Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Eps. 57


__ADS_3

Ardi tiba di kediaman Andi yang di jaga dengan ketak pengawal Andi. Saat Ardi masuk ke rumah mewah tempat persembunyian temannya, dia terpukau sejenak. Tetapi suara Rio memanggilnya membuat Ardi menoleh dengan cepat. "Hei, Ardi!!" teriak Rio yang melambaikan tangan pada temannya.


Ardi berlari memeluk Rio sambil menangis. "Aku hampir mati tertembak, kau tidak datang menolongku sama sekali." Ucap Ardi yang terisak-isak. Beginilah Ardi, dia bertingkah anak kecil lagi jika bertemu dengan Rio.


"Kau hanya hampir mati, tidak mati beneran. Tenang saja, kau sudah aman sekarang. Mereka tidak akan bisa masuk menangkapmu sampai di sini." Ucap Rio menenangkan temannya walau dia malas melihat tingkah Ardi kekanak-kanakan.


"Lalu, di mana Rendy. Aku dengar dia selamat?" Ardi menoleh ke belakang Rio mencari Rendy.


"Dia masih istirahat di kamarnya. Lebih baik, kamu juga istirahat. Sebentar malam, baru kita berkumpul dan menceritakan semuanya." tutur Rio. Ardi mengangguk, dia masuk ke sebuah kamar yang telah di siapkan bersama Rio.


"Istirahat yang tenang," Tepuk Rio di pundak Ardi kemudian meninggalkan temannya.


Ardi berbaring dan tidak lama tertidur dengan nyenyak sampai malam.


Dara sedang menyiapkan makanan di meja makan, Andi datang pura-pura mengambil air padahal dia ingin memperhatikan Dara. "Kenapa melihatku?" tanya Dara yang memergoki Andi tengah menatapnya.


"Tidak, aku punya mata jadi bisa melihat siapapun." Ucap Andi yang kembali menuangkan air di gelasnya yang sudah penuh. Al-hasil, airnya meluap-luap. Dara hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Semua orang sudah berkumpul, Dara, Faul, Andi, Rio, Reno, dan Ardi. Mereka akan membahas penyerangan yang terjadi pada Rendy. "Siapapun orang yang melakukan penyerangan di bandara, tidak akan aku lepaskan dengan mudah. Lihat saja, aku akan buat perhitungan padanya walau mereka bersembunyi di sarang semut pun sekalian." Ucap Andi dengan tangan yang terkepal. Dirinya benar-benar marah. Rendy hampir mati karena ulah mereka.


"Yang menjadi permasalahannya, mereka seperti sudah bersiap untuk menyerang." Ucap Ardi.

__ADS_1


Mereka semua menandang ke arah Dara. "Aku bukan pelakunya," ucap Dara yang menggeleng kepalanya.


"Dokter Dara, ternyata kau!" teriak Faul yang mendekat ke arah Dara.


"Kau temannya Sarah. Apa aku boleh minta nomor teleponnya?" lanjut Faul dengan menyodorkan ponselnya ke arah Dara.


Andi menarik baju adik mundur. "Faul, jika kamu tidak mau serius, pergi saja. Tidak membantu sama sekali." Ucap Andi menatap tajam Faul.


"Aku serius minta nomor telepon Sarah yang baru, dia memblokirku kemarin." Jelas Faul yang tidak mau kalah.


Dua bersaudara saling menatap tajam. Yang lain tidak mau ambil pusing, mereka membiarkannya saja. "Rio, kau tahu dari mana jika aku di serang?" tanya Ardi yang menoleh ke arah Rio.


"Loh, bukannya aku sudah memberitahu tuan Hansa kalau aku dan Rendy di serang. Dia juga mengatakan untuk mengirim pasukannya ke bandara. Tetapi aku sama sekali tidak melihatnya. Apa tuan Hansa yang merencanakan semuanya?" tanya Ardi yang menduga-duga.


Andi kembali fokus menatap Rio. "Jadi, mertuaku adalah tuan kalian?" tanya Andi.


"Iya. Dia juga yang menawarkan aku pekerjaan untuk menculik Rendy. Awalnya aku ragu, tetapi dia terus membujukku dengan alasan untuk membalas dendam dengan kematian Reno." tutur Rio.


"Kak, apa hubungannya tuan Andi denganku?" tanya Reno yang baru menyahut. Dari tadi, dirinya terus menyimak pembicaraan mereka.


"Oh, aku mengerti. Mertuaku menggunakan alasan Reno untuk menjebakmu. Asal kalian tahu saja, dia mempunyai dendam denganku. Istriku meninggal pada saat melahirkan, dia menyalahkan kematiannya padaku." Ujar Andi meneruskan permasalahannya.

__ADS_1


Dara termenung ketika mendengarnya. Otaknya seperti menangkap sesuatu, tetapi dia tidak bisa mengingatnya. Kepala Dara mulai sakit memikirkannya. Dia dengan cepat memegang kepalanya. "Hei, dokter Dara. Apa kau baik-baik saja?" tanya Faul yang duduk di samping Dara.


Semua mata tertuju pada Dara. Kejadian demi kejadian terulang di otak kecilnya. Dara melihat bayangan operasi di depan matanya. "Ah...." teriak Dara yang berdiri sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Apa yang terjadi dengannya, apa dia terlihat kesakitan?" ucap Faul panik.


Rendy turun menghampiri Papanya ketika mendengar suara dokter Dara berteriak. "Mama kenapa?" tanya Rendy yang memegang kepala Dara yang duduk menunduk.


"Rendy menjauh, biar Papa bawa dokter Dara untuk di periksa." Ucap Andi menenangkan Rendy.


Faul mengambil cepat Rendy, membawanya pergi dari sana. Dara terus berteriak kesakitan. Kepalanya terasa mau pecah. Bayangan demi bayangan terus terputar di kepalanya. "Siapa aku?" tanya Dara lirih.


Dara melihat sebuah pisau di dekatnya, dia ingin mengambilnya dan menusuk kepalanya. Dirinya tidak bisa tahan dengan rasa sakitnya. Ketika pisau berada di tangan Dara, Ardi mengambil pisaunya dari Dara. "Hei, dia menjadi bodoh. Dia mau menusuk kepalanya!" teriak Ardi yang panik.


Andi memeluk Dara, berusaha menenangkannya. Biasanya orang yang mempunyai trauma akan tenang jika di peluk dengan erat. "Apa yang kau lakukan, dia tidak bisa bernapas!" teriak Rio melihat tingkah Andi.


"Dia mungkin trauma dengan sesuatu, aku berusaha menenangkannya." jawab Andi yang tidak melepas pelukannya.


"Dia dokter psikologis, bagaimana bisa mempunyai trauma. Paling, dia sakit kepala. Aku akan pergi membelikan dia obat." Kata Rio yang berjalan pergi.


Reno berlari menyusul kakaknya. Sementara Ardi duduk berdiam diri melihat Dara yang seperti di ikat dengan tangan Andi. "Wah, kalian seperti suami istri." Ucap Ardi yang bertepuk tangan.

__ADS_1


__ADS_2