Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 58


__ADS_3

Dara perlahan membuka matanya, dia sudah mengingat siapa dirinya sebenarnya. Dara hanya nama panggilan yang di berikan Ayah angkatnya. Dara mencari ponselnya, dia baru teringat jika ponselnya tertinggal di bandara ketika ingin mengchargenya. "Aku pakai apa untuk menghubungi ayahku?" tanya Dara yang bingung.


Ceklek, pintu kamar Dara terbuka. Rendy masuk berjalan dengan sangat hati-hati, membawakan teh hangat untuk Dara. "Mama sudah bangun?" tanya Rendy yang berhenti ketika melihat Dara berdiri di depannya.


"Sudah. Biar aku bantu," Ucap Dara mengambil gelas yang di bawa Rendy. Dia meletakkannya di meja dekat tempat tidur.


"Mama tidak sakit lagi?" tanya Rendy yang memperhatikan Dara.


Dara tersenyum sambil mengangguk. Rendy terlihat senang. Dia mengeluarkan sebuah kalung dan melambaikan tangannya agar Dara menunduk padanya. Ketika Dara menunduk, Rendy memasangkan kalungnya dan berbisik. "Mama harus menjadi mamaku seutuhnya, titik. Rendy tidak mau ada penolakan." titah Rendy sambil mengedipkan mata sebelahnya.


Dara tersenyum mendengarnya. Dia semakin sedih, ingin segera menemukan keberadaan anaknya yang di sembunyikan oleh ayah kandungnya. "Rendy sudah berumur berapa?" tanya Dara mengusap lembut kepala Rendy.


Rendy menjawab dengan menunjukkan jari tangannya. "Lima?" tanya Dara memastikannya. Rendy mengangguk.


"Sama dengan umur anak Mama, dia juga pasti berumur lima tahun." kata Dara yang mengingatnya.


Pembicaraan mereka terhenti, ketika Reno masuk ke dalam kamar Dara. "Maaf aku menganggu, apa bisa kita berdua bicara?" tanya Reno memberikan kode pada Dara untuk menyuruh Rendy keluar.

__ADS_1


Dara hanya bingung melihatnya, tetapi anak kecil yang berdiri di hadapan Reno, buru-buru memgang erat tangan Dara. "Aku tidak mau pergi dari Mamaku. Jika Uncle mau bicara sesuatu, katakan juga di depanku." ucap Rendy yang mengerti.


Dara menatap Reno. "Tidak bisa seperti itu, ini masalah orang dewasa. Rendy harus keluar dulu!" perintah Reno dengan suara lembut. Bagaimana pun, Rendy adalah anak majikannya yang sangat dia hormati.


Rendy menggeleng kepalanya, tidak bersikeras untuk tidak keluar dari kamar Mamanya. Dara tersenyum, dia membungkuk mencoba membujuk Rendy. "Rendy sebaiknya pergi keluar dulu, nanti setelah utusan Mama selesai, Mama janji akan mengajak Rendy jalan-jalan." kata Dara dengan suara lembutnya khas seorang ibu.


Wajah Rendy cemberut, dia berjalan pergi dari sana. Tetapi sebelum benar-benar keluar, dia menatap Reno dengan tajam. "Awas jika Mamaku terluka, kau akan aku bunuh." kata Rendy yang mengarahkan tangannya ke arah leher seperti mengancam.


Reno memalingkan wajahnya setelah melihatnya. Tuan sama anaknya sama-sama saja. Sering membuat Reno tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah Rendy pergi, Dara duduk di sofa depan tempat tidur. "Duduklah dan katakan padaku. Apa yang ingin kamu sampaikan?" kata Dara dengan ramah.


Reno langsung duduk, menghela napas sebelum bicara. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu bisa ada di bandara yang sama dengan Rendy?" tanya Reno seperti menuduh Dara.


"Tidak, tetapi siapa yang tidak curiga. Tempat dan waktu antara Rendy dengan dirimu benar-benar membuat aku terkejut. Padahal, sebelumnya kamu hilang mendadak tanpa kabar. Tetapi kenapa sekarang muncul kembali di bandara dan pada saat penyerangan. Dara, jika kamu tahu sesuatu katakan padaku." Jelas Reno.


Dara melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menjadi datar. "Apa selama ini kau mencurigai diriku?" tanya Dara.


"Tepat sekali. Tidak mungkin bagiku, sebuah kebetulan kamu berada di tempat yang sama dengan Rendy. Apa kau tahu sesuatu atau pernah dekat dengan tuan Hansa?" Reno terus menyudutkan Dara.

__ADS_1


"Dia adalah ayahku, tetapi tidak mungkin aku memberitahumu. Karena aku harus mencari putraku yang di ambilnya." Guman Dara yang berdiam diri.


"Tidak, aku bertemu tuan Hansa saat dia datang pertama kali ke rumah Andi. Bukan kha dia mertu Andi?" tanya Dara yang melempar pertanyaan kembali.


Reno tidak mau terus berpura-pura. Dia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan pada Dara sebuah video di mana dirinya berada di dekat Rendy pada saat Rendy jatuh dari anak tangga. Dara membulatkan mata melihatnya. Reno ternyata sudah tahu semuanya.


"Kau berada di dekat Rendy waktu itu, kenapa tidak menolongnya lebih awal. Kau memilih pergi meninggalkan Rendy. Sementara dirimu yang membuat lantai licin dan dengan sengaja menumpahkan minyak agar Rendy terjatuh. Setelah itu, kau kabur." jelas Reno.


Dara berlutut di depan Reno. Dia tidak mau, Andi atau Rendy tahu semuanya. "Aku tidak tahu kenapa diriku melakukannya. Asal kamu tahu, aku mendengar suara berisik dari otakku dan membuat aku tidak sadarkan diri. Ternyata tubuhku bergerak sendiri seperti di kendalikan seseorang." kata Dara menangis terisak-isak menjelaskannya pada Reno.


"Lalu?"


"Kata ayah angkatku, aku pernah hampir menjadi objek percobaan ayahku sendiri. Tetapi, dia berhasil membawaku kabur dari sana." Lanjut Dara yang menunduk.


Reno tidak mengatakan apapun. Dia langsung keluar meninggalkan Dara. Sementara di dekat taman, Andi berdiri menunggu seseorang. "Maaf, Tuan. Aku sangat lama, Rendy berada di kamar Dara makanya aku menyuruh dia terlebih dulu untuk keluar." kata Reno yang memberikan alat perekam suara pada Andi. Reno diam-diam merekam semua pembicaraannya bersama Dara.


"Kerja bagus, kamu kembali bekerja. Aku yang akan mengurusnya selanjutnya." kata Andi yang mengambil alat rekam Reno.

__ADS_1


"Tetapi, tuan. Apa aku tidak selediki siapa Dara sebenarnya, di lihat dari wajahnya dia bukan orang jahat."


"Aku tahu dia orang baik, tetapi aku harus melakukannya demi Rendy. Aku ingin mau lihat, siapa orang yang berada di belakangnya, apa penyerangan tersebut ada hubungannya dengannya atau tidak." kata Andi yang berjalan masuk setelah memasukkan alat rekaman ke dalam sakunya.


__ADS_2