Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 56


__ADS_3

Hansa tengah sibuk menelpon sambil marah-marah. Dia berapa kali berteriak keras di ruangannya. "Kalian benar-benar bodoh. Masa membiarkan anak Andi dan Ardi lolos begitu saja." ucap Hansa dengan suara meninggi.


"Maaf, bos. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin." Ujar anak buah Hansa dari seberang telepon.


"Tetap saja, kalian bodoh. Padahal tinggal sedikit lagi, aku berhasil membalaskan dendamku dengan Andi, tetapi kalian malah membuatnya kacau. Dasar anak buah tidak berguna!"


Hansa menutup panggilan teleponnya sepihak. Dia kemudian melempar ponselnya ke lantai karena kesal. "Aku yakin, pasti ada orang lain yang terlibat membantu Rendy. Ardi tidak mungkin sendiri." ucap Hansa yang menepuk jidatnya.


"Ramadhan, dia yang saat ini aku incar. Bagaimana pun, Dara harus berpihak padaku. Dia bisa membantuku untuk membalas dendam terhadap Andi." Hansa langsung tersenyum mendapat ide cemerlang.


Di tempat lain, Ardi turun dari mobil. Dia melihat sekeliling, mencari keberadaan Dara dan Rendy. "Tidak mungkin mereka tertangkap. Aku berusaha melabui musuh dan menurunkan Rendy di tempat ini. Tetapi, kenapa dia dan dokternya tidak terlihat sekarang?" Tanya Ardi yang merasa heran.


Ardi terus memperhatikan kaca spion mobil ketika melajukan mobilnya. Dia melihat sebuah mobil yang terus mendekat ke arahnya. Ketika Ardi berbelok, mobil tersebut juga mengikutinya. "Ada yang tidak beres," Guman Ardi yang mempercepat laju mobilnya.


Dara tiba-tiba menyuruhnya berhenti karena Rendy sedang kelaperan. Ardi berpikir sejenak. Dia tidak mungkin membiarkan Rendy kelaperan, tetapi jika dirinya berhenti maka sama saja membiarkan dia dan Rendy dalam bahaya. Ardi memutuskan untuk menjauhkan mobil yang terus mengikutinya dan membiarkan Rendy dan Dara turun berdua. Dia tetap berada dalam mobil agar musuh terus mengikutinya sehingga Dara dan Rendy aman. Tetapi sekarang, Ardi kehilangan jejak. Rendy dan Dara tidak berhasil dia temukan.


"Ah, sial. Rio akan sangat marah jika mengetahuinya." Umpat Ardi.


Ardi berjalan sendirian mencari keberadaan Rendy. Mobilnya sengaja dia parkir di pinggi jalan agar bisa menipu musuh. Tidak lama, Ardi melihat rombongan orang yang bersiga di dekat jembatan. Ardi bersembunyi, mengira jika mereka komplotan musuh yang ingin menangkapnya. Tetapi anehnya, mereka semua berpakaian jas. Padahal, musuh yang menyerangnya menggunakan seragam hitam lengkap. "Kenapa sekarang pakaian mereka terlihat beda?" Guman Ardi yang masih bersembunyi di balik kerumunan.


Tidak lama, Ardi melihat seseorang yang dia kenal. Ketika ingin menghampirinya, Ardi mendengar suaranya yang berbeda. "Aku sedang mencarinya sekarang. Akan aku usahakan bertemu dengannya sebelum malam." Ucapnya sambil menutup panggilan teleponnya.


"Dia bukan Rio," Guman Ardi yang mundur beberapa langkah. Dirinya tidak sengaja menabrak orang yang berlalu lalang membuat orang yang di lihatnya menoleh ke arah mereka.

__ADS_1


"Bukannya itu temannya Kak Rio?" tanya Reno yang menunjuk Ardi.


Ardi buru-buru berlari untuk menghindar. Walau Reno terus memanggilnya, Ardi tetap berlari tidak berhenti. "Hei, berhenti sebentar!!" Teriak Reno yang mengejarnya. Beberapa anak buah Reno berpencar, mereka mengejar Ardi.


Ardi meloncat sebuah pagar, berhasil membuat Reno dan pengawalnya tidak lagi mengejarnya. Ketika Ardi merasa lega, pasukan berpakaian hitam kembali menonjolkan senjata ke arah Ardi. "Akhirnya kita bertemu kembali." Ucapnya dengan tersenyum.


"Katakan, di mana anak yang kamu bawah?"


"Aku tidak tahu," Jawab Ardi yang mengangkat kedua tangannya.


"Jangan bercanda, dia masih bersama denganmu kan?" tanyanya dengan marah.


"Aku tidak tahu. Dia pergi bersama Mamanya," ucap Ardi dengan tegas.


Door..


Tembok di samping Ardi retak seketika. Tubuh Ardi gemetar, ia sangat takut kali ini. "Cepat katakan padaku, di mana anak yang bersamamu? di mana kamu sembunyikan?" tanyanya dengan serius.


Ardi meneguk ludahnya. Dia tidak mau menjawa tidak tahu lagi, kepalanya bisa pecah tertembak.


"Aku tahu dia di mana." Ucap Ardi yang ingin memancing.


"Katakan!"

__ADS_1


"Dia bersama Mamanya."


Jawaban Ardi tidak memuaskan sama sekali. Orang yang berdiri di depannya sepertinya bersiap untuk menembaknya. "Kau sudah salah berurusan denganku. Jangan salahkan aku jika kamu mati sekarang juga." Ucapnya dengan penuh penekanan.


Ardi menggeleng kepalanya, tetapi tiba-tiba saja suara tembakan terdengar.


Door...Door...Door...


Ardi merasakan tubuhnya baik-baik saja, dia membuka mata perlahan mengira jika dirinya akan menjemput maut. Tetapi, malah orang yang ingin menembaknya bersama pasukannya mati tergeletak di depannya. Orang yang mirip Rio menghampiri Ardi. Ardi mundur sampai dirinya terhenti karena menabrak tembok.


"Kau sudah aman sekarang!" Ucap Reno.


Ardi mengeritkan alisnya, menatap Reno dengan heran. "Aku utusan Kak Rio, temanmu." Jelas Reno yang mengerti tatapan aneh Ardi.


Ardi tersenyum dan memegang dadanya. Dia bisa bernafas lega sekarang. Dirinya tidak akan di incar lagi. "Lalu, di mana Rio?" tanya Ardi yang mencari keberadaan Rio. Gara-gara Rio, Ardi hampir menjemput ajalnya.


"Dia berada di markas, kau sebaiknya ikut denganku. Masih banyak anak buah musuh yang berkeliaran di sekitar sini. Takutnya nanti, kamu malah di serang kembali." Perintah Reno.


Ardi mengangguk, badannya sudah lelah untuk bersembunyi dan berlari menghindar. Akan lebih mudah baginya, jika dia mengikuti orang yang mirip dengan Rio.


"Oke, tetapi aku mau tahu di mana Rendy sekarang. Rio pasti akan marah jika aku tidak pulang bersama Rendy," Ucap Ardi yang masih mengkhawatirkan Rendy. Bagaimana pun, dia di beri tugas oleh Rio untuk menjaga Rendy apapun yang terjadi.


"Dia baik-baik saja dan berada di tempat aman. Kau bisa ke sana untuk melihatnya." Ucap Reno yang mempersilakan Ardi berjalan lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2