
POV RENDY
Rendy membuka matanya perlahan, dia merasa dirinya begitu lemah. Saat sadar, orang yang pertama rendy lihat adalah Andi. Papa tersayangnya. Di lihat juga Paman faul dan dokter dara di dekat papanya.
"Pa..pa..." Kata rendy dengan lemah, bahkan suaranya hampir tidak di dengar.
"Papa di sini sayang. Cepat sembuh biar kita bisa main bersama" Kata Andi menangis, tidak bisa menahannya.
"Ma..ma..."
Andi memandang faul dan sarah bergantian. rendy ingin bertemu dara, tetapi sejak pagi dara tidak pernah terlihat.
"Faul, kau cari dara segera. Katakan padanya jika rendy mencarinya" Bisik Andi.
"Baik kak" Kata faul berjalan sambil menarik sarah ikut dengannya.
"Kau sudah gila menarikku seperti ini?" Teriak dara ketika dirinya di tarik faul keluar.
"Rendy sabar yah, mama dara sibuk. Dia akan ke sini segera" kata Andi sambil memegang lembut rambut anaknya.
"Ma..ma..." Rendy terus memanggil dara. Dirinya cemburut dan ingin menangis ketika tidak melihat dara di sini.
"Maaf sayang, maafkan papa" Andi spontan memeluk rendy.
Rendy menjadi diam melihat papa Andi memeluknya. Dia ikut menangis.
"Papa..." Kali ini, teriakkan rendy sedikit keras membuat Andi bangkit.
"Kau istirahat dulu, paman faul sedang menjemput mama. Dia akan segera datang" Kata Andi memperbaiki posisi rendy.
"Apa yang terjadi dengan mama, kenapa dia tidak datang melihat Rendy?" Guman rendy sambil berpura-pura tidur.
Rendy mendengar suara pintu di tutup, rendy membuka matanya dan melihat papanya sudah keluar. Rendy kemudian perlahan melepas infus nya. Dia berjalan keluar dengan perlahan karena kondisinya belum penuh seutuhnya.
"Mama....Rendy datang" Guman rendy dalam hati.
__ADS_1
Ada begitu banya perawat yang rendy temui. Rendy berpura-pura berjalan santai walau rasa takutnya menyelimutinya. Perjalan perlahan sambil menunduk, hanya itu yang ada di pikiran rendy.
Seketika, rendy sudah berada di pintu keluar rumah sakit. Rendy kemudian mencari takxi, tetapi pandangannya teralihkan ketika melihat orang yang pernah menolongnya berada di dekat rumah sakit.
Rendy belari sebisa mungkin, dia tidak boleh ketinggalan dengan paman yang belum dia kenal.
"Paman...." Kata rendy sambil menarik-narik celana paman yang pernah menolongnya.
Rio terkaget ketika melihat anak kecil menarik celananya. Dia menatap lekat anak tersebut. Rio tersadar jika dia pernah bertemu dengan anak kecil ini.
"Kau rendy bukan?" Kata rio yang di balas anggukan oleh rendy.
"Rendy sedang apa di sini? apa terjadi sesuatu?"
"Mama...." Hanya kata itu yang bisa rendy ucapkan.
Rio sama sekali tidak mengerti dengan perkataan rendy, yang rio tau istri Andi sudah meninggal. Tetapi kenapa rendy mencari mamanya?
Rio masih ingin bertanya kepada Rendy, tetapi dirinya melihat Faul yang berjalan keluar dari rumah sakit. Rio menarik rendy masuk ke mobilnya, takut faul melihat dirinya bersama rendy.
"Itukan adiknya andi. Dia tidak boleh melihatku bersama rendy" Guman rio menutup rapat pintu mobilnya.
"Mama..." Kata rendy yang ke dua kalinya.
"Rio mau bertemu mama rendy?" Kata rio menebak.
Akhirnya rendy mengangguk. Rio beralih ke depan dan menyalakan mobilnya.
"Ini kesempatan bagiku untuk membawa pergi Rendy menjauh dari Andi. Tuan pasti senang" Guman rio sambil melirik rendy yang berada di belakang dengan kaca mobil.
Rendy hanya diam selama di perjalanan, dia ingin sekali bertemu dengan mama dara. Mata dara yang berwarna merah membuat rendy panik. Hal itu yang rendy ingin pastikan.
Mobil rio berhenti, dia membawa rendy turun. Rendy bingung, dirinya di bawah ke rumah yang tidak terlalu besar, hanya seluas kamarnya saja.
"Paman...."
__ADS_1
Rio mengerti maksud rendy, dia kemudian memberi penjelasan agar rendy bisa terlihat tenang dan tidak khawatir.
"Rendy tenang saja, ini kosan paman. Untuk sementara, rendy tinggal di sini dulu"
"Mama...."
"Kita akan cari mama rendy setelah istirahat. Paman lelah, butuh istirahat. Setelah itu, lanjut mencari mama rendy" Kata rio.
Rendy menurut, dia lebih dulu masuk ke kosan paman rio. Rio merasa tidak tega melihat rendy. Hatinya berkata untuk tidak memanfaatkan rendy. Tetapi dendam di hatinya terlalu besar, dia tidak terima kembaranya di bunuh oleh Andi.
"Kau akan merasakan hal yang sama Andi, aku akan membuat dirimu kehilangan orang yang sangat kamu sayangi, sama sepertiku" Guman rio sambil tersenyum sinis.
Tidak lupa rio membeli makanan dan minuman untuk rendy. Walau di bersifat jahat, apa salahnya berbuat kebaikan. Sekali-kali🤗
Dilihat rendy yang duduk bersila di lantai. Kosan rio sangat sempit dan sederhana. Tidak ada ranjang, hanya kasur yang sudah di lipat. Rio membuka nasi bungkus yang di belinya dan menyodorkan pada rendy.
"Ayo makan, setelah itu kita cari mama rendy" Kata rio membujuk rendy untuk makan. Wajah rendy begitu pucak membuat rio tidak tega melihatnya. Anak kecil ini, seperti sedang sakit.
Rendy melahap nasi bungkus yang di berikannya. Walau dia tidak nafsu makan, tetapi dirinya ingin segera bertemu mama dara.
"Ternyata kau laper juga, apa ayahmu tidak memberikanmu makan?" Kata rio sambil membuka nasi bungkusnya juga.
Rendy hanya diam menikmati makanannya. Rio menatap rendy dengan kasihan. Rio mengurungkan niatnya untuk meberitahu tuannya jika rendy berada di tangannya. Rio begitu takut jika rendy di lukai oleh tuannya.
"Aku tidak bisa memberitahu tuan jika rendy bersamaku. Bagaimana jika dia melukai anak kecil yang tidak berdosa ini" Gumam rio.
Setelah selesai makan, Rio menyuruh rendy tidur. Dia ingin rendy banyak istirahat, melihat kondisi tubuh rendy yang tidak sehat. Tidak butuh waktu lama, rendy tertidur.
Ponsel rio berdering, terpaksa rio mengangkatnya apalagi yang menelpon adalah tuan rio.
"Ya tuan, ada yang bisa aku lakukan?" kata rio, tetapi tuannya begitu marah.
"Kau bawa anak Andi padaku, aku akan menyuruh anak buahku menjemputnya. Apa kau sadar rio, kau sudah mendapatkan anak Andi tetapi tidak membawanya padaku. Kita butuh dia untuk membalaskan dendam kita"
Rio menutup teleponnya, dilihat wajah manis rendy yang tertidur terlelap. Rio merasa ragu memberika rendy pada tuannya. Apa yang rio khawatirkan bisa saja terjadi.
__ADS_1
"Aku sebaiknya berika rendy pada tuan, dia pasti tau cara untuk membalaskan dendam ini. Bodoh amat, dia anak-anak atau siapa. Yang penting reno bisa tenang di sana" Guman rio yang tatapannya seolah membunuh.
Rio tidak bisa terus menatap rendy, dia bisa berubah pikiran nanti. Rio memilih menunggu anak buah yang dikirim tuannya di luar kosan. Dia akan segera memberikan rendy pada tuannya.