Kehadiran Cinta

Kehadiran Cinta
Bab 71


__ADS_3

Dara pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi sampai dirinya yang di tahan di ruang penyiksaan. Haris mengangguk mendengarkan cerita Dara. Sepertinya, dia mulai paham sedikit. "Benar-benar Andi. Aku tidak menyangka dia sangat kejam, padahal kamu adalah istrinya sendiri?" ucap Haris yang menggeleng kepalanya.


Dara mengeritkan alisnya. Dia bingung, dari mana Haris yang baru dia kenal mengetahuinya. Padahal, dirinya saja baru mengetahui statusnya kemarin. "Kau tahu dari mana jika aku istrinya Andi?" tanya Dara yang menatap Haris lekat-lekat.


"Tentu saja aku tahu. Aku kenal dengan ayahmu, Hansa. Dia yang dulu menjodohkan kita berdua, tetapi kamu malah lari dan memilih Andi. Seandainya, kamu menikahi aku, bukannya memilih Andi, semuanya tidak akan jadi seperti ini. Kita bisa membesarkan anak-anak kita." Jelas Haris panjang lebar.


Dara mulai mengerti. Tetapi kata-kata Haris membuatnya teringat dengan anaknya. Dara pun bangkit, berusaha mencari nomor teleponnya. "Ada apa, apa yang kau cari?" tanya Haris yang melihat tangan dan pandangan Dara memeriksa sekelilingnya.


"Ponselku, aku mau menghubungi nenekku." ucap Dara yang panik. Dia khawatir jika Rendy mencarinya.


Haris tersenyum sinis, pasalnya dia yang menyembunyikan ponsel Dara agar tidak ada yang tahu, Dara berada di tangannya. "Walaupun kau mencarinya, tetap tidak akan bertemu. Kecuali..." Kata Haris yang sengaja menjeda perkataannya.


Dara mendongak menatap Haris bingung. "Kecuali apa?" tanyanya dengan wajah datarnya.


"Kau mau menikah denganku," jawab Haris yang membuat Dara terkejut sekaligus membulatkan matanya. "Apa?" teriak Dara spontan.

__ADS_1


"Dara, aku masih mencintaimu walau aku tahu kamu sudah menikah. Tetapi tidak ada salahnya jika kamu menikah denganku, lagian Andi sudah mengira jika kamu meninggal. Kita bisa bangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahman." ucap Haris yang tersenyum sambil memegang kedua tangan Dara.


Dara melepas dengan cepat tangannya, dia merasa jijik mendengar perkataan Haris. "Kamu, jangan berpikir jika aku mau menikah denganmu. Tidak akan!" teriak Dara memundurkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Terserah kamu, saja. Nanti juga kita akan menikah, kamu tunggu saja. Aku akan menyiapkan pesta pernikahan kita." kata Haris yang bangkit dari duduknya. Dia menatap Dara sekilas dengan senyum menggembang sebelum pergi.


Dara termenung ketika di tinggal sendirian. Dia tidak menyangka Haris bukan orang baik. Padahal, awalnya Dara mengira jika Haris adalah orang yang sopan dan baik karena telah menolongnya. "Semua orang di dunia ini, sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak pernah berbuat kebaikan sekalipun. Dia menolong, mempunyai maksud tertentu." ucap Dara yang memegang ke dua lututnya sambil menangis.


Dara mendengar suara telepon, dia bergegas menghampiri pintu kamarnya yang terkunci dari luar. Dara mendekatkan telingannya di pintu, mencoba mendengar suara deringan telepon yang mirip ponselnya.


Dara kembali duduk di tepi ranjang, berusaha memikirkan cara agar dirinya bisa lolos.


Sementara di tempat lain, Andi mendatangi rumah Hansa. Dia duduk di depan Hansa yang sibuk menelpon. "Dia tidak mengangkatnya." ucap Hansa seketika.


"Hubungi terus Haris, aku yakin dia membawa Dara. Jika sampai istriku tidak ketemu malam ini juga, nyawamu bisa ikut menghilang." Ancam Andi dengan wajah menyeramkannya.

__ADS_1


Andi mendapat informasi dari anak buahnya, jika mereka tidak menemukan tanda Dara yang jatuh ke laut. Tidak lama, para penyelam memberi kabar jika sebelumnya pernah datang seseorang menyelam di laut. Di temukan pula banyak kapal yang di gunakan di tepi laut.


Andi pun mulai bergerak dan mencari Dara. Dia yakin, istrinya selamat. Andi menuju rumah Hansa. Karena dia sangat yakin, Hansa dan anak buahnya yang bergerak menolong anak kandungnya. Tetapi sayang, Hansa bahkan tidak tahu peristiwa yang terjadi pada Dara. Hansa curiga jika Dara berada di tangan Haris, terlebih Haris sering mengintai Dara diam-diam.


"Dia terus tinggal mengangkat teleponnya meski aku menghubungi di nomornya." ucap Hansa yang melempar ponselnya ke lantai karena kesal.


"Mertua. Jujur, aku masih bisa bersabar menghadapimu setelah apa yang kamu perbuat pada Dara untuk memisahkan kami. Aku masih memanggilmu mertuaku. Tetapi, jika kali ini kamu tidak menemukan Dara sampai malam, aku tidak yakin dirimu bisa melihat matahari besok. Aku sudah memperingatkanmu kesekian kalinya. Jadi, gunakan otakmu untuk berpikir jernih sampai malam." kata Andi yang bangkit dari duduknya. Dia keluar dari rumah Hansa setelah mengancam tuan rumah.


Reno langsung membukakan pintu mobil ketika melihat tuannya berjalan menghampirinya. "Bagaimana tuan, apa kita bisa mempercayai Mertua anda?" tanya Reno yang menyetir sendiri mobil tuan Andi.


"Aku yakin, dia pasti akan segera menemui Haris. Setelah mendapat ancaman dariku. Kau harus menyuruh anak buah kita untuk mengawasi mereka." perintah Andi.


"Baik tuan. Aku sendiri yang akan mengawasi mereka demi dokter Dara." jawab Reno yang menambahkan laju mobilnya.


Sesampai Andi di rumah, Faul dan Rendy menyambut mereka di depan teras rumah. Faul terlihat panik. Ketika kakaknya turun, dengan cepat dia mengadu. "Kak Andi, Rendy sakit." teriak Faul.

__ADS_1


Andi yang mendengarnya, buru-buru memghampiri putranya yang menggunakan jaket menutupi tubuhnya. Wajah Rendy terlihat pucat, di tambah bola matanya yang menyipit.


__ADS_2