketakutan melihat tatapan rio.
"Rio, kau dipanggil tuan lagi" Kata Ardi yang baru membuka pintu.
Rio mengandeng tangan rendy dan menyerahkannya pada Ardi.
Ardi hanya melotot ketika di suruh menjaga anak kecil, terlebih dia tidak pernah berinteraksi dengan anak kecil sama sekali. Pekerjaannya hanya menyerang, menculik, bukan mengurus anak kecil.
"Ada ada saja si rio, apa yang dia pikiran memberiku anak kecil yang harus aku jaga" Kata Ardi seolah tidak percaya.
Semua anak buah tertawa mendengar perkataan Ardi, sementara Rendy hanya menatap orang yang berdiri di depannya seolah memohon.
"Baik, hanya kali ini saja aku mengurus anak orang" kata Ardi melangkahkan kakinya ke ruangannya sambil membawa Rendy.
"Paman, aku laper" Kata rendy sambil menunduk.
"Kita keruanganku dulu baru aku belikan makanan. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin membiarkanmu kelaparan"
Sementara itu, Rio masuk ke ruangan hansa. Hansa yang melihatnya langsung menunjuk tempat duduk di depannya. Rio lalu duduk.
__ADS_1
"Apa lagi yang kau ingin katakan? jika kau menyuruhku untuk membawa rendy keluar negeri, aku tidak mau. Anak sekecil dia masih butuh kasih sayang dari orang tuannya" kata rio dengan datar tanpa ekspresi.
"Seharusnya kau senang, dengan begitu Andi akan merasakan sakit yang selama ini kau rasakan" Hansa terus membujuk rio.
"Aku mau balas dendam dengan Andi, tetapi tidak mengorbankan anak yang tidak bersalah seperti rendy"
"Rio, pikirkan perkataanku. Dilain waktu, kau tidak akan mempunyai kesempatan yang sama. Rendy sudah berada di tangan kita, saatnya kita menberikan pembalasan pada Andi"
"Kenapa tuan hansa serasa ingin sekali memberikan pelajaran pada Andi?" Rio mulai bertanya. Sikap tuannya sama sekali berbeda ketika berurusan dengan Andi. Tidak memberikan Andi beserta keluarganya rasa kasihan. Hal ini yang membuat rio semakin curiga, tuannya menyembunyikan sesuatu atau rahasia besar darinya.
"Karena Andi, putriku satu-satunya berani meninggalkan aku. Dia lebih memilih Andi daripada ayahnya sendiri. Aku mengikhlaskan semuannya, tetapi Andi tidak becus mengurus putriku. Putriku sekarat ketika melahirkan dan Andi terlambat membawanya ke rumah sakit. Dia memilih mementingkan pekerjaannya daripada anakku"
"Terpaksa aku mengambil anakku kembali dan membuat kematian palsu. Tetapi anakku ingin terus menerus bertemu Andi. Dia selalu memikirkannya. Aku bertindak, membuat ingatan anakku hilang dan melakukan operasi wajah agar dia tidak di kenali Andi. Aku juga memasang chip di otaknya agar dia bisa mengikuti semua kemauanku. Tetapi orang lain datang menolongnya. Dia membawa anakku kabur dan memperbaiki pisikologisnya. Dia juga melepas chip yang aku pasang di otak anakku"
Mendengar cerita tuannya, rio tidak habis pikir. Bagaimana bisa hansa melakukan hal yang menyakitkan bagi putrinya sendiri.
"Aku tidak bisa membiarkan rendy bersama tuan hansa. Bisa-bisa dia akan dijadikan korban olehnya. Putrinya saja di pasangkan chip agar mengikuti kemauannya. Bisa-bisa rendy juga" guman rio dalam hati.
"Bagaimana menurutmu, apa kau mau membantuku membalaskan dendamku dan juga dendam adikmu reno?"
"Aku akan berpikir, aku akan memberitahu jawabanku bezok. Tetapi apa rendy bisa ikut denganku?"
"Tidak, aku takut kau berubah pikiran karena kasihan pada anak itu. Biarkan saja di sini, aku akan menyuruh anak buahku menjaganya"
"Baik, aku percaya padamu. Aku sarankan biar ardi saja yang menjaganya, anak buahmu tidak becus mengurus anak kecil. Dia mendorong rendy dan membuat sikunya terluka"
"Baik, kalau itu maumu. Bezok kau datang ke sini jam sembilan pagi. Aku akan memikirkan cara memulai rencana kita" kata hansa sambil tersenyum.
Rio keluar dari ruangan hansa, dia menuju ruangan Ardi. Rio langsung masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Membuat Ardi terkejut. Sementara rendy sedang menikmati burgernya.
"Kau pintar juga mengurus anak kecil, aku pikir kau tidak ahli" Kata rio sambil duduk di depan Ardi.
"Aku pintar, akhirnya kau mengakui juga jika aku ini pintar"
"Kau tidak menyimpang racun atau obat tidur kedalam burger?"
__ADS_1
"Tidak lah, mana mungkin aku melakukannya pada anak manis ini"
"Aku butuh bantuanmu" kata rio yang membuat Ardi penasaran. Belum pernah rio meminta bantuan padanya, hanya Ardi yang selalu merepotkan rio selama ini.