
Pagi sekali, Andi mendapat telepon dari anak buahnya. Dia langsung mengangkatnya, mengira jika ada kabar dari Dara. "Apa Dara sudah di temukan?" tanya Andi dengan suara sedikit tenang.
"Maaf, Tuan Andi. Kami memberitahu bukan mengenai Dokter Dara, tetapi kami mendapat telepon dari polisi jika Ramadhan melaporkan Dara yang hilang." jelas anak buah Andi.
"Lalu, apa tanggapan polisi?" tanya Andi yang mengeritkan alisnya.
"Belum, tuan. Mereka menunggu keputusan Tuan Andi terlebih dulu sebelum bertindak." ucap anak buah Andi dari seberang telepon.
"Bagus. Turuti apa mau mereka." ucap Andi yang memberikan persetujuan.
"Baik, Tuan. Aku akan memberitahu polisi untuk mencari keberadaan Dara sekarang juga."
"Iya. Pastikan jika mereka tidak curiga sama sekali." ucap Andi menutup panggilan teleponnya.
Andi menutup matanya, membayangkan dirinya yang selalu menatap wajah ketika bersamanya. Dia mulai menyesal, kenapa tidak menyelidik Dara terlebih dulu sewaktu dirinya merasa familiar dengannya. Dia juga bodoh, Rendy selalu memanggil Dara sebagai Mama padahal Rendy tidak pernah memanggil siapapun seperti itu sebelumnya. Ikatan batin antara anak dan ibu memang kuat.
"Akhhh..." Teriak Andi yang membuang barang-barangnya di atas meja jatuh berserahkan.
Kebetulan, Rendy sedang lewat dan mendengar suara Andi yang berteriak. Dia langsung membuka pintu kamar Papanya. "Papa, tidak apa-apa?" tanya Rendy yang memegang gang pintu. Dirinya terkejut melihat banyak sekali benda berserakan di lantai.
__ADS_1
Andi menoleh, dia berlari menyambut putra satu-satunya dan memeluknya dengan erat. Hanya kehangatan Rendy yang bisa membuat emosi Andi menghilang.
"Maafkan, Papa." bisik Andi dengan bibir yang bergetar.
"Tidak apa, Pa. Rendy pasti akan memaafkan kesalahan Papa, asalkan kesalahan Papa masih wajar untuk bisa di maafkan." jawab Rendy yang menggembangkan senyumannya.
Andi tersenyum mendengarnya, dia menatap lekat-lekat wajah anaknya di depannya. Berselang lama, Faul datang sambil membawa buah-buahan untuk kakaknya. Dia langsung berlari ketika melihat Andi yang memeluk Rendy. Air mata haru keluar dari mata Faul. Sudah lama dia tidak melihat Andi memeluk Rendy walau hanya sebentar. Andi selalu sibuk dengan pekerjaan. Faul pun ikut memeluk Rendy dan Andi.
"Uncle juga ikutan?" sindir Rendy yang melihat Faul memeluknya dari belakang.
"Tentu saja. Uncle kan masih keluarga dengan kalian." jawab Faul yang semakin mempererat pelukannya. Rendy hanya menggeleng kepalanya.
Di tempat lain, seorang perempuan membuka matanya perlahan. Dia mulai bangkit sambil memegang kepalanya yang terasa sakit dan di lilit perban. "Aku di mana?" tanyanya dengan suara dingin.
Dara mengangguk, menatap pria yang tidak dirinya kenal. Dia bingung melihat pria tersebut. Tanpa menunggu waktu lama, pria tersebut mengulurkan tangannya. "Kenalkan, namaku Haris." ucapnya dengan sopan dan lembut.
Dara meraih tangannya dan membalas uluran tangan Haris. "Aku, Dara." ucapnya yang menunduk. Buru-buru dirinya melepas tangan Haris.
"Baik, Dara. Kamu istirahat terlebih dulu, kamu masih sakit dan kesehatanmu belum sembuh total." jelas Haris yang bangkit dari duduknya, ingin segera pergi meninggalkan Dara.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Dara yang menghentikan langkah Haris. Dia kembali menoleh ke belakang, menatap Dara.
"Apa ada yang bisa aku lakukan untukmu? kau butuh apa?" tanya Haris seketika.
"Tidak, aku mau bertanya. Kamu menemukan diriku di mana?" tanya Dara yang ingatannya belum sembuh seutuhnya. Dia tidak bisa mengingat dengan jelas, kepalanya terasa sakit jika memikirkannya.
Haris tersenyum mendengarnya, dia kembali duduk di pinggir ranjang, tetapi lebih dekat dengan Dara. "Suamimu menyuruh anak buahnya untuk membunuhmu. Dia sampai tega membuang dirimu di laut agar di makan hiu." ucap Haris yang tersenyum sinis.
FLASH BACK...
Haris mengikuti anak buah Andi yang membawa Dara ke laut waktu itu. Haris mendapat informasi dari anak buahnya jika Andi bergerak dan menangkap Dara.
Haris tidak gegabah, dia tahu dirinya tidak akan mampu melawan Andi yang sangat terkenal di kalangan mafia. Untuk itu, Haris menunggu waktu yang tepat. Ketika Andi keluar dari pergi dari ruang penyiksaan, Haris sebenarnya ingin turun dan menyelamatkan Dara. Tetapi dia urungkan niatnya melihat banyak sekali anak buah Andi yang berjaga. Berhasil masuk, belum tentu bisa keluar dengan selamat.
Hampir dua jam Haris berdiri mencari jalan keluar, sebuah mobil hitam keluar dari pagar. Tanpa sengaja, Haris melihat Dara yang di bawa dalam keadaan pingsan. Haris pun mengikutinya sampai mereka di laut. Mobil yang Dara tumpangi berhenti tiba-tiba dan turun. Haris mengamati beberapa saat.
Haris mulai tahu rencana anak buah Andi yang ingin membuang Dara. Karena tidak mau mendapat masalah dengan Andi, Haris pun menelpon anak buahnya. Menyuruh penyelam untuk bersiap menunggu Dara di laut. Jadi, ketika Dara di lempar, penyelam tersebut membawa Dara ke pinggir dengan cepat sambil memberikan tabung oksigen.
Saat itu juga, Haris membawa Dara ke rumahnya. Di tempat yang aman, tidak akan di ketahui Andi dan anak buahnya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak," ucap Dara yang setelah mendengar penjelasan Haris.
"Tidak perlu minta terima kasih. Tetapi, mau kah kamu memberitahuku, apa yang sebenarnya terjadi sampai Andi sangat membencimu dan membuangmu ke laut?" tanya Haris yang membuat dirinya penasaran sedari tadi.