
Ramadhan yang baru membuka pintu jadi terkejut mendapati dara yang tidur di depan pintu. Sontak, ramadhan melihat keadaan anaknya. Tidak biasanya dara ke rumah ayahnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
"Dara, bangun dara. Kenapa kau tidur di sini?" Ramadhan mengoyang tubuh dara untuk bangun.
Dara membuka mata secara perlahan, dia melihat wajah ayahnya. Seketika tangisa dara pecah, dia tidak bisa menahannya. Di peluk ayahnya dengan erat, membuat ramadhan semakin bingung.
"Dara, kau kenapa menangis? apa Andi melukaimu?"
Dara menggeleng, dia tidak ingin menyalahkan andi. Justru dialah yang membuat Rendy dan Andi terluka. Air matanya tidak mau berhenti. Dara memeluk ramadhan semakin erat.
"Katakan pada ayah, apa yang terjadi dan siapa yang membuatmu menangis?" Desah ramadhan karena dara tidak mau bicara dari tadi. Ramadhan semakin penasaran, dia berpikir jika Andi mengetahui rahasiannya jika dara adalah anaknya. Makanya dia menyakiti dara.
"Aku mau mati saja, aku tidak bisa hidup terus-terusan seperti ini" Kata dara diiringi suara tangisannya.
Ramadhan yang melihatnya jadi iba, ini sudah kedua kalinya dara menginginkan dirinya mati. Bahkan dara sempat bunuh diri, tetapi di halau oleh ramadhan. Dia terus membujuk dara untuk tetap hidup.
"Aku sudah membuat rendy celaka yah, Aku tidak tau harus bagaimana"
"Apa yang sudah kau lakukan pada rendy?" Tanya ramadhan yang semaki penasaran.
"Ayah, aku di kendalikan lagi. Aku membuat rendy terjatuh dari tangga dan sampai sekarang dia belum sadar"
Deg... Jangtung ramadhan serasa mau copot. Penyakit dara sudah hilang belakang ini, bahkan ramadhan mengira jika dara sudah sembuh. Kenapa sekarang kembali lagi?
Hal yang aneh, tetapi ramadhan tidak ingin memikirkan lebih jauh. Dia ingin fokus dengan keadaan psikologis dara. Bisa-bisa dara berniat bunuh diri lagi.
"Dara, sebaiknya kita masuk ke dalam. Biar kamu bisa tenang juga" Kata ramadhan menarik perlahan tangan anaknya.
Dara menurut, dia masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Bayangan ketika membuat rendy terjatuh dari tangga masih berputar di otaknya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan ayah?" Tanya dara ketika baru duduk.
Ramadhan menatap dara dengan rasa iba dan kasihan. Bagaimana bisa kejadian ini terulang kembali. Ramadhan semakin penasaran, siapa yang melakukan ini semua. Selama ini, ramadhan sudah menyelidikinya sejak lama, tetapi tidak menumakan apapun.
"Apa aku minta bantuan dengan Andi? Tetapi bagaimana jika dia tau siapa dara sebenarnya" Antara ragu dan dilema, ramadhan tidak bisa memilih. Dia tau Andi bisa membuahkan hasil, tetapi Andi akan tau rahasia keluarga ramadhan.
"Dara, kau istirahat untuk sementara di sini. Ayah akan meminta izin pada Andi"
"Tidak yah, aku harus mengakui kesalahanku pada Andi" Ramadhan terkejut dengan perkataan dara. Ramadhan tau betul siapa Andi, ketua geng mafia yang tidak punya perasaan. Jika dara mengaku, Andi bisa marah dan murka padanya. Ramadhan tidak mau dara di salahkan, yang melukai rendy memang dara tetapi dirinya di bawa kendali seseorang.
"Aku saran kan sebaiknya tidak perlu dara, kita harus cari tau siapa dalang dari semua ini. Aku takut hidupmu akan hancur"
"Tetapi aku yang salah yah, aku harus mengakuinya. Andi akan tau nanti" Kata dara semakin lemah. Dia takut jika Andi akan tau sendiri, Andi bisa marah besar. Lebih baik Andi tau dari dara, dengan begitu dara bisa mengatakan sebenarnya.
"Tidak dara, ayah tidak setuju kau melakukannya. Lebih baik kita pikirkan semua ini dengan matang" kata ramadhan melotot. Dia tidak akan membiarkan dara mengatakannya, sama saja dara menyerahkan nyawanya sendiri.
*****
"Sebentar lagi rendy akan sadar. Tolong bantu dengan doa" Kata dokter anas, dokter pribadi keluarga Andi.
Andi begitu senang mendengarnya. Air matanya jatuh karena terharu. Andi bersujud di lantai sebagai rasa syukurnya.
"Terima kasih ya Allah, kau mendengar doaku. Alhamdulillah" kata Andi tanpa berhenti bersyukur.
"Aku harus mengabari faul, dia harus tau" Kata Andi sambil menelpon faul.
"Halo kak Andi, kakak baik-baik saja? Butuh sesuatu? katakan saja padaku. Aku akan segera mengantarnya" kata faul dalam telepon yang terdengar khawatir dari suaranya.
"Sebentar lagi rendy akan sadar, cepat ke sini" Kata Andi.
__ADS_1
Faul diam seketika, dia tidak percaya keponakammya akan segera sadar.
"Aku secepatnya ke sana kak, tunggu saja" kata faul mengakhiri panggilannya.
Setelah menelpon faul, Andi kembali menelpon dara. Dara pasti khawatir dan akan senang memdengar kabar baik ini. Tetapi sayang, sudah dua kali Andi menelpon dara, Dara tidak menjawab sama sekali. Andi mulai cemas, dia keluar sebentar menelpon dara. Dia pikir jaringan yang bermasalah.
"Kenapa dara tidak mengangkatnya? padahal aku ingin memberitahu kabar baik" Kata Andi terus mengetik. Andi memilih mengirim pesan singkat pada dara.
[Sebentar lagi, rendy sadar. Kalau tidak sibuk, datang ke rumah sakit]
Pesan terkirim dan tercentang dua. Sepertinya dara belum membacanya. Andi kembali masuk ke kamar rendy, mematikan ponselnya. Dia ingin fokus menunggu Rendy sadar.
Faul buru-buru berlari, begitu senangnya dia sampai menabrak seorang dokter.
"Maaf tidak sengaja" Kata faul sambil menundukkan badannya, memberi hormat.
"Sejak kapan kau sudah sopan dengan orang lain?"
Suara yang tidak asing bagi Faul, dia mendongak dan melihat sarah di depannya. Sarah memandang heran.
"Kenapa kau menatapku, naksir?" Kata faul sambil tertawa.
"Naksir? tidak ada pria lain di dunia ini?" Kata sarah dengan ketus. Baru saja bertemu dengan faul, sudah membuat dirinya kesal.
"Astagfirullah Al-azim" Kata Faul menutup mulutnya. Sarah semakin heran, dia tidak pernah mendengar faul mengatakan istigfar sebelumnya. Sekarang mendadak jadi orang yang alim.
"Kenapa kau mengucap istigfar?"
"Aku harus segera menemui rendy. Kak Andi memberitahuku jika sebentar lagi Rendy akan sadar" kata Faul sambil berlari ke ruang rawat rendy.
__ADS_1
Sarah terkejut mendengarnya, dia jadi tau jika sikap faul berubah karena rendy. Faul pasti sangat senang, keponakannya bisa sadarkan diri. Sarah ikut berlari ke ruang rawat rendy.