Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 42


__ADS_3

Masih subuh-subuh, matahari belum tampak. Faul sudah berdiri di depan pintu Andi sambil mengetuk.


Tok..Tok...


"Kak andi, buka..." teriak faul.


Andi terpaksa bangun dengan malas dan membuka pintu kamarnya. Masih waktu tidur, faul sudah menganggu Andi.


"Ada apa? Kau tidak lihat ini masih waktu tidur? Matahari saja belum terbit"


"Kak andi harus membantuku memilih pakaian yang mau aku kenakan"


"Hanya itu kau membangunkan aku? Kan bisa sebentar pagi saja"


"Tidak bisa. Aku tidak mau, perlengkapannya harus sudah siap sebelum pagi" kata faul mantap.


"Kalau begitu, kau saja yang mengurusnya. Aku masih mau tidur" kata Andi sambil menutup kembali pintu kamarnya.


"Tetapi kak.... Ah, sudahlah. Aku selesaikan sendiri, kak Andi tidak bisa di andalkan" kata faul dengan kesal.


Pagi hari sudah datang, matahari sudah terbit. Faul sudah siap untuk bertemu sarah.


Dia menggunakan jas, memodel rambutnya. Bahkan sepatunya mengkilap, entah dia yang melapnya atau menjilatnya.


"Kau sudah siap?" Tanya Andi yang baru bangun.


"Iya, aku bisa mengurus sendiri. Kakak tidak bisa diandalkan" kata faul masih kesal dengan Andi.


"Jangan banyak oceh, sarah bisa menolakmu. Senyumlah biar kau terlihat keren" kata Andi membuat bibir faul tersenyum dengan tangannya.


"Iya kak, terima kasih. Tolong doakan yang baik-baik, jangan hanya yang buruk"


"Aamiin" ucap Andi yang membuat faul tambah kesal.


Dara baru turun, dia melihat dua bersaudara di ruang tamu. Sarah menghampirinya, dia terkejut faul sudah berpakaian lengkap.


"Kau mau ke mana?" Tanya dara.


"Dia mau bertemu pujaan hati, doakan semoga dia tidak di tolak. Kalau di tolak berarti bukan jodoh" kata Andi yang menjawab.


Dara hanya mengangguk, sementara faul fokus memperbaiki penampilannya.


"Sudah keren faul, tidak perlu di tambah keren lagi. Kau tidak ingat kata mama, tidak baik berlebihan"

__ADS_1


"Terserah kakak saja, yang jelas aku sudah tampan. Sarah pasti terpesona dengan wajahku" kata faul sambil bergaya di depan Andi.


"Ya, semoga saja sarah terpesona. Aku malah memikir dia akan kesandung" kata Andi yang selalu membuat Faul kesal.


"Apa hobi kak Andi ingin membuatku kesal?"


"Bisa jadi" kata Andi.


"Sia-sia aku di sini, lama-lama aku bisa waras" kata faul.


Faul keluar dari rumahnya mengendarai mobilnya, Andi mengikutinya sampai di teras dan melambaikan tangan.


"Aku berharap kau bisa mendapatkan sarah. Sudah seharusnya kau segera menyusul ke pelaminan" kata Andi dengan mata berkaca-kaca.


Walau Andi sering membuat faul kesal, tetapi harapan untuk adiknya sangat besar. Dia ingin melihat faul mendapat kebahagian. Harapan seorang kakak dan kasih sayangnya tidak akan putus sampai kapanpun.


Dara pertama kali melihat Andi seperti ingin menangis. Dara tersenyum, walau Andi seorang ketua mafia, yang di kenal sangat menakutkan, tetapi dia masih mempunyai hati dan kasih sayang untuk keluarganya.


Rendy menuruni tangga, kakinya terpeles karena terdapat genangan air di tangga.


Buk...


Suara keras sampai terdengar di telinga Andi, buru-buru Andi berlari ke dalam.


Jangtung Andi serasa berhenti, melihat Rendy bersimpah darah di lantai. Dengan cepat, Andi menghampiri dan menboyong tubuh anaknya.


Bi ina dan dara datang, mereka saling memandang ketika melihat Rendy penuh dengan darah.


"Andi, bawa rendy ke rumah sakit. Aku akan telepon sarah untuk mempersiapkan dokter di sana" kata Dara yang ikut khawatir.


Tanpa aba-aba, Andi langsung membawa anaknya ke rumah sakit.


"Bi, tolong bersihkan darah yang menempel di lantai" kata dara sebelum ikut ke rumah sakit.


"Ya nyonya" kata bi ina dengan tangan bergetar.


Faul sudah sampai di rumah sakit, dia mencari keberadaan sarah.


"Sarah, kau sibuk malam ini?" Tanya faul.


Sarah memperhatikan pakaian faul, mulai dari ujung kaki sampai kepala. Menurut sarah, faul terlihat aneh. Ke rumah sakit dengan memakai jas. Seperti directur yang mau rapat.


"Kau mau rapat di rumah sakit? kenapa tifak di kafe" kata sarah yang salah mengartikan.

__ADS_1


"Rapat? aku tidak ada jadwal rapat hari ini"


Sarah ingin menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari dara, buru-buru sarah menjauhkan diri dari faul dan mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Apa? rendy jatuh. Oke-oke, aku akan siapkan dokter sekarang" kata sarah dengan panik.


Faul yang mendengar nama keponakannya jatuh ikut khawatir.


"Rendy jatuh? Bagaimana bisa" Tanya Faul yang ikut khawatir.


"Aku akan siapkan dokter, kau tunggu di luar. Bawa suster" kata Sarah sambil berlari ke ruangan dokter.


Rendy sampai di rumah sakit, faul dan beberapa suster langsung membawa rendy ke ruang perawatan.


Andi, dara, dan faul menunggu di luar. Faul jadi bertanya kepada Andi, kejadian sebenarnya.


"Kak, bagaimana bisa rendy jatuh di tangga?" Tanya faul.


"Aku tidak tau, aku mendengar suara benda jatuh dengan keras dari dalam. Saat aku masuk, rendy sudah bersimpah darah" kata Andi. Perasaannya belum tenang.


"Semoga rendy baik-baik saja" kata faul.


"Bagaimana keadaan rendy? dokter sudah selesai memeriksanya?" Tanya sarah yang baru datang.


"Belum, rendy belum selesai di periksa" kata dara sambil membaringkan kepalanya di tembok.


Semua orang jadi tegang, termasuk Andi sebagai orang tua rendy.


Tidak lama, dokter keluar. Andi dan yang lain bertanya pada dokter.


"Gimana keadaan anakku?" Tanya Andi yang terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.


"Begini pak, sepertinya kepala rendy terbentur dengan keras. Ada kemungkinan jika tengkorak kepalanya retak. Kami harus memastikannya dengan melakukan scan"


"Keponakanku sudah sadarkan diri dokter?" Tanya faul.


"Belum, rendy mengalami masa kritis saat ini. Mohon doanya, semoga rendy bisa melewatinya"


Air mata Andi jatuh, mendengar keadaan anaknya. Rasa bersalah sebagai ayah yang tidak berguna bagi rendy. Andi sangat menyesal tidak memperhatikan putrannya.


Andi jatuh ke lantai, dia bahkan tidak mampu berdiri. Faul yang melihat kakaknya berusaha menahannya. Dia tau jika kakaknya sangat rapuh. Andi sudah menjadi saksi meninggalnya istrinya dan di susul kepergian kedua orang tuannya. Sekarang, Rendy yang masuk ke rumah sakit dan sedang berjuang untuk tetap hidup.

__ADS_1


"Kakak Andi tidak perlu khawatir, aku yakin rendy pasti selamat. Dia sangat kuat kak" kata faul menguatkan kakaknya.


Sarah dan dara yang melihatnya jadi kasihan. Mereka ikut menangis melihat Andi yang bersedih.


__ADS_2