
"Bantu apa?" Tanya Ardi dengan penasaran.
"Kau jaga baik-baik rendy. Jangan biarkan seseorang menyakitinya" Kata rio dengan serius membuat Ardi membulatkan matanya tidak percaya.
"Kau ini bicara apa? aku tidak mau mengurus anak kecil ini. Hanya kali ini saja"
"Kau tidak melihat dirimu yang lebih ahli mengurus anak kecil. Lihat saja, anak itu makan dengan lahap" Rio terus memuji Ardi agar berubah pikiran.
"Aku juga ahli membuat dia menangis. Lihat ini" Kata Ardi kemudian mengambil burger rendy. Dia ingin rendy segera menangis, tetapi ekspresi rendy hanya terkejut dan terus memandang Ardi.
"Anak kecil, kau liat apa?" Bentak Ardi.
Rendy seketika menunduk, tetapi tidak menangis. Dia terus menunjuk beberapa menit, membuat Ardi tidak tega. Dia kemudian mengembalikan burger rendy. Rendy memakannya kembali sisa burgernya.
Rio yang melihatnya hanya tersenyum. Sudah dia duga, Ardi tidak akan menyakiti rendy.
"Puas kau tertawa, jangan berpikir aku tidak bisa melukai anak-anak" Katanya sambil duduk.
"Aku mengerti, kau tidak perlu mengulangnya" Kata rio.
"Tetapi untuk apa kau menyuruhku mengurusnya?"
"Itu rahasia, orang bodoh tidak boleh tau"
"Jadi kau mengangapku bodoh?"
__ADS_1
"Boleh dibilang ya"
"Terserah, jangan harap aku mau berteman denganmu" Kata Ardi memalingkan pandangannya seperti anak kecil yang sedang marah.
Rio hanya tertawa melihatnya, bukannya membujuknya. Ekspresi Ardi mengingatkannya pada adiknya, diaman ketika Reno ingin bermain dan tidak diizinkan dengan sang kakak. Dia akan ngambek seperti yang dilakukan Ardi.
****
Di tempat lain, Andi terus memondar mandir di markasnya. Sampai sekarang, anak buah reno belum juga melapor tentang keberadaan rendy.
"Reno, kau yakin sudah menyuruh anak buahmu dengan becus?" Kata Ana yang sudah tidak bisa sabar lagi.
"Tuan sebaiknya istirahat dulu. Aku yakin, dia akan segera melapor"
"Tuan sabar yah, aku yakin sebentar lagi dia akan melapor" Reno terus menenangkan tuannya.
Andi menghela nafas, dia menuruti kemauan reno. Dia kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.
Tiba-tiba, ponsel reno berdering. Andi yang mendengarnya langsung berdiri.
"Halo, bagaimana? kau sudah dapat kabar?" Tanya Reno langsung ke intinya. jika tidak, singa yang berdiri di belakangnya akan mengamuk mati-matian.
"Oke, aku akan segera ke sana" Reno mengakhiri panggilannya.
"Apa yang dikatakannya, dia sudah menemukan rendy?" Tanya Andi dengan penuh harapan.
__ADS_1
"Anak buahku berhasil melacak ornag yang membawa rendy. Mobilnya terparkir di depan sebuah kosan. Apa tuan Andi mau ke sana?"
"Kenapa kau malah bertanya. Jelas aku akan ke sana menemui anakku" Kata Andi dengan marah. Bisa-bisanya dia mendapat pertanyaan bodoh seperti itu.
"Sekarang tuan andi?" Reno terus bertanya.
"Aku bunuh kamu di sini jika bertanya lagi. Jelas sekarang, aku takut dia melukai rendy"
Setelah mendapat ancaman yang mengerikan, Reno buru-buru menyiapkan mobil.
Tidak cukup beberapa menit, mereka sampai dialamat yang sudah di berikan anak buah reno. Bahkan mobil yang terparkir di depan kosan masih ada.
Reno mengetuk pintu berkali-kali tetapi tidak ada yang membuka pintu. Reno mengintip di jendela, tidak ada orang yang berada di dalam. Dia kemudian melapor pada Andi.
"Tuan, sepertinya orangnya sudah kabur. Tidak ada orang didalam kosan"
"Itu semua salahmu, kau sangat lambat mengemudi. Banyak pertanyaan, mulutmu juga tidak bisa diam" Andi merasa kesal. Dia tidak menemukan rendy.
Yang mendapat amukan hanya diam, tidak berani bicara. Walau apa yang dikatakan Andi tidak semuanya benar.
"Perasaan aku dari tadi diam, tidak bicara jika tidak penting. Aku rasa, tuan andi sudah stres kehilangan putranya" Guman reno di dalam hari.
"Dimana kamu rendy, papa sangat khawatir" Kata Andi terus menyebut nama rendy.
Tidak lama, Rio sudah datang. Dirinya kaget ketika melihat sebuah mobil yang berada di depan kosannya. Rio merasa penasaran, mobil milik siapa itu?
__ADS_1