
Ponsel Hansa tiba-tiba saja berdering.
Dreet... Dreet... Dreet...
Dia lalu meraih ponselnya di atas meja dan wajahnya mendadak panik melihat nama penelpon. "Dari mana tuan, kenapa wajah anda mendadak berubah?" tanya anak buah Hansa.
"Sejak kapan, aku membayarmu agar kamu terus mengurus masalahku?" tanya Hansa yang menatap tajam ke arah anak buahnya.
"Maaf, tuan." katanya ketika menyadari kesalahannya.
Ponsel Hansa terus bergetar dan berdering tanpa henti. Dengan tangan bergetar, dia pun mengangkatnya. "Halo, ada apa?" tanya Hansa yang mengatur nada suaranya. Dia tidak mau terdengar gugup.
"Kau masih bisa bertanya padaku, ada apa?" tanya Andi dari seberang telepon dengan suara meninggi.
"Anak buah Haris sudah berada di tanganku." jawab Hansa seketika.
"Lalu, bagaimana dengan istriku. Apa kau sudah menepati janjimu?" tanya Andi yang menekan perkataannya. Jiwa Hansa mulai menciut.
"Belum, kami baru menangkap anak buahnya. Akan segera aku tanggap Haris dan membawa Dara kembali."
"Kau harus ingat mertua sayang tentang perjanjian kita. Jangan sampai melupakannya. Jika tidak, aku tidak segan-segan membunuhmu. Mumpung diriku sedang baik hari ini, aku kasih kamu waktu sampai siang. Jika Dara tidak kembali padaku, bersiaplah aku dan anak buahku akan datang ke sana dan membuat dirimu kehabisan darah!" ucap Andi mengancam. Andi langsung menutup panggilannya.
Hansa membuang ponselnya ke lantai, waktu yang di berikan Andi mempet. Tinggal tiga jam lagi sudah siang. "Kalian harus berhasil menangkap Haris. Jika tidak, siang nanti kita semua akan menjemput ajal kita!" teriak Hansa pada semua anak buahnya.
"Tuan, tidak mudah menangkap Haris. Kita sendiri tidak tahu di mana dia. Kenapa tidak kita pancing dia agar keluar?" tanya salah satu anak buahnya yang menyahut.
__ADS_1
"Ide kamu cemerlang juga. Jika dia keluar sendiri, kita tidak perlu repot-repot mencarinya." ucap Hansa yang mengangguk kecil berkali-kali.
"Bagus. Kalau begitu, aku harus membuat Haris keluar sendiri." kata Hansa yang tersenyum tipis.
"Dengan cara apa, Tuan?"
"Kalian tidak perlu tahu. Lihat saja ketika Tuan kalian semua bertindak." jawab Hansa yang memungut ponselnya. Dia lalu mengirim pesan pada Haris karena yakin jika Haris di telepon dia tidak akan mengangkatnya.
Setelah mengirimnya, Hansa tersenyum senang. Sebentar lagi, dia akan bertemu Haris.
Di tempat lain, Haris menatap Dara yang cuek padanya. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Ting.
Haris mengambilnya dan membaca pesannya. Matanya melotot dan alisnya berkerut, dia kemudian menelpon Hansa. Baru deringan pertama, Hansa langsung mengangkatnya. "Halo, Haris. Bagaimana dengan tawaranku, apa kau mau memerimanya?" tanya Hansa dari seberang telepon.
"Sejak kapan aku menipu dirimu? aku selama ini menginginkan dirimu menjadi menantuku, ini waktu yang tepat. Aku ayah Dara, akan menjadi wali nikah kalian sekarang." ucap Hansa antusias.
"Baik, aku harus mengurus persiapan pernikahaku terlebih dulu. Tetapi, kau tidak berbohongkan? kau bahkan sampai menangkap anak buahku?" tanya Haris yang masih ragu.
"Tentu saja. Ngomon-ngomon, kamu tidak perlu mempersiapkannya. Aku sudah menyuruh anak buahnya membooking gedung di mana pernikahan kalian di adakan. Kamu percaya saja padaku." ucap Hansa membujuk.
Haris masih ragu, tetapi dia tidak boleh membuang kesempatan untuk menikahi Dara. Dia ingin segera menghalalkan Dara. "Baik, kirim lokasinya nanti. Aku akan segera ke sana." kata Haris yang mematikan ponselnya.
Dia kemudian berjalan menghampiri Dara. "Kau tidak dengar, ayahmu setuju kita menikah. Dia akan segera menikahkan kita dan sebentar lagi kamu akan menjadi istriku yang sah." ucap Haris senang.
__ADS_1
Dara memalingkan wajahnya dengan tangan yang mengepal. Dia sedang marah, tetapi tidak bisa berbuat apa. Tangan dan kakinya di ikat rapat, bergerak saja sulit dia lakukan.
Haris langsung menuju gedung di mana pernikahannya akan berlangsung. Ketika sampai di sana, Haris meninjau terlebih dulu sebelum turun. "Calon mertuaku sepertinya ingin sekali agar aku menjadi menantunya lebih cepat. Dia sampai mempersiapkan gedung yang mewah untuk pernikahanku dengan Dara." ucap Haris yang melihat banyak sekali tumpukan bunga dan foto dirinya bersama Dara yang sudah di edit. Begitu banyak juga, para tamu undangan yang datang.
"Langsung turun saja, aku tidak sabar menikah dengan Dara." perintah Haris pada satu anak buahnya.
"Tetapi, Tuan. Bagaimana jika ini adalah perangkap?" tanyanya yang ragu.
"Dasar bodoh. Kau tidak lihat, semua persiapannya pernikahannya sempurna. Bahkan, fotoku dan Dara saja di pajang. Kau masih menganggap ini jebakan?" teriak Haris tidak terima.
"Cepat turunkan Dara, hati-hati jangan sampai dia kabur." ingatkan Haris. Dia kemudian melangkah maju lebih dulu ke gedung.
Ketika masuk, Hansa langsung menyambut Haris dengan pakaian jasnya yang berkelas. "Bagaimana, kau sudah siap?" tanya Hansa.
"Tentu saja, siap. Siapa yang tidak mau menikah dengan Dara, dia sudah lama aku idam-idamkan." ucap Haris tertawa.
Hansa langsung membawa Haris duduk. Sementara Dara, dia di tarik paksa oleh anak buah Haris. Tidak lama, datang tiga orang anak buah Andi. "Lepaskan dia!" perintahnya.
"Siapa kalian?" tanya anak buah Haris.
"Kau tidak perlu tahu," ucapnya yang langsung memberi kode untuk memberi pelajaran pada anak buah Haris. Karena satu lawan tiga, tentu saja yang tiga menang.
Andi berjalan menghampiri Dara. "Dar, maafkan aku," ucap Andi menangis. Dirinya senang melihat istrinya baik-baik saja.
"Jangan mendekat, kau pasti ingin membunuhku kan?" tanya Dara yang spontan mundur.
__ADS_1
"Tidak Dara. Aku kemarin menyakitimu, karena salah paham. Aku pikir, kamu akan membuat Rendy celaka. Maafkan aku, Dara. Kau bisa memukulku agar dirimu bisa memaafkan kesalahaku." ucap Andi yang berlutut di depan Dara.
Hati Dara sakit melihat Andi menangis. Dia pun mengangguk kecil pada Andi dan menarik tangannya untuk bangkit.