Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 77


__ADS_3

Lama Haris menunggu, pengantin wanitanya tidak kunjung datang. Dirinya mulai gelisah, takut perkataan anak buahnya benar. Dia pun memberanikan diri bertanya. "Di mana Dara, kenapa dia tidak kunjung keluar? padahal, anak buahku sudah membawanya masuk tadi." ucap Haris memutar bola matanya mencari keberadaan calon istrinya.


"Tunggu sebentar lagi, dia mungkin masih di make up." Ucap Hansa yang menjawab.


Tidak berselang lama, seseorang berteriak. "Pengantin sudah datang," ucapnya yang membuat hati Haris senang. Dia mulai yakin, dirinya tidak di tipu. Tetapi, ketika Haris menoleh melihat calon istrinya, malah muncul seorang anak kecil yang pernah dia lihat sebelumnya di rumah nenek Dara. Dia datang sambil melambaikan tangan pada tamu undangan.


"Apa-apaan ini?" tanya Haris yang bangkit.


Hansa ikut berdiri dan beberapa orang di belakang Haris sebagai tamu undangan langsung menahannya. "Kalian menipuku?" teriak Haris tidak terima. Dia terus memberontak tetapi dirinya sudah terkepung.


"Kau yang apa-apaan. Kenapa mau menikah dengan anakku yang jelas sudah mempunyai suami?" tanya Hansa yang melipat kedua tangannya.


"Apa? aku? jangan salah, Hansa. Kau yang membuat putrimu berpisah dengan suaminya dan anaknya, sampai nekad mengubah wajah Dara dengan operasi plastik." ucap Haris melawan.


"Iya, aku tahu diriku bersalah sekarang. Aku akan minta maaf dan mengakui kesalahanku pada Dara!" teriak Hansa tidak mau kalah.


"Cih, orang seperti dirimu tidak akan bisa berubah secepat itu. Kau penjahat dan selamanya akan menjadi penjahat. Tidak perlu berlagak sok menjadi alim."


Telingan Hansa panas mendengarnya. Dia pun memberi perintah pada anak buahnya sebelum dirinya emosi dan tidak bisa mengendalikannya. "Bawa dia keluar! pastikan, dia tidak bisa kabur." perintah Hansa.


Tanpa menunggu lama anak buah Hansa membawa Haris menjauh dari tuannya. Tidak lama, Dara dan Andi masuk. Rendy langsung berlari menyambut mamanya. "Mama..." teriak Rendy.


Dara memeluk erat anak kesayangannya. Tak terasa, air matanya mengalir. "Anak mama, sudah besar. Hebat!" puji Dara.

__ADS_1


"Mama yang hebat dan Papa. Rendy sayang mama. Mama tahu tidak, Rendy selalu saja bermimpi melihat wajah mama ketika mama hilang kemarin. Rendy sangat sedih." ucap Rendy yang kembali memeluk mamanya.


Hansa terharu melihatnya. Dia pun memberanikan diri melangkah menghampiri anak dan cucunya. "Dara, maafkan ayah. Ayah salah selama ini, sudah membuat dirimu terpisah dengan suami dan anakmu. Ayah tahu, kamu tidak akan memaafkan ayah, tetapi setidaknya, kamu menerima permohonan maaf ayah." ucap Hansa yang berlutut di depan Dara dan Rendy.


"Mama mau maafkan kakek?" tanya Rendy yang menoleh menatap Dara.


"Memangnya, Rendy mau memaafkan kakek yang sudah membuat mama dan Rendy berpisah?" tanya Dara dengan menatap anaknya lekat-lekat.


"Rendy pasti maafkan. Asalkan, kakek tidak akan mengulanginya lagi." titah Rendy yang membuat Dara bangga dengannya. Walau masih kecil, Rendy sudah mengerti masalah orang dewasa.


"Ayah dengar, perkataan Rendy. Jangan pernah ulangi lagi karena Dara tidak akan tinggal diam." ucap Dara memperingatkan.


Hansa senang mendengarnya. Dia pun menarik tangan Rendy dan mengelusnya dengan lembut. "Terima kasih, Nak. Kakek senang punya cucu pemaaf seperti Rendy ini." ucap Hansa sambil mencium tangan cucunya.


Rendy, Andi dan Dara pulang ke rumah. Tetapi, di tengah perjalanan, Dara tiba-tiba teringat dengan neneknya. "Andi, kita singgah dulu ke rumah nenek. Aku takut, dia masih mengkhawatirkan diriku." ucap Dara yang menoleh ke Andi yang sedang menyetir.


"Iya. Kamu tidak perlu panggil aku dengan sebutan nama. Panggil sayang atau mas. Kita kan suami istri." ucap Andi.


"Iya, sayang." kata Dara malu-malu. Wajahnya sampai berwarna merah merona. sementara yang di panggil, tersenyum tipis.


"Rendy mau juga di panggil sayang," ucap Rendy yang langsung muncul membuat Dara dan Andi kaget.


"Rendy membuat mama terkejut." kata Dara menyapu lembut rambut anaknya.

__ADS_1


Sesampai di rumah Nenek Dara, Dara dan Rendy langsung turun berlari mengetuk pintu.


Tok.. Tok.. Tok...


Tidak berselang lama, seorang nenek-nenek paruh baya membuka pintu. Dia langsung membuka mulut ketika melihat Dara datang bersama Rendy. "Dara, itu kau, Nak?" tanyanya yang memegang wajah Dara.


"Iya, Nek. Ini Dara." jawab Dara yang memegang kedua tangan neneknya.


Air mata Nenek Dara jatuh. Dia kemudian berteriak memanggil Ramadhan. "Ramadhan, Dara kembali. Dia kembali!" ucap Nenek Dara yang merasa senang.


Tidak lama, Ramadhan datang sambil berlari. Nafasnya ngos-ngosan. "Dara, kamu baik-baik saja, Nak. Dari mana saja, kenapa tidak menghubungi ayah. Ayah dan Nenek sangat mengkhawatirkan kamu. Kami sampai tidak bisa tidur memikirkanmu." ucap Ramadhan yang memeluk anak angkatnya.


"Maafkan Dara, Nek, yah. Dara sudah membuat kalian repot." ucap Dara sambil menatap satu per satu orang di depannya.


"Tidak apa, Nak. Asalkan kamu sudah ketemu hari ini." Ucap Neneknya.


"Rendy di lupakan?" sahut Rendy seketika karena merasa di abaikan. Wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Loh, kenapa anak Andi berada di sini?" tanya Ramadhan yang heran.


Andi mulai memperlihatkan dirinya. Ramadhan hanya bisa menunjuknya dan meminta Dara menjelaskannya. "Dara sudah tahu semuanya, Yah. Rendy adalah anak Dara. Benarkan?" tanya Dara yang di sambut anggukan oleh Ramadhan dan Neneknya.


"Terima kasih, sudah menjaga Dara selama ini. Aku dengar, kalian sempat membawa Dara kabur ketika Hansa ingin melukai anaknya. Aku salut dengan perbuatan kalian, rela mengkhianati tuan kalian demi mendapat keadilan untuk Dara." jelas Andi yang menunduk memberi hormat.

__ADS_1


"Bagus, jika semuanya sudah terbongkar. Aku pikir tadi, sampai mati Dara tidak tahu siapa dirinya sebenarnya." Kata Ramadhan dengan haru. Mereka semua berpelukan satu keluarga.


__ADS_2