
Andi keluar dari markas bersama Reno, mereka mencari Rahmat. Andi sangat berharap, Rahmat masih berada di sekeliling markas. Dan benar saja, ketika Andi berkeliling, dia melihat Rahmat berserta dua anak buahnya. Tanpa rasa malu, Andi berlari menghampiri Rahmat dan memeluknya dengan erat. "Rahmat! syukurlah, kamu masih ada. Hampir saja aku terlambat." ucap Andi yang menangis.
Rahmat memandang Reno, dia tidak mengerti dengan sikap tuannya. Tiba-tiba saja menangis di pundaknya. "Maaf, Tuan. Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rahmat dengan suara hati-hati, takut menyinggung perasaan tuannya.
"Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah," ucap Andi yang masih menangis tersedu, dia sampai belum melepas pelukannya.
Setelah beberapa menit berpelukan dengan Rahmat, Andi melepasnya sendiri. Wajahnya langsung ceria. Andi menoleh ke sana sini, mencari keberadaan Dara. "Rahmat, kamu memindahkan istriku di mana?" tanya Andi seketika.
Anak buahnya saling memandang dan menaikkan bahu, mereka tidak tahu apapun. Terlebih Rahmat yang di tanyai tentang istri Andi, tentu saja tidak tahu. Mereka tidak kenal sama sekali. "Maaf, Tuan. Aku tidak tahu maksud tuan Andi. Aku berlum pernah bertemu istri tuan. Kecuali kalau istriku, mungkin aku bisa jawab. Dia pasti berada di rumah sedang menunggu kepulanganku." jelas Rahmat yang senang memikirkan keluarga kecilnya.
"Aku tidak bertanya tentang istrimu!" teriak Andi protes.
"Iya, tuan. Tetapi aku tidak tahu tentang istri tuan." jawab Rahmat dengan lugu.
"Jadi begini, orang yang kamu siksa tadi adalah istri tuan Andi. Namanya Dara, kalian pindahkan ke mana?" tanya Reno yang membantu.
"Loh, kok bisa tuan Andi menyuruh istrinya sendiri. Apa karena dia selingkuh sama tuan Andi tidak terima makanya memnawanya untuk di siksa?" Rahmat seolah tidak percaya.
"Atau jangan-jangan istri tuan Andi hamil dengan laki-laki lain, makanya menyuruh kami untuk membunuhnya?" timpah anak buahnya.
Andi mengepal tangannya mendengarnya, dirinya geram seketika. "Kalian semua diam! kalian tidak tahu apapun mau nuduh segala. Aku baru tahu jika dia adalah istriku yang meninggal." Bentak Andi.
__ADS_1
"Pantas. Istri tuan Andi sudah meninggal. Jadi yang kami bawa tadi adalah hantunya, tuan?" tanya Rahmat yang masih mencari masalah walau Andi sudah menjelaskannya.
"Apa kamu bilang!" tunjuk Andi, kemudian memegang kerah baju Rahmat.
"Ma-maaf, Tuan. Aku khilaf." ucap Rahmat seketika. Keberaniannya langsung menciut.
Andi melepasnya, marahnya dia tahan. Demi bertemu Dara secepatnya. "Katakan di mana istriku?" kata Andi yang kini sudah mengontrol suaranya.
"Maaf tuan," tunduk Rahmat saat mengatakannya.
"Hei, aku tidak menyuruhmu minta maaf, katakan di mana istriku sekarang!" ucap Andi yang mendengar penuturan Rahmat.
"Tu-tuan Andi menyuruh kami membuangnya ke laut. Tentu saja kami melakukannya sesuai perintah tuan Andi." ucap Rahmat dengan suara perlahan, hampir saja tidak terdengar.
"Kau!!" Teriak Andi yang sudah tidak bisa menahan emosinya yang kembali meluap.
"Maaf, tuan. Anda yang memerintah kami dan kami pun melakukannya. Perintah anda sangat mutlak untuk kami." ucap Rahmat menjelaskan.
Andi kehilangan kata-kata, dia sampai tidak tahu harus menjawab apa. Andi langsung duduk di tanah, memejamkan matanya. Nasibnya begitu sial, dia terlalu gegabah bertindak tanpa berpikir. Mungkin ini adalah kesalahan terbesar baginya seumur hidup.
"Tunjukkan pada kami, di mana kalian membuangnya!" perintah Reno yang mengambil alih bertanya.
__ADS_1
"Aku akan mengantarnya, semoga dia masih bisa selamat." Ucap Rahmat yang mengerti bagaimana perasaan tuannya.
Secepat kilat, Andi langsung bangkit. Dia harus mencoba kesempatan setitit pun walau ujungnya harus di khianati oleh harapan.
Dua mobil melaju ke tempat pembuangan Dara di laut. Andi terus berdoa meminta agar istrinya masih selamat. Tetapi, saat tiba di sana. Tanpa berpikir pun, semua orang bisa menduga jika Dara telah meninggal. Tinggi lereng ke bawah laut hampir membuat semua orang yang melihat ke bawah takut.
Andi menghela nafas, harapannya telah pupus. Niatnya ingin membuat Dara di makam ikan hiu bisa tercapai. "Tiiidaaakkkk...." teriak Andi yang menatap laut yang membiru gelap. Menandakan sangat dalam, sedalam rasa sakit hati Andi.
"Kita sebaiknya pulang. Aku akan menghubungi tim penyelam kita untuk mencari keberadaan Dara, semoga saja ada keajaiban, Dara masih bisa kita selamatkan." Kata Reno yang melihat Andi hilang asa.
"Maaf, tuan Reno. Tetapi aku rasa kita hanya bisa menemukan mayat istri tuan Andi. Kemungkinan sangat kecil jika dia masih hiduo setelah terjun ke laut. Hiu pasti akan menyambutnya." kata Rahmat yang berterus terang.
Reno menepuk jidatnya. Dia juga tahu kemungkinannya akan sangat kecil, tetapi Reno menenangkan Andi yang sudah seperti orang sekarat. Rahmat malah membuatnya kacau.
"Aku di sini saja, Ren. Aku mau mencari Dara sampai ketemu." kata Andi dengan suara perlahan.
"Tuan Andi mau terjun ke laut agar di makam hiu?" teriak Rahmat yang terkejut.
"Hei, jangan asal bicara kamu. Tuan Andi tidak mungkin melakukannya." Ucap Reno yang langsung melotot menatap Rahmat.
"Ya, siapa tau. Tuan Andi kan sudah bersalah menyuruh kami membuang istrinya ke laut?" ucap Rahmat membela diri.
__ADS_1
Reno memilih diam, dia tidak mau menambahkan perdebatan dengan Rahmat. Andai hanya Reno dan Rahmat di sini, sudah dia dorong ke laut untuk mencari Dara. Tetapi, Reno masih punya kesabaran karena tuannya berada di depannya.