
"Kau ingin memberitahuku apa, sampai menganggu tidurku tengah malam. Apa ini menyangkut tentang Dara?" tanya Andi dengan tatapan mencekam ke arah Reno.
Reno meneguk ludahnya, satu kata salah saja bisa membuat dirinya mendapat amukan. "Maaf, tuan Andi. Ini benar menyangkut Dara. Seperti dugaan kita awal, Dara berada di tangan Haris." jelas Reno.
"Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Andi yang tidak mau bertele-tele.
"Dia bersembunyi di dalam kota, lebih tepatnya di rumah temannya. Anak buah kita sudah berhasil menangkap teman Haris dan dia pun mengaku. Kapan kita bisa bergerak mengepung rumah Haris?" tanya Reno yang menunggu perintah selanjutnya.
"Bagus. Kalian semua bekerja dengan bagus. Aku suka hasil kerja kalian yang membuahkan hasil. Kita pending dan tunggu sampai besok. Aku sendiri yang akan langsung datang ke sana dan mengambil Dara." kata Andi yang tersenyum.
"Tuan, senyum anda sangat manis." puji Reno, padahal di dalam hatinya dia membalikannya.
'Aku mohon tuan, berhenti tersenyum. Anda sangat menyeramkan jika tersenyum.' guman Reno.
"Kau suka melihat senyumku?" tanya Andi yang menambah senyum di wajahnya.
"Nona Dara pasti menyukainya." kata Reno yang tidak mau memberitahu jika dirinya tidak menyukainya.
"Pasti. Aku harus belajar tersenyum agar Dara mau memaafkan kesalahanku." timpah Andi yang tertawa.
Andi kembali ke kamarnya, setelah Reno pulang. Tetapi, Andi masih melihat pintu kamar Rendy yang terbuka dan belum tertutup. Andi pun berniat untuk menutup pintu kamar anaknya. Saat berjalan, sayup-sayup Andi mendengar suara Rendy yang mengingau dalam tidur.
"Mama Dara. Rendy pasti sudah bertemu dengan Mama besok, Papa sudah janji." Ucap Rendy yang tersenyum dengan mata yang tertutup.
__ADS_1
"Mama Dara, Papa selalu menepati janjinya. Awas saja, jika Papa membuat Rendy kecewa, Rendy akan marah besar." ucap Rendy yang setengah berteriak. Andi sampai meneguk ludahnya mendengarnya.
Ternyata, Rendy memang sengaja membuat Andi mendengar perkataannya. Rendy pura-pura tidur dan mengintip diam-diam pembicaraan Andi dengan Reno.
Setelah Andi menarik selimut Rendy, mencium keningnya, Andi kembali keluar dari kamar Rendy sambil menutup pintu kamarnya. Rendy baru membuka matanya. "Yes, papa pasti tidak akan membuat Rendy kecewa." kata Rendy yang senang. Dia kembali membaringkan tubuhnya untuk tidur nyenyak dan bangun pagi bertemu Dara.
Keesokan Harinya...
Andi bangun lebih pagi, bahkan matahari saja belum nampak. Dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Ketika matahari mulai terbit, Rendy terbangun. Dia berlari menuju kamar papanya. Tetapi sesampai di sana, Rendy tidak melihat papanya. "Papa Andi?" panggil Rendy yang menatap sekeliling.
Setelah mencari dan tidak menemukan Andi, Rendy berlari ke kamar paman Faulnya yang masih ngorok. "Paman, bangun. Papa hilang!" teriak Rendy pas di dekat kuping Faul.
"Ah, jangan menganggu. Aku masih mau tidur." ucap Faul yang mengeser kepalanya.
Mata Faul terbelalak, dengan perasaan Linglung, dia berlari menuju kamar Andi. Rendy ikut menyusulnya. "Ada apa, Kak?" tanya Faul ketika sampai. Tetapi, yang dia temukan hanya bantal dan guling yang sudah tersusun rapi.
"Rajin benar, Kak Andi. baru pagi, sudah menyusun batalnya." puji Faul sambil bertepuk tangan.
"Paman, papa hilang." kata Rendy memasang wajah cemberut sambil melipat kedua tangannya.
"Apa? kenapa bisa? dia kan masih besar, kenapa masih ada orang yang mau menculiknya?" tanya Faul bingung.
Rendy menaikkan bahunya, dia juga berpikir sama dengan pamannya. Tiba-tiba, Rendy kembali berlari dan masuk ke kamarnya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Papa Andi.
__ADS_1
Berapa kali berdering, Andi tidak kunjung mengangkatnya. Wajah Rendy menjadi cemberut. Faul yang melihatnya, mulai menggodanya. "Kenapa dengan keponakan terganteng paman, di kecewakan lagi sama Papa tersayang?" tanya Faul sambil mengelus perlahan rambut Rendy.
"Papa tidak mungkin mengecewakan Rendy, jelas sekali aku dengar pembicaraannya kemarin sama Uncle Reno jika dia akan bergerak pagi sekali untuk membawa pulang." jelas Rendy sambil menunduk.
"Pulang?" alis Faul mengerit.
"Iya, paman. Mama di bawa oleh seseorang yang bernama Haris. Untuk itu, Papa menyuruh Uncle Reno mencarinya. Tetapi, setau Rendy mereka sudah tahu lokasinya."
Faul tertegun mendengar penuturan Rendy. Dia sama sekali tidak tahu apapun. Biasanya, masalah Andi, Faul pasti akan tahu bahkan sampai terlibat. 'Apa ini ada hubungannya dengan mafia kakak?' pikir Faul.
"Paman Faul, cepat bawa Rendy ke rumah Mama Dara. Bisa jadi, Papa membawa Mama pulang ke rumahnya!" Perintah Rendy sambil menarik baju Faul.
"Masalahnya, Paman Faulmu ini tidak tahu di mana rumah Dara." jawab Faul sambil menatap Rendy.
"Masa sih, Paman?"
"Iya."
"Berarti, paman Faul ketinggalan info. Rendy saja tahu, di mana rumah Mama Dara. Rendy pernah ke sana." ucap Rendy.
"Apa? kapan?" tanya Faul terkejut. Seingatnya, Dara tidak pernah membawa Rendy keluar dari rumah tanpa seizin Andi dan yang jelas, Faul seharusnya tahu.
"Kemarin, saat Rendy menyuruh paman membuatkan Rendy bubur. Rendy pergi sama Mama Dara dan bermain di rumah Mama." kata Rendy berterus terang.
__ADS_1
Faul berpikir sejenak, sampai dirinya mengingatnya. "Ah, Uncle ingat. Waktu kamu menangis. Jangan-jangan, kamu di marah kak Andi karena pergi tanpa seizin?" tanya Faul yang di sambut anggukan oleh Rendy. Terjawab sudah masalah Rendy.