Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 66


__ADS_3

Andi langsung mengangkat teleponnya hanya satu kali berdering. "Halo, Rahmat. Kau sudah selesai menyiksanya?" tanya Andi dari seberang telepon.


"Sudah tuan, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" jawab Rahmat dari dalam ponsel. Suaranya terdengar gugup.


Andi mengeritkan alisnya, dia merasa aneh dengan suara Rahmat. Tidak seperti biasanya yang begitu tegas dan bersemangat setelah menyiksa orang lain. "Kau yakin, sudah membuat dia sangat kesakitan?" tanya Andi memastikannya.


"Iya, tuan. Dia sampai menangis merintih meminta ampun."


"Siksa dia lagi dengan sangat menyakitkan. Jangan berhenti sebelum dia terluka parah." pintah Andi.


Tidak ada suara dari dalam telepon, sepertinya Rahmat sedang berpikir. "Rahmat, kau mendengarnya?" tanya Andi yang tidak mendapat respon.


"Tetapi, Tuan. Aku merasa tidak tega dengannya, dia perempuan tuan. Sementara diriku punya anak perempuan dan istri yang sangat aku sayangi. Jika melihat wajahnya saat aku menyiksanya, hatiku sangat tidak kuat. Terasa perih tuan, apa tuan tidak merasakannya?"


"Aku tidak punya istri dan anak perempuan. Jika kamu tidak mau mengurusnya, buang dia di laut agar dirinya di makan hiu. Dengan begitu, dia tidak akan pernah mencari masalah denganku lagi." Perintah Andi sebelum dirinya menutup panggilan teleponnya.


Andi kemudian mampir di rumah nenek Dara. Dia langsung mengetuk pintu ketika melihat Rendy sudah tidak bermain di teras rumah.


Tok... Tok... Tok...


Pintu terbuka tanpa menunggu lama. Andi tersenyum menyambut Nenek Dara. Dia juga melihat Rendy yang tertidur di sofa dengan lelap. Berbeda dengan Nenek Dara, begitu syok melihat wajah Andi. Dia menjadi ingat siapa Andi sebenarnya.

__ADS_1


"Ka-kamu?" tunjuk Nenek Dara dengan mulut yang terbuka.


"Iya, aku. Ayahnya Rendy. Boleh aku bawa Rendy pulang?" Izin Andi dengan ramah dan sopan. Walau Andi tahu maksud nenek Dara melihatnya dengan terkejut.


'Kau akan lebih terkejut nanti ketika mendapat Dara sudah tidak hidup lagi.' guman Andi yang geram di dalam hatinya.


"tentu saja, Boleh. Rendy tidur di sofa, dia tidak mau tidur di kamar." jawab Nenek Dara yang mempersilahkan Andi amsuk.


Andi masuk langsung membopoh tubuh Rendy. Dia kemudian keluar setelah memberi salam pada Nenek Dara.


Nenek Dara melambaikan tangan sampai Rendy masuk ke dalam mobil. Senyum di wajahnya terukir, anak yang dulu dia pisahkan dengan ibunya kini tumpuh dengan baik walau hanya di asuh oleh ayahnya sendiri.


Andi kemudian sampai di rumahnya, di mana Reno menunggu di depan teras rumah. Wajah Reno terlihat tegang. Andi turun dengan berjalan santai. "Kenapa, Ren. Wajahmu seperti tidak punya semangat hidup saja." ucap Andi yang bergurau.


"Aku juga serius, dua rius malahan," kata Andi yang terkekeh.


Tiba-tiba, Reno menyodorkan selembar kertas yang menampilkan gambar wajah Dara dan Istri Andi. Andi memperhatikan dengan seksama sampai alisnya terangkat. Belum mengerti dengan gambar yang di perlihatkan Reno. Terlebih, terdapat kalimat sesudah dan sebelum. Di gambar wajah istri Andi, tertulis sebelum. Dan kemudian di gambar wajah Dara tertulis sesudah.


"Ini apa maksudnya, Reno?" tanya Andi yang menarik paksa selembar kertas dari tangan Reno.


"Aku menemukan ini, dari rekan kita di luar negeri. Aku mendapat petunjuk sebelumnya tentang keberadaan Dara di luar negeri. Aku pun bertindak cepat menyuruh rekan kita mencari tahu. Dan dia malah menemukan informasi penting ini." jelas Reno dengan wajah yang datar.

__ADS_1


Andi berpikir sejenak, sebelum wajahnya menjadi panik. "Maksud kamu, Dara adalah istriku?" tanya Andi yang di sambut anggukan kecil oleh Reno.


"Dara melakukan operasi plastik agar tidak bisa di kenali?" lanjut Andi yang semakin panik. Matanya membulat besar, seperti tidak menyangkan hal ini. Tidak pernah terpikirkan oleh Andi sejauh ini.


"Lebih jelasnya, Dara di paksa di operasi plastik dari sang ayah. Tanda tangan Hansa yang menjadi bukti jika dirinya yang memintanya. Dan dokter di sana juga mengatakan, operasi plastik tersebut di lakukan tanpa persetujuan Dara yang saat itu tengah tidak sadarkan diri." ujar Reno yang memaparkan semuanya.


Jantung Andi seolah berhenti berdetak, tubuhnya terasa lemah. Andi langsung ambruk di lantai dengan mata yang melotot. Bukan karena dirinya terkejut dengan penuturan Reno, tetapi apa yang di lakukannya terhadap Dara barusan.


Rendy yang terbangun dari tidurnya, turun dari mobil. Dia langsung berlari ketika melihat Andi duduk di lantai sambil menangis. Selama ini, Rendy tidak pernah melihat Andi menangis walau papanya terluka.


"Papa..." Teriak Rendy yang memeluk erat Andi.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Reno yang memegang pundak Andi. Reno bingung melihat tingkah Andi. Seharusnya Andi senang karena berhasil menemukan istrinya. Tetapi Andi seolah tersakiti dengan kebenarannya.


"Reno, tolong aku. Aku sudah membuat Dara menderita." ucap Andi yang mendongak menatap Reno. Mata tajamnya yang selalu membius setiap musuh, kini berubah menjadi sembab, penuh air mata.


"A-apa maksud tuan?" tanya Reno yang tidak mengerti.


"Aku menangkap Dara dan membawanya ke ruang penyiksaan," jelas Andi yang terus menangis. Suara tangisannya semakin kencang.


"Apa?" Reno benar-benar terkejut. Reno sudah membayangkan apa yang di lakukan Andi ketika Dara sampai berada di ruang penyiksaan.

__ADS_1


Rendy mendengar pengakuan Andi. Dia melepas pelukan papanya dan berdiri di depan Andi. "Apa yang papa lakukan dengan Mama?" tanya Rendy dengan suara ingin menangis.


Anak yang hampir masuk enam tahun itu, sudah bisa mengerti apa yang di maksud ruang penyiksaan. Terlebih Rendy yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.


__ADS_2