Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 64


__ADS_3

Rendy sedang sibuk bermain di depan teras rumah, Nenek Dara datang membawakannya minuman dan makanan ringan. "Nak, Rendy makan dulu baru kembali bermain!" perintah Nenek Dara ramah.


Rendy tersenyum, dia mengambil makanan ringan yang di bawakan Nenek Dara. Tanpa mereka berdua sadari, sebuah mobil silver yang sedang meninjau tempat tersebut. Alisnya berkerut ketika melihat anak kecil tak di kenalnya sedang bermain di depan teras rumah. "Siapa dia?" tanyanya pada sopir yang mengantarnya.


"Entahlah, Pak. Aku dan anda baru sampai, jika anda tidak tahu, aku lebih-lebih, Pak." jawab Pak Sopir yang ikut mengamati Rendy.


Orang tersebut melirik sopirnya dengan tatapan tajam, Pak Sopir hanya menunduk takut. "Siapapun dia, bukan urusanku. Aku mau mengambil Dara dan menjadikannya istri sebelum Andi mengetahui siapa Dara sebenarnya. Dia pasti tidak akan melepasnya jika tahu identitas Dara." katanya yang menepuk pundak sopirnya.


"Lanjut pergi," ucapnya yang membuat sopirnya pergi setelah menerima perintah.


Setelah kepergian mobil silver, mobil hitam berhenti dan memantau rumah Nenek Dara. Andi keluar ingin masuk, tetapi dia menghentikan niatnya ketika melihat Rendy yang asyik bermain mainan yang sudah usang. Andi menjadi terheran, setaunya Rendy tidak pernah bermain mainan walau banyak mainan yang bagus di rumahnya.


Andi menatap seorang nenek-nenek yang sudah memutih rambutnya. Andi terkejut melihatnya, dia nenek-nenek yang pernah membantu Dara lahiran. Dia juga yang memberikan Rendy padanya dan memberitahu kabar jika Dara meninggal. "Kenapa bisa kebetulan?" tanya Andi yang bingung.


Andi masih berhenti di depan pagar, dia tidak melangkah menghampiri Rendy. Ketika ponsel Nenek Dara berdering, dia menjauhi Rendy untuk mengangkat teleponnya. "Halo, bagaimana Dara, apa kamu sudah menemukan ayahmu?" tanya Nenek Dara dengan suara khawatir.


"Kenapa bisa Dara, ayahmu memangnya ke mana?"

__ADS_1


"Tenang saja, Rendy baik-baik saja di sini. Kamu temukan ayahmu terlebih dulu," ucap Nenek Dara yang mengakhiri panggilan teleponnya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Diam-diam Andi mendengar pembicaraannya.


Andi masuk ke dalam mobil, menelpon Reno. "Ren, kamu cari tahu lokasi Dara sekarang!" pintah Andi yang memutus panggilannya setelah mengatakannya.


Ting.


Sebuah pesan masuk, Andi tersenyum. Dia kemudian menyuruh sopir untuk mengantarnya sesuai lokasi yang di kirim Reno. Ketika sampai di sana, Andi turun sendiri. Dia sengaja tidak membawa mobil dan berjalan mencari Dara. Tempatnya begitu sepi, tidak ada orang yang lalu lalang. Hanya rumah mewah yang tersusun rapi.


Andi kemudian berhenti, ketika melihat Dara masuk ke rumah mertuanya. 'Jadi benar dugaanku, Dara adalah orang suruhan mertuaku yang memata-matai diriku dan Rendy. Aku tidak akan mengampuninya.' guman Andi yang mengepal tangannya.


"Kenapa kau datang ke sini, apa butuh bantuan?" tanya Hansa yang tahu jika putrinya pasti akan mencarinya jika hidupnya dalam masalah.


"Tidak, aku datang ingin mencari ayahku. Katakan padaky, di mana dia?" teriak Dara yang menggema di ruangan.


Walau gugup, Dara berusaha menutupinya. Bersuara tegas agar Hansa tidak mudah menipu dirinya. Hansa malah tertawa. "Kau mencari ayahmu di rumahku?" ejek Hansa.


Hansa terlihat membosankan untuk Dara, tetapi di dalam hatinya, dia sangat memeluk putri satu-satunya yang sudah lama dia tidak lihat. 'Aku ayahmu, putriku.' guman Hansa dengan wajah datar.

__ADS_1


"Kau menyembunyikan keberadaan ayahku?" tanya Dara kembali.


Hansa menghiraukannya, dia kembali membaca koran dan duduk dengan santai. "Usir dia dari sini, menganggu sekali," ucap Hansa yang memberi perintah pada anak buahnya.


Anak buahnya menyerat kasar Dara keluar dari rumah. Hansa melihatnya, dia sebenarnya tidak tega, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau bukan karena Dara yang keras kepala memilih Andi daripada orang yang di pilih Hansa, semuanya tidak akan begini. Hansa tidak akan segan-segan bersikap sadis pada Dara.


"Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri." ucap Dara yang memberontak. Anak buah Hansa melepas tangan Dara ketika mendapat kode dari tuannya.


Dara berjalan keluar, tetapi ketika sampai di dekat pintu, Dara menoleh menatap Hansa. "Aku tidak akan tinggal diam jika kamu berani melukai ayahku. Karena dia sangat menyayangiku, tidak pernah membuat aku kesulitan dan tidak pernah melukai diriku hanya karena egonya." sindir Dara yang sengaja mengatakannya.


Hansa termenung mendengar ucapan Dara, dia mulai berpikir jika ingatan Dara sudah kembali. 'Ah, tidak mungkin. Jika ingatannya sudah kembali, Dara pasti tidak akan memanggil Ramadhan ayah. Karena aku adalah ayah kandungnya.' guman Hansa menyangkalnya.


Ketika Dara keluar, dia berjalan menghampiri motornya. Tiba-tiba saja, saat Dara ingin menaiki motornya, seseorang membiusnya dari belakang. "Hmmmpp..." Dara berusaha memberontak sebelum akhirnya dirinya pingsan.


Dara sudah pingsan, dia membawa Dara masuk ke sebuah mobil yang sudah di siapakan. Andi mengetik sebuah pesan dan mengirimnya pada seseorang. "Tuan, aku sudah selesai membawa Dara." kata sopir Andi.


"Simpan di bagasi mobil, dia lebih baik menderita karena sudah berkhianat padaku." ucap Andi yang tidak mengalihkan pandangannya. Dia masih fokus ke arah ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2