
Pagi hari, Andi sudah berada di perusahaannya. Dia sudah membuat janji dengan reno.
"Maaf tuan Andi, aku sedikit terlambat" kata reno yang baru datang. Keringatnya terlihat di wajanya.
"Apa ini saatnya aku bicara tentang seseorang yang mirip dengan reno, apa reno sudah tau dia siapa? dan apa hubungannya dengan reno? Aku haris tau semua itu" guman Andi.
"Aku ingin bicara denganmu" kata Andi.
"Iya tuan, aku juga ingin memberi kabar penting"
"Kau duluan saja, katakan!"
"Begini tuan, markas kita kemarin di serang" Kata reno dengan sangat hati-hati.
"Di ssrang? bagaimana bisa?" Kata Andi dengan terkejut. Ini pertama kalinya musuh menyerang markasnya.
"Aku juga tidak tau tuan, mereka menyerang tiba-tiba. Di saat markas sepi penjaga, hanya ada beberapa yang bertugas"
"Bagaimana keadaan mereka? mereka baik-baik saja?" Tanya Andi yang khawatir.
"Mereka semua hanya luka kecil tuan, anda tidak perlu khawatir"
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, padahal kejadiannya kemarin malam" kata Andi sedikit kesal, masalah sebesar ini tidak ada yang berani menyampaikannya.
"Aku hanya tidak mau menganggu anda kemarin" kata reno.
"Cari tau siapa yang berani menyerang narkas kita, kita serang balik nanti"
"Baik tuan, akan aku kerjakan" kata reno tanpa berpikir.
"Reno, sebenarnya aku kemarin melihat seseorang yang hampir mirip de...." Andi tidak melanjutkan perkataannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Dreet...Dreet...Dreet....
Faul menelpon Andi, Andi terpaksa menahan pembicaraannya dengan reno.
"Reno, aku akan telepon dulu" Kata Andi dan di jawab anggukan oleh reno.
"Halo, ada apa lagi faul, kau tau aku sibuk?" kata Andi saat menjawab panggilan faul.
"Aku juga sibuk di sini kak, masalah di sini jauh lebih berat. Paman berteriak seperti orang gila" Kata faul yang membuat Andi bingung. Untuk apa pamannya datang ke rumahnya.
"Apa yang paman lakukan di sana?" Tanya Andi.
__ADS_1
"Entahlah kak, cepat pulang. Dia dari tadi memanggil namamu terus, aku sudah mengatakannya jika kakak tidak ada di rumah tetapi dia tidak mau berhenti berteriak. Bisa-bisa rendy ketakutan melihatnya"
"Aku akan segera ke sana, jangan sampai paman bertemu rendy, aku tidak mau rendy kenapa-napa" kata Andi mengakhiri panggilannya.
Reno hanya bisa mendegar pembicaraan Andi.
"Tuan ada masalah, apa aku bisa bantu?" Tanya reno setelah Andi selesai bicara.
"Tidak perlu, ini masalah keluarga" kata Andi sambil memakai jasnya.
"Kita bicara nanti saja"
Andi keluar, di susul reno yang berjalan di belakangnya.
"Reno, aku akan datang ke markas jika urursanku sudah selesai" kata Andi sebelum masuk ke mobilnya.
"Baik tuan"
Mobil Andi sudah menjauh dari perusahaannya, kini tinggal reno yang masih berdiri.
"Sebenarnya apa yang tuan Andi ingin bicarakan padaku, dia mengatakannya jika itu penting" Guman reno.
***
"Paman naul, sudah aku katakan berkali-kali jika kak Andi tidak ada di rumah. Dia berada di perusahaan" tegas faul.
"Aku tidak mau tau, suruh Andi pulang sekarang juga. Aku akan terus berada di sini sampai andi datang"
"Aduh, paman tidak punya kuping, aku sudah mengatakannya dari tadi jika kak Andi tidak ada di sini"
"Aku sudah mengatakannya dari tadi, jika aku tidak mau pulang sebelum bertemu Andi" tegas paman naul.
"Ini orang lebih gila daripada rendy, aku tidak punya cara untuk melawannya" guman faul yang sudah kehilangan akal.
kini mobil Andi sudah sampai di gerbangnya, faul datang menghampiri kakaknya yang baru turun dari mobil.
"Kak Andi, untung kau cepat pulang. Kalau tidak, aku sudah pingsang berhadapan dengan paman naul. Dia sangat keras kepala" oceh faul.
"Paman sedang apa di sini?" Tanya Andi.
"Huft, tidak perlu basah-basih, kau bilang pada paman, akan membantu perusahaanku. Sampai sekarang, kau belum memberi paman dana"
"Aku minta maaf paman, sepertinya aku tidak bisa membantu paman"
__ADS_1
"Apa maksudmu, kau sudah berjanji akan membantu paman"
"Aku tidak berjanji, aku hanya merasa tidak enak jika tidak membantu paman. Tetapi perusahan paman bukan lagi mengalami kebangkrutan melainkan sudah gagal total. Paman harus mulai dari awal lagi"
"Kau keponakan yang tidak tau diri, katanya mau bantu tetapi malah ingkar janji"
"lah, paman yang minta bantuan tetapi marah-marah. Sadar paman, sejak kapan paman bantu keluarga ini" Kata faul yang membuat naul semakin marah.
"Aku pukul kamu" Ancam paman naul.
"Aduh, pusing jadi paman, tidak merasa malu minta bantuan dengan orang yang sudah paman buat kesusahan" kata faul yang malah mengejek.
Paman naul mengepal tangannya, dia siap meninju wajah faul tetapi di halau oleh Andi. Faul yang mendapat serangan dadakan jadi terkejut. Dia hampir shok.
"Paman sebaiknya pulang, tidak perlu mencari masalah di sini" kata Andi menghempas tangan pamannya.
"Kenapa kalian menyuruhku, aku berhak berani di sini. Aku pernah tinggal di sini, jadi rumah ini jadi bagianku juga"
"Paman sudah di usir kakek dari rumah ini, rumah ini di berikan pada ayahku dan sekarang rumah ini sudah atas namaku. Jadi aku berhak mengusir paman" Kata Andi yang membuat paman naul tidak bisa berkata apa-apa.
Dia langsung pergi dari rumah Andi.
"Tunggu saja nanti, aku akan membalas kalian semua" teriak paman faul yang sudah berada di depan pagar.
"Hu... dasar orang gila, untung kakak usir dia. kalau tidak dia tidak akan mau pulang" Kata faul.
"Kau sudah baik sekarang? aku pikir kau ketakutan"
"kak Andi, tidak ada yang membuat faul takut. Hanya saja, tadi ada sedikit kesalahan. Kalau bukan kak Andi memegang tangan paman, aku yang akan menangkisnya dan membuat paman kesakitan"
"Tangkis tangan rendy saja kau tidak bisa, apalagi menangkis tangan paman"
"Itu beda, kalau rendy kakak pasti ikut campur"
"Rendy di mana? aku tidak melihatnya" tanya Andi.
"Dia ada di kamar, kak Andi tidak perlu menganggunya" kata faul.
"Aku harus mengecek keadaannya" kata Andi tetapi di hadang faul.
"Tidak perlu kak, dia baik-baik saja. Dokter dara yang menemaninya" kata faul.
"Jadi ada dara di sini? dia bisa di andalkan juga" guman Andi sambil tersenyum.
__ADS_1