Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 41


__ADS_3

Setelah selesai meeting dengan Andi, tuan Hansa menuju kediaman Andi. Dia terkejut ketika melihat dara dan Rendy bermain. Mereka terlihat seperti keluarga.


Hansa turun, menghampiri dara dan Rendy. Rendy dan dara fokus bermain sehingga mereka tidak menyadari kedatangan hansa.


"Kalian terlihat sangat senang" kata Hansa yang membuat Dara dan Rendy menoleh.


Dara tidak mengenal orang yang berdiri di depannya, tiba-tiba kepalanya sakit. Bayangan di masa lalu datang tetapi dara tidak bisa melihat dengan jelas.


"Kau tidak apa-apa nak?" Tanya hansa ketika melihat dara memegang kepalanya.


"Mama..." kata rendy yang membuat hansa terkejut. Yang hansa ketahui, rendy sudah tidak mempunyai orang tua lagi.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Anda siapa? ada urusan apa datang ke sini?" Tanya dara.


"Aku mertua Andi"


Dara kaget, dia berlaku tidak sopan di depan mertua bosnya. Dara heran, kenapa rendy tidak mengenali kakeknya.


"Rendy, dia ini kakekmu" bisik dara.


"Grandfather..." Teriak rendy sambil memeluknya.


"Ya ampun, cucu kakek sudah besar. Maaf, kakek baru mampir sekarang" kata hansa dengan tersenyum.


"Ayo kita main bareng, sama kakak manis ini juga"


Malam harinya....


Andi, faul, dan Andi, siap makan malam, mereka semua sudah berada di meja makan.


"Dokter dara kenapa tidak ikut makan?" Tanya faul.


"Dia bilang dia lelah"


"Apa yang di lakukannya seharian? Benar melelahkan mengurus Rendy, aku pernah merasakannya"


Rendy menyimak pembicaraan papa dan pamannya. Dia diam mendengarkan, sekali-kali menjadi anak baik.


"Jika dara lelah, kalian bisa bergantian mengurus rendy"


"Tidak kak, aku sibuk mengurus perusahaan" Kata faul dengan cepat, dia tidak mau berurusan dengan Rendy lagi. Teringat kejadian di mal yang membuatnya malu.


"Rendy seharian bersama dokter dara? tidak kemana-mana?" Tanya Andi pada rendy.


Rendy menggeleng kepala, kemudian dia menjawab.

__ADS_1


"Rendy bertemu grandfather"


Faul dan Andi yang mendegarnya berhenti makan. Mereka berdua saling menatap sebelum menoleh ke arah rendy.


"Rendy bilang apa barusan? Bertemu dengan siapa?" Tanya Andi, kini wajahnya serius.


Faul ikut serius, dia tidak mungkin salah dengar.


"Rendy bertemu grandfather..." Kata rendy perlahan.


"Grandfather? siapa?" Tanya faul, seingatnya orang tuannya sudah meninggal. Bagaimana bisa rendy bertemu dengan mereka.


"Kalian selesaikan makannya, aku mau ke kamar dulu" Kata Andi buru-buru.


Andi menuju kamar dara, dia ingin minta penjelasan. Rendy tidak mungkin berbohong, kekhawatiran Andi bisa saja menjadi kenyataan.


Dara yang sudah tidur, mendengar pintu kamarnya di ketuk.


"Aku mau istirahat, jika ada perlu bezok saja" Teriak dara tanpa bangun.


Ketukan pintu makin keras, dengan malas dara membuka pintu. Dugaannya benar, yang datang adalah Andi. Mana berani Faul mengetuk pintu dengan keras.


"Ada apa? katakan cepat, aku mengantuk"


"Kau datang ke kamarku untuk apa? aku tidak mempunyai banyak waktu" kata dara meninggikan suaranya.


"Rendy mengatakan padaku jika dia bertemu dengan kakeknya barusan. Benar?"


"Benar. Kakeknya datang sendiri ke rumah ini tadi"


"Kakek yang mana?"


"Apa maksudmu kakek yang mana? kau tidak mengenal kakek rendy? Apa rendy bukan anak kandung kamu?" kata dara sambil mendekatkan dirinya pada Andi.


"Kau mau aku cium?" kata Andi dengan senyum. Dara buru-buru menjauhkan tubuhnya.


"Siapa juga yang mau di cium? lebih baik di cium rendy"


"Apa orang itu namanya hansa?" Tanya Andi.


"Iya, kau tidak kenal mertuamu sendiri?"


Andi merenung, dia tidak bisa biarkan hansa dekat dengan rendy.


"Dia pasti mempunyai maksud tertentu, sejak rendy lahir dia bahkan tidak pernah datang menjengguknya biar sekali. Kenapa sekarang dia datang?" Guman Andi.

__ADS_1


"Woe.... Kenapa melamun? mikirin kakek yang tidak kamu kenal?" Teriak dara tepat di telinga Andi. Andi menutup telingannya tanpa berekspresi apapun.


"Tidurlah, kau bisa kehilangan mimpimu" kata Andi sambil berjalan keluar dari kamar Dara.


"Sikap anehnya mulai lagi, dia benar-benar orang aneh" Guman dara sambil menarik selimutnya.


Andi keluar dari kamar dara, dia berjalan ke ruang kerjannya. Andi terus memikirkan sikap mertuanya, untuk apa dia datang ke rumahnya.


Selama ini, mertuanya tidak pernah peduli dengannya, apalagi rendy. Andi yakin jika merruanya merencanakan sesuatu yang besar untuk dirinya.


Faul yang telah selesai makan, mencari kakaknya. Dia menemukan andi di ruang kerjanya. Faul masuk tanpa mengetuk, dia sudah biasa langsung masuk.


"Kak Andi sudah bertemu dokter dara?"


Andi mengangguk.


"Apa yang di katakan dokter dara, apa rendy benar bertemu dengan kakeknya?" Tanya faul.


"Iya, Hansa datang ke sini bertemu dengan rendy. Aku tidak mengerti, sejak rendy lahir, dia tidak pernah menggunjungi rendy. Sekarang dia datang ke sini tiba-tiba"


"Aku yakin, mertua kak Andi pasti mempunyai rencana. Atau bisa saja dia benar merindukan rendy?"


"Kau tidak tau saja faul, mertuaku yang sudah membunuh papa mama. Jika kau mengetahuinya, aku yakin kau akan sakit hati sekali. Aku tidak bisa membayangkannya, bagaimana dendamnya dirimu pada mertuaku. Aku tidak mau kau ikut campur, aku takut nyawamu dalam bahaya" guman Andi.


"Kak Andi mau aku menyelidiki?" Tanya faul yang membuat Andi berhenti melamun.


"Kau tidak perlu repot, dia mertuaku jadi sudah tugasku. Kau sebaiknya fokus mengurus calon mertuamu, jangan sampai dia tidak mau menjadi mertuamu"


"Kak, aku sudah mempunyai calon"


"Siapa? Jangan bilang amel. Kakak tidak akan setuju jika amel"


"Bukan, dokter psikologis rendy di rumah sakit. Sarah, kakak sudah bertemu dengannya"


"Dokter cerewet itu, yang selalu emosi. Sikapnya sama persis denganmu, kau cocok dengannya"


"Bezok, aku akan bertemu dengannya. Tolong kak, siapkan makan malam yang indah di rumah ini, aku akan membawanya ke sini"


"Kenapa harus aku? Suruh bi ina saja"


"Kak Andi saudaraku, harus membantuku membuat hati sarah terbuka. Kakak dulu pernah melamar kakak ipar, pasti tau apa yang harus di lakukan"


"Oke, aku siapkan bezok. Jangan salahkan aku jika dia tidak menyukainya, tiap perempuan mempunyai sikap beda-beda"


"Tenang saja, aku yakin kak Andi bisa di andalkan" kata faul dengan senang. Andi mau membantunya.

__ADS_1


__ADS_2