
Di ruang penyiksaan, Rahmat meneguk ludahnya. Dia merasa sangat kasihan dengan Dara jika harus membuangnya di tengah laut terlebih tubuhnya di makan hiu. Belum melakukannya saja membuat Rahmat ngeri memikirkannya.
"Bos, apa yang di katakan tuan Andi?" tanya salah satu anak buahnya yang melihat Rahmat menatap Dara dengan mata berkaca-kaca.
Rahmat langsung memeluk anak buahnya. "Apa yang harus aku lakukan? tuan Andi meminta kita membuang dirinya di laut agar bisa di makan hiu. Dengan begitu, anak malang ini tidak bisa hidup lagi dan tidak menganggu keluarga tuan Andi." jelas Rahmat yang terbawa suasana.
"Benarkah, Bos? ngeri sekali. Aku heran, apa yang di lakukan gadis ini, sampai membuat tuan Andi marah besar dan berniat membuang dirinya ke laut. Sebelumnya, tidak ada musuh yang pernah di perlakukan sadis seperti ini." ucap anak buah Rahmat ikut menangis.
"Kamu jangan ikut menangis, aku nanti ikutan juga." kata anak buah lainnya.
Dara samar-samar mendengar dan melihat apa yang di lakukan Rahmat beserta anak buahnya. Hati Dara terkikis sangat, sakit di tubuhnya bertambah seketika. Dara pikir, orang-orang di depannya hanya bercanda ketika mengatakan Andi yang melakukannya. Ternyata benar, memang Andi yang selama ini Dara kenal.
Senyum tipis Dara terukir di bibir yang penuh luka dan Dara. Wajahnya yang pucat dan keunguan bekas pukulan, tidak membuat kecantikan Dara memundar. 'Mungkin ini yang kau minta Andi sampai tega melakukan ini padaku. Tetapi, tidak apa. Yang jelas, aku sudah bertemu dengan anakku walau tidak terlalu lama. Walau aku tidak punya waktu untuk mengurusnya sejak kecil. Aku senang ketika anakku memanggilku Mama, semoga nanti dan seterusnya dia tidak akan melupakanku walau aku sudah tidak ada. Rendy, kamu adalah anak kesayangan mama yang paling berharga. Maaf jika Mama tidak bisa memberikan kasih sayang sebagai seorang ibu.' guman Dara sebelum tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Rahmat mulai melepas pelukannya. Dia kembali beralih menatap Dara. "Sudah bersedihnya, kita jalankan tugas kita. Jika tuan Andi tahu kita tidak melakukannya, malah kita yang akan di lepas di laut di makan hiu." Ucap Rahmat yang melepas ikatan Dara. Anak buahnya ikut membantu. Mereka akhirnya menjalankan perintah Andi.
__ADS_1
...----------------...
"Lalu, di mana Dara sekarang?" tanya Reno yang menatap Andi lekat. Reno bahkan sama sekali tidak tahu rencana Andi. Tidak ada satu pun anak buahnya yang memberi kabar.
"Astagfirullah Al-azim..." Kata Andi yang langsung beranjak.
Reno dan Rendy saling menatap, mereka bingung melihat Andi. Andi mengambil ponselnya, buru-buru menelpon Rahmat. Dia lupa jika dirinya menyuruh Rahmat membuang Dara di laut.
Tut... Tut... Tut...
Rahmat tidak mengangkat telepon Andi. Wajah Andi tegang, pikirannya tidak bisa tenang. Reno yang sedang menyimak, tidak bisa menahan kesabarannya lagi. "Andi, kamu menelpon siapa?" teriak Reno yang tidak memanggil tuan lagi.
"Tentu saja yang panik, aku menyuruh Rahmat membuang Dara ke laut agar di makan hiu. Kalau Rahmat melakukannya, aku tidak punya kesempatan lagi bertemu istriku." Ucap Andi setengah berteriak.
Deg
__ADS_1
Deg.
Jantung Rendy berdetak kencang mendengar mamanya akan di buang ke laut. Rendy memegang kaki papanya, memohon-mohon. "Pa, jangan buang mama ke laut. Rendy tidak bisa hidup tanpa Mama. Sejak kecil, Rendy tidak pernah mendapat kasih sayang Mama. Kenapa sekarang saat Rendy mendapatkannya, Papa malah mau membuangnya. hiks... hiks.... hiks..." Tangis Rendy pecah di susul air kata haru Faul yang baru datang ketika mendengar suara keributan di teras rumah.
"Kak Andi! kurang kerjaan, sampai-sampai membuat anak sendiri menangis. Aku sebagai pamannya, tidak terima!" teriak Faul yang memukul wajah Andi.
Andi mundur beberapa langkah akibat pukulan Faul. Ini kali pertamanya mendapat perlawan dari adiknya. Faul meraih tangan Rendy dan mengendongnya masuk ke dalam rumah. Walau Faul tidak mengerti apa permasalahannya, tetapi dia tetap marah ketika melihat Rendy berlutut memohon-mohon di kaki Andi.
Andi menarik Reno pergi dari sana. Reno bingung, dirinya seperti di culik, main di masukan ke mobil tanpa aba-aba. "Kita mau ke mana, Tuan Andi?" tanya Reno yang melihat Andi melajukan mobilnya dengan ngebut.
"Ke tempat penyiksaan, semoga saja Rahmat masih di sana dan belum membawa Dara." jawab Andi tanpa menoleh sama sekali. Dia fokus menyetir. Sopirnya yang tadi, dia hempas begitu saja keluar dan menggantikannya dengan dirinya.
Ketika sampai, Andi dan Reno turun sambil berjalan tergesah-gesah. Andi langsung masuk ke ruang penyiksaan di mana sebelumnya dia melihat Dara di ikat di sana. Tetapi, ketika pintu terbuka, ruangan penyiksaan terlihat kosong. Dara yang terikat pun sudah tidak ada. Wajah Andi menjadi panik. "Reno, Dara sudah tidak ada!" teriak Andi yang tidak tahu harus berbuat apa. Dia mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.
"Aku tahu, Tuan. Aku pun melihat Dokter Dara sudah tidak ada di sini. Mungkin, Rahmat sudah membuang Dara ke laut." jawab Reno menduga.
__ADS_1
"Tidak... Ren, itu tidak boleh terjadi."
"Harus bagaimana lagi, Tuan. Anda yang memberi perintah, tentu saja Rahmat akan menjalankannya secepat mungkin." tambah Reno yang semakin membuat Andi bersalah setengah mati. Ingin rasanya, Andi menyiksa dirinya sendiri di tempat penyiksaannya.